Mentan Amran Ancam Cabut Izin Importir Kedelai yang Ambil Untung Berlebihan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman merespons lonjakan harga kedelai yang berdampak pada para perajin tahu dan tempe di dalam negeri.

Kenaikan harga tersebut dipicu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sementara lebih dari 90% kebutuhan kedelai nasional masih bergantung pada impor.

Baca Juga: Genjot Bisnis Ritel, Autopedia Sukses (ASLC) Bidik Kinerja Tumbuh Dobel Digit di 2026


Amran mengatakan, pihaknya telah meminta para importir kedelai agar tidak mengambil keuntungan berlebihan di tengah kenaikan harga bahan baku tersebut.

“Kami sudah beritahu semua importir, tolong jangan semena-mena mengambil keuntungan,” ujar Amran dalam media briefing, Selasa (19/5/2026).

Ia menegaskan pemerintah tidak akan segan memberikan sanksi kepada importir yang terbukti memainkan harga atau mengambil margin berlebihan saat kondisi pasar sedang bergejolak.

“Kalau semena-mena, izinnya akan dicabut,” tegasnya.

Selain faktor pelemahan rupiah, Amran juga menyinggung masih adanya praktik mafia pangan yang dinilai turut memicu lonjakan harga sejumlah komoditas di Indonesia.

Baca Juga: Permintaan Rumah di Bawah Rp 500 Juta di Cibitung Masih Tinggi

Ia mencontohkan, kenaikan harga minyak goreng yang dinilai tidak seharusnya terjadi mengingat Indonesia merupakan produsen sawit terbesar di dunia.

“Minyak goreng saja bisa naik, padahal kita eksportir terbesar dunia. Karena itu satgas sudah saya minta turun untuk menindak,” katanya.

Pemerintah, lanjut Amran, akan terus memperkuat pengawasan distribusi pangan dan rantai pasok guna menjaga stabilitas harga di pasar serta melindungi pelaku usaha kecil, termasuk perajin tahu dan tempe.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News