Penggunaan pin atau bros terus meluas. Awalnya hanya kaum remaja yang memakainya untuk menunjukkan identitas aliran musik atau mempercantik tampilan topi, tas dan baju dengan gambar-gambar lucu dan unik. Kini, pin juga banyak digunakan oleh korporat sebagai media promosi.Seperti yang diungkapkan Daniel Pangaribuan, pemilik usaha Pinboo.org. Produsen pin cutting stiker yang bermarkas di Bandung itu mengatakan, penggunaan pin sebagai media promosi mulai berkembang sejak 2004. Alhasil, sejak saat itu usaha pembuatan pin kian berkembang pesat. Jumlah pelaku usahanya pun terus berbiak. Padahal, lanjut Daniel, produsen pin ini hanya berada di kota-kota besar. "Karena dulu orang beranggapan membuat pin itu susah," katanya.Meski jumlah pemain usaha ini terus bertambah banyak, bisnisnya tetap menjanjikan. Pasalnya, permintaan pin mengalami kenaikan. "Terutama, pada event-event tertentu seperti pilkada atau pemilihan pejabat di daerah," katanya. Selain itu, pesanan pin juga banyak datang dari berbagai perusahaan. Mereka memesan pin sebagai suvenir acara-acara tertentu, seperti seminar dan lainnya.Saat ini, Daniel sanggup memproduksi sekitar 250.000 keping pin setiap bulan. Banderol harga satu keping pin tergantung pada ukuran dan jumlah pemesanan. Seperti barang lainnya, semakin banyak pesanan semakin murah harganya. Misalnya, Daniel mematok harga Rp 2.500 per pin dengan diameter 5,8 cm. Harga ini berlaku untuk pesanan sejumlah kurang dari 25 keping. Nah, untuk pesanan lebih dari 100 keping, harganya bisa turun menjadi Rp 2.100. "Kalau memesan lebih dari 100 keping, harga bisa dinegosiasikan ulang," imbuh Daniel.Dengan menjual 250.000 keping pin, Daniel mampu membukukan pendapatan hingga Rp 20 juta setiap bulan. Bahkan, omzet itu bisa meningkat hingga empat kali lipat pada saat pilkada atau acara hajatan lainnya. Produksi Pinboo pun bisa mencapai maksimal satu juta keping per bulan. Pinboo menggunakan dua bahan baku pin. Yakni, bahan aluminium dan kaleng. Untuk pin berbahan kaleng, Pinboo menggunakan kaleng bekas seperti kaleng susu dan lainnya. "Selain kaleng bekas, kami juga menyediakan kaleng yang baru," ujar Daniel. Tentu saja, pin kaleng bekas ini harganya lebih murah dari pin berbahan kaleng baru. Bahkan, selisih harga antara pin kaleng bekas dan kaleng baru mencapai separuhnya. Pin digital printTeknik pembuatan pin juga mengikuti perkembangan dunia cetak-mencetak. Sunan Drajad, pemilik CV Sumber Jaya Group, produsen pin di Jakarta Timur, mengungkapkan, tren pembuatan pin mulai beralih dari teknik cutting stiker ke digital printing. Pengerjaan dengan digital printing ini lebih efisien, sehingga harga pin bisa ditekan menjadi lebih murah. "Harga pin digital printing bisa setengah dari pin cutting stiker," kata Sunan. Contohnya, untuk membuat 400 keping pin hanya membutuhkan sekitar satu meter cetakan digital print. Biaya pembuatan satu meter digital print itu berkisar antara Rp 125.000 untuk kualitas standar dan Rp 250.000 untuk kualitas terbaik. Selain itu, dengan menggunakan bahan digital printing, produsen pin tidak perlu lagi melapisi atau laminating bagian atas pin dengan plastik. Sebab, cetakan digital print sudah dilengkapi pelapisnya. Jadi, selain lebih murah, proses pembuatan dengan teknik digital print ini lebih mudah dan cepat.
