Menperin Berharap Tambahan Gas untuk Industri Masuk Skema HGBT



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Alokasi gas bumi untuk industri akan ditambah. Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menyambut tambahan alokasi gas bumi untuk industri tersebut.

Tambahan pasokan gas tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi keterbatasan energi yang selama ini membebani pelaku usaha.

Sarmuji berharap tambahan alokasi gas tersebut dapat disalurkan melalui skema harga gas bumi tertentu (HGBT). Dengan begitu, industri tidak hanya memperoleh tambahan volume gas, tetapi juga pasokan energi dengan harga yang lebih kompetitif.


“Penambahannya nanti kita berharap itu memakai mekanisme harga gas bumi tertentu. Itu akan membuat banyak industri bersyukur. Kebijakannya baru diputuskan, jadi nanti baru kita terjemahkan sampai detail,” kata Sarmuji di Jakarta, Senin (26/10/2026).

Baca Juga: Menperin Sarmuji: Tambahan Gas Diharapkan Angkat Utilisasi Industri hingga 85%

Menurut Sarmuji, kepastian pasokan gas dengan harga kompetitif penting untuk menjaga utilisasi pabrik sekaligus memperkuat daya saing industri nasional. Keterbatasan pasokan selama ini membuat sebagian pelaku industri harus mencari sumber gas alternatif dengan harga lebih mahal.

Kondisi tersebut salah satunya dirasakan industri keramik. Sarmuji menyebut utilisasi industri keramik saat ini telah turun hingga sekitar 60% atau bahkan sedikit di bawah level tersebut akibat keterbatasan pasokan gas.

“Industri keramik itu utilisasinya bahkan sekarang mulai menurun sampai 60%, atau sedikit di bawahnya. Salah satunya karena pasokan gas yang memang terbatas oleh kuota, sehingga mereka terpaksa membeli dengan harga yang lebih tinggi,” ujarnya.

Kenaikan harga gas, lanjut Sarmuji, akan langsung meningkatkan biaya produksi dan menekan daya saing produk dalam negeri. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat mendorong pelaku industri menurunkan tingkat utilisasi pabrik.

“Kalau membeli dengan harga yang lebih tinggi, berarti competitiveness-nya akan berkurang. Dan itu mengurangi utilisasi industri, termasuk keramik,” katanya.

Berdasarkan data Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), keterbatasan pasokan gas menjadi salah satu persoalan yang menekan kinerja industri keramik nasional.

Karena itu, tambahan volume gas dinilai perlu diikuti kepastian harga dan realisasi alokasi agar benar-benar berdampak terhadap pemulihan utilisasi industri.

Baca Juga: Industri Manufaktur Kembali Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News