Menunggu realisasi bantuan alat pembersih (3)



Para pedagang dan penyedia jasa potong unggas tertarik pindah dari Pasar Rejomulyo ke lokasi baru di RPU Penggaron, karena sejumlah kelebihan yang ditawarkan Pemerintah Kota Semarang. Selain kios gratis dan lebih luas, lokasinya nyaman dan memiliki sanitasi modern.

Pemkot Semarang juga menjanjikan bantuan mesin pembersih unggas bagi para pemotong unggas. Sayangnya, janji tersebut belum sepenuhnya ditepati. Pengurus Paguyuban Pedagang RPU Penggaron, Abror bilang, sejauh ini, baru sekitar 20% dari total 30 kios pemotong unggas yang sudah menerima mesin pembersih unggas.

Sebelumnya, Pemkot bekerjasama dengan Kementerian Pertanian (Kemtan) menjanjikan setiap kios menerima satu unit mesin. Hal ini, sedikit banyak menimbulkan kecemburuan. Namun, kata Abror, untungnya relasi antar pemilik kios sejauh ini masih terjaga berkat adanya paguyuban. "Saya kerap memberikan pengertian kepada mereka, supaya bersabar menunggu mesin bubut. Sejauh ini mereka masih bertahan," tuturnya.


Dengan adanya mesin pembubut bulu ini, proses perontokan buluh unggas memang bisa dilakukan dengan cepat. Sebagai contoh, salah seorang penyedia jasa potong unggas, Prayogo bisa memotong 150 ekor unggas sehari hanya dengan satu pekerja. Sedangkan, jika hanya menggunakan tangan, paling hanya bisa memotong sekitar 100 ekor unggas sehari. Ini pun dengan bantuan empat pekerja.

Abror mengaku, pernah menanyakan perihal mesin bubut ini kepada Kementrian Pertanian. Kabar yang ia dapat, mesin sudah tersedia, namun pengirimannya masih terbentur birokrasi Pemkot. "Katanya, ada sejumlah surat persetujuan yang belum rampung. Mudah-mudahan puasa tahun ini, sudah bisa disalurkan," ujarnya.

Namun, lantaran lokasi RPU Penggaron terbilang baru, belum semua pedagang bisa menyesuaikan diri. Tak mudah bagi mempertahankan pelanggan lama, apalagi  menarik pelanggan baru.

Salah seorang pedagang unggas, Suranti mengaku, masih sulit mengembalikan pelanggan lama sewaktu masih berjualan di Pasar Rejomulyo. "Walaupun sudah memberitahukan kepindahan saya, tapi pesanan masih tak sebagus di tempat lama," ungkapnya.

Menurutnya, hal itu terjadi karena lokasi para pelanggannya jauh dari RPU Penggaron. Suranti pun hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Namun, pedagang lain Wiwik Rumiyati tak berpangku tangan.

Demi menginformasikan keberadaan kios barunya, ia sengaja membuat spanduk yang berisi nomor telepon dan alamat lokasi baru, yang dipasang di Pasar Rejomulyo. "Jadi, pelanggan lama tahu keberadaan lokasi baru ini, dan kalau mereka kesulitan mencari tempat ini bisa menelepon," tuturnya. Tentu saja, strategi itu terbilang berhasil. Pelanggan lama pun berdatangan.        (Selesai)                           

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News