Menyeruput rezeki dari kopi seduh dingin



Sejak dulu, kopi merupakan minuman favorit sebagian besar masyarakat di dunia. Di Indonesia, penikmat kopi datang dari berbagai kelompok usia, baik yang tua maupun muda.

Selain nikmat, secangkir kopi memberi rasa tenang dan minimal dipercaya efektif sebagai pengusir kantuk. Kandungan kafein yang ada dalam minuman kopi bisa membawa efek menyegarkan bagi tubuh. Banyaknya khasiat yang terkandung dalam kopi juga membuat minuman berwarna hitam punya banyak penggemar. Tak heran, bagi sebagian orang, minum kopi sudah menjadi semacam ritual sehari-hari.

Bahkan, bagi orang-orang tertentu, seperti ada keharusan untuk menyeruput secangkir kopi terlebih dulu, sebelum beraktifitas. Kopi juga sering menjadi teman, sembari berkumpul bersama teman atau keluarga. Tak heran, konsumsi kopi di Indonesia meningkat dari waktu ke waktu.


Nah, setahun belakangan, ada satu macam kopi yang sedang hangat diperbincangkan, yakni cold brew coffee alias kopi seduh dingin. Namun, ini bukan kopi biasa yang dicampur dengan es batu agar dingin, cold brew merupakan salah satu metode menyeduh kopi.

Bila rata-rata kopi diseduh dengan air panas, dengan metode ini kopi diseduh dengan air bersuhu kamar atau air dingin. Waktu penyeduhan bisa berlangsung antara 12 jam–24 jam. Setelah diseduh, hasilnya adalah kopi konsentrat yang dapat dinikmati dengan tambahan susu atau es.

Konon, dengan metode seduh ini, kadar asam pada kopi menurun. Dus, orang-orang yang biasanya tak suka kopi karena menimbulkan sakit perut atau maag, bisa menikmati cold brew coffee. Sebenarnya sudah ada beberapa kedai kopi yang menyajikan kopi dingin ini. Akan tetapi, baru awal tahun lalu, produk kopi cold brew dipasarkan dalam kemasan botol dan dijual ritel.

Adalah No Sleep Coffee yang menjadi pelopor produk cold brew coffee di Jakarta. Merek kopi dingin ini diperkenalkan Riska Ilmii, Ardianto Putra, Gian, dan Pulung Aldila. Riska bercerita, mereka berempat bertemu ketika masih sama-sama kuliah di Malaysia dan merupakan penggemar kopi. Bahkan Pulung sempat belajar pembuatan cold brew coffee di luar negeri.

Ketika kembali ke Indonesia, mereka sepakat memasarkan cold brew coffee secara ritel dengan merek No Sleep Coffee. Ada dua varian kopi dingin seduh No Sleep Coffee, yakni long black dan ice latte. Harga kopi siap minum dalam setiap kemasan berukuran 300 ml adalah Rp 25.000 per botol.

Ada pemain lain yang turut meramaikan tren cold brew coffee yaitu Reza Syah. Pria berusia 36 tahun ini memulai usahanya sejak Oktober tahun lalu. “Awalnya saya tak menemukan cold brew coffee yang rasanya pas di lidah. Lalu saya coba buat sendiri dan ternyata banyak yang suka,” tutur dia.

Jual Online

Menurut Reza, kopi seduh dingin bukanlah produk baru di Amerika dan negara lain di Asia. Namun, di dalam negeri, produk ini baru muncul setahun belakangan. Masih banyak juga masyarakat yang belum mengetahui produk ini. Dus, sebagai pemain baru, ia pun harus rajin mengedukasi masyarakat. Di sisi lain, ia yakin produk ini bisa diterima karena di berbagai kedai kopi, konsumen pun sering memesan kopi dingin yang dicampur es batu.

Pertama-tama Reza hanya membuat konsentrat dari kopi yang diseduh dengan air dingin. Konsentrat dalam kemasan botol 600 ml itu, kata Reza, bisa dibagi menjadi delapan gelas kopi jika ditambah dengan susu atau es batu.

Namun, peminat konsentrat itu terbatas pada penggemar kopi pahit. Setelah itu, konsumen minta dibuatkan produk yang bisa langsung dinikmati dari kemasan tanpa harus disajikan lagi. Reza pun membuat beberapa varian cold brew coffe, yaitu ice milk latte, red velvet, vanilla latte, dan banana chia seed latte. Beragam varian itu banderol harganya Rp 49.000 hingga Rp 129.000 per botol.

