KONTAN.CO.ID – MADINAH. Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI Mochammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan meninjau kondisi Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah guna memastikan kesiapan layanan kesehatan menjelang kedatangan jemaah haji gelombang kedua dari Makkah ke Madinah. Dalam kunjungan tersebut, Gus Irfan menilai secara umum tim kesehatan telah siap memberikan pelayanan kepada jemaah. Namun, ia juga menyoroti sejumlah aspek yang perlu dievaluasi untuk meningkatkan efektivitas penyelenggaraan layanan kesehatan haji pada masa mendatang.
Menurut Gus Irfan, model operasional KKHI yang saat ini digunakan masih merupakan kelanjutan dari pola yang telah berjalan selama bertahun-tahun. Ia melihat terdapat pemanfaatan fasilitas yang belum optimal, terutama terkait penggunaan gedung KKHI yang memiliki lima lantai.
Baca Juga: Respons Cepat KJRI Jeddah Terbitkan SPLP untuk Jemaah Haji yang Kehilangan Paspor “Ruangan ini ada lima lantai tapi yang terpakai untuk kesehatan hanya dua lantai, tiga lantai digunakan untuk kegiatan lain yang sebetulnya juga memang diperlukan tapi masih bisa dialihkan ke tempat lain,” ujarnya usai peninjauan, Kamis (4/6/2026). Temuan tersebut, kata dia, akan menjadi bahan evaluasi pemerintah setelah musim haji berakhir. Kementerian Haji dan Umrah akan membahas keberlanjutan model KKHI bersama berbagai pihak terkait, termasuk otoritas kesehatan Arab Saudi. Gus Irfan mengungkapkan, berdasarkan regulasi Arab Saudi saat ini, KKHI hanya diperbolehkan melakukan observasi atau pemeriksaan pasien dalam waktu maksimal dua jam. Jika membutuhkan penanganan lebih lanjut, pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit Arab Saudi. Kondisi tersebut membuat pemerintah perlu mengkaji kembali efektivitas penggunaan gedung besar untuk fungsi yang relatif terbatas. "Ini menjadi pertanyaan bagi kita, apakah model seperti ini masih efektif atau perlu dicari alternatif lain yang lebih sesuai dengan regulasi yang berlaku di Arab Saudi," katanya.
Baca Juga: Jemaah Haji Mulai Pulang, Kemenhaj Ingatkan Jangan Bawa Air Zam-Zam di Koper Selain soal fasilitas, Gus Irfan juga menyoroti perubahan regulasi Arab Saudi yang terjadi hampir setiap tahun. Menurutnya, Indonesia masih kerap menggunakan pola layanan yang dirancang berdasarkan kondisi beberapa tahun lalu sehingga membutuhkan penyesuaian yang lebih cepat terhadap aturan baru. Ia mengungkapkan bahwa proses memperoleh izin operasional KKHI setiap tahun masih menghadapi berbagai tantangan. Bahkan, tahun ini pemerintah harus bekerja keras agar izin operasional klinik dapat diterbitkan tepat waktu. Karena itu, pemerintah berencana mendiskusikan model pelayanan kesehatan yang lebih adaptif bersama tim kesehatan Indonesia maupun otoritas kesehatan Arab Saudi. Di sisi lain, Gus Irfan menilai kebutuhan tenaga kesehatan bagi jemaah haji Indonesia masih jauh dari ideal. Berdasarkan ketentuan Arab Saudi, setiap seribu jemaah harus didukung sekitar 1,7 perawat dan 1,5 dokter. Dengan jumlah jemaah Indonesia yang mencapai lebih dari 200.000 orang, kebutuhan tenaga kesehatan mencapai ratusan dokter dan perawat. Sementara itu, pemenuhan jumlah tersebut masih menjadi tantangan, termasuk dalam proses pengurusan visa kerja bagi tenaga medis.
Baca Juga: Komnas Disabilitas Dorong Kuota Afirmasi Haji untuk Penyandang Disabilitas “
Sehingga itulah yang saya bilang bahwa kita harus bisa menyesuaikan dengan regulasi di sini, di-combine dengan kebutuhan kita untuk jamaah kita, dan itu nggak mudah," ujarnya. Meski demikian, Gus Irfan menegaskan bahwa upaya pembenahan kelembagaan tidak akan mengurangi fokus pemerintah dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia. Terkait kondisi kesehatan jemaah, ia menilai situasi di Madinah saat ini relatif terkendali. Jemaah gelombang pertama yang tiba langsung dari Indonesia sebelumnya datang dalam kondisi fisik yang masih baik. Sementara itu, jemaah gelombang kedua yang akan bergeser dari Makkah ke Madinah diperkirakan juga berada dalam kondisi lebih stabil karena telah memperoleh waktu istirahat beberapa hari setelah menyelesaikan rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Menurutnya, tantangan kesehatan terbesar justru terjadi di Makkah pada masa pasca-Armuzna. Pada periode tersebut, banyak jemaah mengalami penurunan kondisi fisik akibat kelelahan setelah menjalani rangkaian ibadah yang padat.
Baca Juga: Kemenhaj Lihat peluang Ekspor Santan Hingga Ikan Patin ke Katering Haji Arab Saudi "Kita melihat angka jemaah yang sakit maupun yang wafat cenderung meningkat pada periode pasca-Armuzna. Ini menjadi perhatian yang juga akan kami bahas bersama Pemerintah Arab Saudi ke depan," kata Gus Irfan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News