KONTAN.CO.ID - BOGOR. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menantang PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) untuk memperluas diversifikasi produk olahan susu, termasuk mengembangkan keju dengan cita rasa khas Indonesia dan produk es krim. Tantangan tersebut disampaikan Sarmuji saat melakukan kunjungan kerja ke fasilitas produksi CMRY di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026). “Kami hari ini berkunjung ke pabrik Cimory. Awalnya kita mengenal Cimory sebagai produsen yoghurt, tetapi sekarang sudah berkembang dengan berbagai diversifikasi produk. Tadi kami tantang Cimory untuk memproduksi lebih banyak produk turunan susu, seperti es krim dan keju khas Indonesia,” kata Sarmuji di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026).
Baca Juga: Multipolar Technology (MLPT) Bidik Peluang Bisnis Orkestrasi AI di Era Frontier AI Menurutnya, pengembangan produk olahan susu yang disesuaikan dengan karakteristik dan selera konsumen Indonesia memiliki peluang pasar yang besar. Salah satu peluang tersebut adalah pengembangan produk keju dengan cita rasa yang lebih sesuai dengan selera masyarakat Indonesia. Sarmuji menilai produk semacam itu masih belum banyak dikembangkan oleh industri nasional. “Keju yang sesuai dengan selera orang Indonesia itu belum banyak dikembangkan. Kalau bisa dibuat keju ala Indonesia, mungkin akan lebih diminati dan pasarnya sangat terbuka,” ungkapnya. Selain keju, pemerintah juga mendorong CMRY untuk mengembangkan produk es krim dan berbagai produk turunan susu lainnya. Sarmuji bahkan menantang perusahaan untuk merealisasikan pengembangan produk tersebut dalam waktu satu tahun ke depan. Direktur Manufacturing PT Cisarua Mountain Dairy Tbk, Pamungkas Bayu Triprasetyo, menyambut positif tantangan tersebut. Ia mengatakan inovasi produk merupakan bagian dari strategi pengembangan bisnis CMRY. “Cimory telah melakukan banyak inovasi dan tentunya tantangan untuk mengembangkan produk baru akan kami jalankan. Kami tidak akan bergerak hanya pada produk susu cair, tetapi juga akan meninjau berbagai produk turunan susu lainnya yang berpotensi dikembangkan di Indonesia,” ujar Pamungkas. Namun, pengembangan produk turunan susu juga masih menghadapi tantangan dari sisi ketersediaan bahan baku. Pamungkas mengatakan saat ini sekitar 20%–30% kebutuhan bahan baku susu CMRY dipenuhi dari susu segar dalam negeri. Susu segar tersebut dipasok dari peternak di Jawa Barat dan Jawa Timur. Sementara untuk memenuhi kebutuhan lainnya, perusahaan masih menggunakan susu bubuk impor. “Kami menyerap sekitar 20–30% dari total kebutuhan susu. Penyerapan ini sudah cukup maksimal karena pasokan susu segar di Indonesia masih sangat terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan lainnya, kami masih menggunakan susu bubuk impor,” jelasnya.
Pamungkas menyebut kebutuhan susu segar untuk produksi CMRY mencapai sekitar 1.000 ton per bulan. Karena itu, peningkatan produksi susu segar nasional menjadi salah satu faktor penting bagi perusahaan untuk mengembangkan bisnis dan produk turunan susu ke depan. Di sisi lain, diversifikasi produk dinilai dapat membuka peluang pasar baru bagi industri pengolahan susu nasional. Pemerintah berharap pengembangan produk tersebut tidak hanya meningkatkan nilai tambah industri, tetapi juga memperkuat penggunaan bahan baku lokal.
Baca Juga: SterlingLabs Lirik Potensi Penerapan Autonomous Enterprise oleh Pelaku Industri Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News