Menteri ESDM Bahlil Ajak Kampus Garap Bioetanol E20, Negara Siap Serap 4 Juta KL



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengajak seluruh perguruan tinggi di Indonesia berkolaborasi dalam mendukung implementasi program bauran energi E20 guna mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).

Program E20 merupakan bahan bakar yang memadukan bensin dengan 20% bioetanol. Pemerintah memperkirakan implementasi program tersebut membutuhkan pasokan bioetanol dalam jumlah besar.

Baca Juga: Kimia Farma Genjot Bahan Baku Obat Lokal, Ketergantungan Impor Masih Tembus 95%


Kementerian ESDM mencatat, kebutuhan bioetanol murni untuk mendukung implementasi E20 mencapai sekitar 4 juta kiloliter (KL) per tahun.

Perhitungan tersebut didasarkan pada konsumsi bensin nasional yang mencapai sekitar 40 juta KL per tahun.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Bahlil mendorong perguruan tinggi memperkuat riset dan inovasi dalam pengolahan bahan baku bioetanol berbasis komoditas lokal.

Pemerintah juga membuka peluang kerja sama antara dunia pendidikan, industri, dan masyarakat melalui skema kemitraan inti-plasma guna mengembangkan tanaman penghasil bioetanol seperti tebu, singkong, dan jagung.

Baca Juga: Universitas Amikom Yogyakarta Hadirkan Creative Economy Park

"Saya mengajak pihak-pihak perguruan tinggi bersama berkolaborasi pada Program E20. Negara akan menjadi offtaker atau penjamin pasar karena E20 membutuhkan 4 juta kiloliter. Ini bisa kita bangun dengan pola plasma inti bersama rakyat. Offtakernya jauh lebih jelas karena negara, daripada kita terus mengimpor dari Amerika atau Eropa," ujar Bahlil dalam keterangan resmi, Minggu (28/6/2026).

Selain pengembangan bioetanol, Bahlil juga mengajak perguruan tinggi berpartisipasi dalam pengembangan teknologi kompor listrik sebagai bagian dari program transisi energi nasional.

Ia mengungkapkan, Kementerian ESDM telah menyiapkan anggaran sekitar Rp600 miliar untuk program pengadaan kompor listrik pada 2027.

Baca Juga: Implementasi B50 Diawali Masa Transisi 3 Bulan, Pengamat Soroti Stok B40

"Kalau ada kampus yang mampu memproduksinya, akan kita pesan langsung pengadaannya di kampus tersebut," katanya.

Menurut Bahlil, keterlibatan perguruan tinggi diharapkan dapat mempercepat hilirisasi hasil riset menjadi produk yang siap diproduksi secara massal sekaligus memperkuat ekosistem energi baru dan terbarukan di dalam negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News