Menlu Rubio: AS Siap Berunding dengan Iran, tetapi Teheran Dinilai Belum Serius



KONTAN.CO.ID - Amerika Serikat (AS) menegaskan masih membuka peluang penyelesaian diplomatik atas konflik dengan Iran.

Namun, Washington menilai Teheran belum menunjukkan keseriusan untuk kembali ke meja perundingan di tengah konflik yang semakin mengganggu jalur perdagangan dan pasokan energi global.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan hal tersebut saat menghadiri pertemuan para menteri luar negeri ASEAN di Manila, Filipina, Rabu (22/7/2026).


Baca Juga: Harga Emas Capai Level Tertinggi 2 Minggu, Pasar Fokus ke Prospek The Fed

Pernyataan Rubio disampaikan sehari setelah tiga kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Arab Saudi menuju China dan India memutar balik di Laut Merah. Langkah itu diduga dipicu ancaman kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran.

Kelompok Houthi, yang menguasai wilayah pesisir di pintu masuk Laut Merah, pada Senin (20/7) mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.

Langkah tersebut membuka potensi front baru dalam konflik yang telah berlangsung sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Konflik tersebut kini mengancam dua jalur pelayaran energi paling vital di dunia, yakni Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb.

Selama ini, Laut Merah menjadi jalur alternatif utama ekspor jutaan barel minyak Arab Saudi setiap hari ketika lalu lintas melalui Selat Hormuz terganggu.

Baca Juga: Harga Minyak Reli: Brent dan WTI Kompak Melonjak 2% di Tengah Hari Ini (22/7)

Rubio mengatakan, AS tetap mengedepankan jalur diplomasi, tetapi meragukan komitmen Iran untuk bernegosiasi.

"Kami selalu berkomitmen pada diplomasi. Masalahnya saat ini adalah mereka tidak serius untuk berunding. Jika mereka serius, kami juga serius. Jika tidak, kami akan melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi kepentingan kami dan kepentingan sekutu kami," ujar Rubio.

Ia juga menegaskan Iran tidak boleh menguasai Selat Hormuz karena dapat menjadi preseden berbahaya bagi jalur pelayaran internasional.

Menurut Rubio, jika sebuah negara dapat mengendalikan jalur pelayaran internasional, mengenakan biaya, atau menyerang kapal yang melintas, praktik serupa berpotensi terjadi di kawasan lain, termasuk Asia Tenggara yang juga memiliki sengketa wilayah di Laut China Selatan.

Meski konflik terus meningkat, upaya diplomasi masih berlangsung. Seorang pejabat senior Iran sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran telah menerima proposal gencatan senjata selama 10 hari dari para mediator untuk menyelamatkan kesepakatan gencatan senjata sementara yang dicapai dengan AS pada Juni lalu.

Baca Juga: Bursa Asia Menguat Terbatas, Lonjakan Harga Minyak Tahan Optimisme Pasar

Selain itu, Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni juga mengunjungi Pakistan untuk meminta Islamabad melanjutkan peran mediasi.

Di sisi lain, operasi militer terus berlanjut. Militer AS pada Selasa (21/7) melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran untuk hari ke-11 berturut-turut.

Media Iran melaporkan ledakan terdengar di Teheran pada Rabu dini hari ketika sistem pertahanan udara diaktifkan.

Seorang pejabat di Provinsi Bushehr mengatakan tiga lokasi di wilayah tersebut, termasuk gardu listrik di dekat satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran, menjadi sasaran serangan AS.

Sebagai balasan, militer Iran mengklaim melancarkan serangan drone ke fasilitas militer AS di Kuwait, Yordania, dan Bahrain. Reuters belum dapat memverifikasi secara independen klaim tersebut.

Presiden AS Donald Trump mengatakan sedikitnya 18 personel militer AS telah tewas sejak konflik pecah, termasuk empat orang yang gugur dalam serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania dan Irak dalam beberapa hari terakhir.

Baca Juga: Singapura Luncurkan Obligasi Infrastruktur Hijau, Nilainya Mencapai US$ 2 Miliar

Ketegangan geopolitik tersebut terus menopang harga minyak dunia. Pada perdagangan Rabu pagi, harga minyak Brent bertahan di atas US$ 91 per barel, setelah sehari sebelumnya melonjak lebih dari 2% akibat kekhawatiran gangguan pasokan.

Houthi juga mengirim surat kepada perusahaan pelayaran yang berisi ancaman akan menyerang kapal yang memuat atau membongkar minyak Arab Saudi.

Trump mengatakan hingga kini Houthi belum menutup Selat Bab el-Mandeb, tetapi AS akan bertindak jika hal itu benar-benar dilakukan.

"Sejauh ini itu belum terjadi. Jika itu terjadi, kami akan menanganinya," kata Trump.

Penutupan penuh Bab el-Mandeb berpotensi mengganggu sebagian besar ekspor minyak Arab Saudi dan memperketat pasokan minyak global.

Sementara itu, seorang pejabat Kementerian Kesehatan Iran mengatakan sedikitnya 50 warga sipil tewas dan 500 lainnya terluka akibat serangan terbaru yang dilakukan AS.