KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan hasil pertemuannya dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang membahas strategi memperkuat sektor manufaktur sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut Politikus Golkar itu, sektor manufaktur tetap menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Bahkan, pertumbuhan sektor ini pada tahun lalu tercatat melampaui pertumbuhan ekonomi nasional, sebuah capaian yang disebutnya baru pertama kali terjadi dalam 14 tahun terakhir. “Nah, itu menunjukkan sektor manufaktur merupakan sektor terpenting bagi perekonomian,” ujarnya ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (5/5/2026).
Baca Juga: APLSI dan AESI Sambut Proyek PLTS 1,22 GW PLN dengan Skema Tender Giga One Dalam pertemuan tersebut, kedua kementerian membedah berbagai kendala yang dihadapi pelaku industri di lapangan. Hasil identifikasi itu kemudian diarahkan untuk dicarikan solusi, baik melalui kebijakan stimulus maupun pemberian insentif. Agus juga mengapresiasi langkah Kementerian Keuangan yang telah lebih dulu membentuk tim khusus untuk mengurai hambatan usaha atau
bottlenecking. Tim ini dinilai membantu mengkanalisasi berbagai persoalan yang dihadapi pelaku usaha, tidak hanya di sektor manufaktur tetapi juga sektor lainnya. “Tadi kami berdua, Menteri Keuangan dan Menteri Perindustrian duduk, kita bedah ya berbagai macam kendala yang mungkin dihadapi di lapangan oleh pelaku usaha industri,” kata dia. Selain itu, pemerintah juga menyoroti pentingnya peningkatan ekspor manufaktur. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sekitar 75% hingga 80% ekspor nasional berasal dari produk manufaktur. Meski demikian, Agus menilai komposisi output manufaktur Indonesia masih didominasi pasar domestik. Saat ini, sekitar 80% produksi manufaktur diserap di dalam negeri, sementara hanya sekitar 20% yang diekspor. Ke depan, pemerintah membuka peluang untuk meningkatkan porsi ekspor tanpa mengorbankan pasar domestik. Strategi ini diharapkan dapat memperkuat daya saing industri nasional di pasar global sekaligus menjaga perlindungan terhadap industri dalam negeri. Agus berharap, melalui kombinasi kebijakan insentif, stimulus, serta penyelesaian hambatan usaha, kinerja sektor manufaktur dapat tumbuh lebih cepat dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.
Baca Juga: Ditopang AI, Pendapatan Bisnis Tiket Hiburan TipTip Meningkat 56% pada Kuartal I-2026 Sebelumnya dalam catatan Kontan, Kinerja sektor manufaktur Indonesia memasuki fase kontraksi pada April 2026, seiring tekanan inflasi biaya yang meningkat tajam akibat gangguan pasokan global dan dampak konflik geopolitik. Data terbaru dari S&P Global menunjukkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun dari 50,1 pada Maret menjadi 49,1 pada April, atau berada di bawah ambang netral 50. Penurunan ini menandai kontraksi pertama dalam sembilan bulan terakhir dan mencerminkan melemahnya kondisi operasional industri di awal kuartal II-2026. Faktor utama yang mendorong penurunan tersebut adalah anjloknya volume produksi, yang tercatat sebagai penurunan tercepat sejak Mei 2025. Perusahaan manufaktur melaporkan bahwa lonjakan harga bahan baku, keterbatasan pasokan, serta melemahnya daya beli konsumen menjadi pemicu utama perlambatan produksi. Di sisi lain, konflik di Timur Tengah turut memperparah tekanan, terutama melalui gangguan rantai pasok dan kenaikan biaya logistik. "Sektor manufaktur Indonesia mulai merasakan tekanan inflasi yang semakin intensif di tengah perang Timur Tengah. Perusahaan mencatat kontraksi solid pada output pada bulan April, dengan bukti anekdotal mengarah pada dampak kenaikan harga bahan baku dan kekurangan pasokan produksi," ujar Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).
Baca Juga: BPS: Mobilitas Masyarakat Kuartal I-2026 Naik 13,14%, Wisnus 319,51 Juta Perjalanan Tekanan biaya input pada April tercatat sebagai yang tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kondisi ini mendorong produsen menaikkan harga jual dengan laju tercepat dalam lebih dari 12 tahun. Selain itu, aktivitas pembelian bahan baku juga mengalami penurunan seiring berkurangnya kebutuhan produksi. Perusahaan cenderung memanfaatkan stok yang ada di tengah kesulitan memperoleh bahan baku baru. Sementara itu, persediaan barang jadi justru meningkat akibat penumpukan produk yang belum terjual. Di tengah tekanan tersebut, terdapat sedikit sinyal positif dari sisi permintaan. Pesanan baru tercatat meningkat tipis, terutama dari pasar domestik. Namun, kenaikan ini lebih didorong oleh aksi pembelian lebih awal untuk mengantisipasi kenaikan harga dan potensi gangguan pasokan, bukan karena penguatan permintaan yang berkelanjutan.
Sementara itu, pesanan ekspor justru mengalami penurunan, mencerminkan lemahnya permintaan global. Kepercayaan pelaku usaha juga ikut tertekan. Tingkat optimisme terhadap prospek produksi 12 bulan ke depan turun ke level terendah dalam lima bulan terakhir, di tengah ketidakpastian terkait durasi konflik global dan dampaknya terhadap ekonomi. Meski demikian, pelaku industri masih menyimpan harapan akan pemulihan ke depan, terutama dari peluncuran produk baru serta potensi meredanya konflik geopolitik yang saat ini membebani sektor manufaktur. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News