Menyematkan laba pin promosi di dada
Penggunaan pin atau bros terus meluas. Awalnya hanya kaum remaja yang memakainya untuk menunjukkan identitas aliran musik atau mempercantik tampilan topi, tas dan baju dengan gambar-gambar lucu dan unik. Kini, pin juga banyak digunakan oleh korporat sebagai media promosi.Seperti yang diungkapkan Daniel Pangaribuan, pemilik usaha Pinboo.org. Produsen pin cutting stiker yang bermarkas di Bandung itu mengatakan, penggunaan pin sebagai media promosi mulai berkembang sejak 2004. Alhasil, sejak saat itu usaha pembuatan pin kian berkembang pesat. Jumlah pelaku usahanya pun terus berbiak. Padahal, lanjut Daniel, produsen pin ini hanya berada di kota-kota besar. "Karena dulu orang beranggapan membuat pin itu susah," katanya.Meski jumlah pemain usaha ini terus bertambah banyak, bisnisnya tetap menjanjikan. Pasalnya, permintaan pin mengalami kenaikan. "Terutama, pada event-event tertentu seperti pilkada atau pemilihan pejabat di daerah," katanya. Selain itu, pesanan pin juga banyak datang dari berbagai perusahaan. Mereka memesan pin sebagai suvenir acara-acara tertentu, seperti seminar dan lainnya.Saat ini, Daniel sanggup memproduksi sekitar 250.000 keping pin setiap bulan. Banderol harga satu keping pin tergantung pada ukuran dan jumlah pemesanan. Seperti barang lainnya, semakin banyak pesanan semakin murah harganya. Misalnya, Daniel mematok harga Rp 2.500 per pin dengan diameter 5,8 cm. Harga ini berlaku untuk pesanan sejumlah kurang dari 25 keping. Nah, untuk pesanan lebih dari 100 keping, harganya bisa turun menjadi Rp 2.100. "Kalau memesan lebih dari 100 keping, harga bisa dinegosiasikan ulang," imbuh Daniel.Dengan menjual 250.000 keping pin, Daniel mampu membukukan pendapatan hingga Rp 20 juta setiap bulan. Bahkan, omzet itu bisa meningkat hingga empat kali lipat pada saat pilkada atau acara hajatan lainnya. Produksi Pinboo pun bisa mencapai maksimal satu juta keping per bulan. Pinboo menggunakan dua bahan baku pin. Yakni, bahan aluminium dan kaleng. Untuk pin berbahan kaleng, Pinboo menggunakan kaleng bekas seperti kaleng susu dan lainnya. "Selain kaleng bekas, kami juga menyediakan kaleng yang baru," ujar Daniel. Tentu saja, pin kaleng bekas ini harganya lebih murah dari pin berbahan kaleng baru. Bahkan, selisih harga antara pin kaleng bekas dan kaleng baru mencapai separuhnya. Pin digital printTeknik pembuatan pin juga mengikuti perkembangan dunia cetak-mencetak. Sunan Drajad, pemilik CV Sumber Jaya Group, produsen pin di Jakarta Timur, mengungkapkan, tren pembuatan pin mulai beralih dari teknik cutting stiker ke digital printing. Pengerjaan dengan digital printing ini lebih efisien, sehingga harga pin bisa ditekan menjadi lebih murah. "Harga pin digital printing bisa setengah dari pin cutting stiker," kata Sunan. Contohnya, untuk membuat 400 keping pin hanya membutuhkan sekitar satu meter cetakan digital print. Biaya pembuatan satu meter digital print itu berkisar antara Rp 125.000 untuk kualitas standar dan Rp 250.000 untuk kualitas terbaik. Selain itu, dengan menggunakan bahan digital printing, produsen pin tidak perlu lagi melapisi atau laminating bagian atas pin dengan plastik. Sebab, cetakan digital print sudah dilengkapi pelapisnya. Jadi, selain lebih murah, proses pembuatan dengan teknik digital print ini lebih mudah dan cepat.