Menteri Energi AS: Dampak Konflik Iran Terhadap Energi Bersifat Sementara



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Chris Wright mengungkapkan, dampak konflik Iran terhadap pasar energi akan bersifat sementara dan merupakan harga kecil yang harus dibayar untuk tujuan militer AS.

Serangan AS dan Israel terhadap Iran dan respons selanjutnya dari Teheran telah memperluas ketegangan regional dan melumpuhkan pengiriman melalui Selat Hormuz, mengganggu aliran minyak dan gas vital Timur Tengah dan menyebabkan harga energi naik. 

Harga minyak naik pada hari Kamis di Asia di tengah meningkatnya kekhawatiran atas penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan.


"Ini pasti akan bersifat sementara," kata Wright kepada program "Ingraham Angle" di Fox News seperti dilansir dari Reuters, Kamis (5/3/2026).

Baca Juga: China Naikkan Anggaran Belanja Pertahanan hingga 7%, Lakukan Modernisasi

"Kita memiliki pasokan minyak yang sangat melimpah di seluruh dunia, dan produksi Amerika berada pada rekor tertinggi. Jadi kita akan melewati ini, ini hanya akan menjadi hambatan kecil."

Presiden AS Donald Trump telah berjanji untuk menyediakan asuransi dan pengawalan angkatan laut bagi kapal-kapal yang mengekspor energi dari kawasan tersebut untuk menekan biaya yang melonjak.

Wright mengatakan penutupan Selat Hormuz adalah peristiwa sementara, dan Angkatan Laut AS akan segera mengawal kapal tanker minyak melalui jalur air yang biasanya mengangkut sekitar seperlima dari konsumsi minyak harian dunia.

"Kami akan melakukannya sesegera mungkin. Saat ini, angkatan laut kami, dan tentu saja, militer kami, fokus pada hal-hal lain, yaitu melucuti senjata rezim Iran ini," kata Wright, ketika ditanya apakah ada kapal komersial yang meminta bantuan Angkatan Laut AS.

Baca Juga: Bursa China dan Hong Kong Menguat Kamis (5/3), Beijing Umumkan Target Ekonomi 2026

Keputusan Trump untuk menyerang Iran dalam kampanye yang telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang pemerintahannya dituduh Trump mengembangkan senjata nuklir, kemungkinan akan meningkatkan ketidakpastian bagi perekonomian AS.

Meskipun AS lebih terlindungi dari guncangan energi dibandingkan banyak negara maju lainnya karena produksi minyak dan gas domestiknya, dampak global terhadap perdagangan, harga, dan investasi dapat kembali dan merusak prospek bullish yang berkembang untuk tahun 2026.

"Apakah kita akan mengalami kenaikan sementara seperti yang telah kita lihat pada harga bensin? Kita akan mengalaminya sedikit, tetapi saya pikir itu harga yang sangat kecil untuk menyingkirkan negara yang telah membunuh lebih banyak tentara Amerika dalam 20 tahun terakhir daripada negara mana pun di dunia," kata Wright di Fox News.