Meski tergolong produk baru, pelaku usaha optimistis cold brew coffee bisa diterima masyarakat. Mereka optimistis kopi seduh dingin ini bukan tren sementara. “Bisnis minuman kopi merupakan bisnis yang berumur panjang karena kopi sudah ada sejak dulu, dan akan terus ada,” kata Riska. Apalagi, masyarakat kian kreatif meracik varian kopi.

Pertumbuhan pasar untuk kopi seduh dingin juga didukung oleh pertumbuhan kelas menengah di negeri ini. Maklum, kelas menengah dengan kantong yang lebih tebal gemar melakukan eksplorasi terhadap berbagai hal, termasuk memenuhi seleranya dalam menikmati kopi.

Produk cold brew coffee ini juga praktis. “Konsumen tinggal pesan, lalu kami antar dan mereka bisa minum tanpa harus diseduh lagi,” ujar Riska. Pria berusia 26 tahun ini menambahkan, ia dan teman-teman butuh waktu cukup lama untuk mempersiapkan bisnis No Sleep Coffee. Setelah tahu metode penyeduhan kopi dengan air dingin, mereka butuh enam bulan untuk mendapatkan formula atau resep yang pas.

Awalnya, No Sleep Coffee ditawarkan ke kerabat dan kenalan para pendirinya. Namun lama-kelamaan semakin banyak yang pesan. Kalau dulu, barista No Sleep Coffee hanya membuat 80 botol kopi per minggu, kini order meningkat pesat jadi 1.000–1.500 botol saban bulan.

Menurut penuturan Riska, sepanjang 2014, ia dan teman-teman bisa mengantongi omzet Rp 500 juta. Adapun margin keuntungan dari bisnis ini bisa mencapai 100%. “Seperti produk F&B lain, cold brew coffee ini marginnya 100%,” cetusnya.

Riska bilang, produk ini sengaja dijual secara ritel, bukan di kedai kopi agar bisa dinikmati lebih banyak konsumen. Di samping itu, jumlah kedai kopi sudah terlalu banyak. “Kalau mau bikin kafe juga, produk kami masih sedikit jadi konsumen tidak punya alternatif yang banyak,” katanya.

Selain memesan secara online, konsumen juga bisa menikmati No Sleep Coffee di beberapa restoran seperti Dapur Ciragil, Senopati, Vaplab Kemang, Senayan Trade Center, Cipete, dan Vaper Chamber SCBD. “Kami kerjasama secara konsinyasi untuk konsumen yang mau langsung menyeruput No Sleep Coffee tanpa harus menunggu produk diantar,” tambah dia.

Kopi Nusantara

Cara yang sama juga dilakukan Reza dengan kopi Ray’s Bottle of Joe. Kapasitas produksi kopi seduh dinginnya saat ini mencapai 100 botol per hari. Perolehan omzetnya rata-rata Rp 50 juta per bulan.

Sejak awal, Reza memasarkan produknya lewat jalur online, terutama Instagram. Setiap kali Reza memperbaharui halaman Instagram Ray’s Bottle of Joe, pesanan yang masuk bertambah. “Kalau kami lama tidak update media sosial, pesanan bisa sepi,” kata dia.

Banyaknya produk kopi yang beredar di pasar bebas membuat konsumen selektif terhadap produk kopi. Rasa dan kualitas akan menjadi pertimbangan mereka dalam memilih kopi yang akan diseruputnya. Sudah bukan rahasia, bahkan sudah diakui dunia bahwa kopi nusantara punya kualitas yang tinggi dan rasa yang enak.

Hal ini diamini oleh para pengusaha cold brew coffee. Tiap produk kopi seduh dingin yang mereka buat selalu menggunakan kopi dalam negeri sebagai bahan baku utamanya. Riska mengklaim, No Sleep Coffee merupakan satu-satunya produk cold brew yang memadukan beberapa jenis kopi. “Kalau produk lain hanya menggunakan satu jenis kopi, tapi kami mencampur tiga jenis kopi nusantara,” katanya.

Untuk varian long black coffee, jenis kopi yang digunakan ialah Arabica toraja, Arabica ijen, dan Arabica papua. Sementara itu, ice latte menggunakan biji kopi Arabica gayo, Arabica flores, dan Robusta temanggung. “Semua bahan baku No Sleep Coffee berasal dari dalam negeri, tak perlu impor,” cetus dia.

Berbeda halnya dengan produk Ray’s Bottle of Joe. Reza bilang kopi yang digunakan dalam produknya memang merupakan kopi dalam negeri, misalnya kopi toraja, kopi sidikalang, dan kopi gayo. Tetapi, cokelat, vanilla, dan chia seed yang digunakan dalam campuran kopi merupakan produk impor. “Kami ingin bahan terbaik, jadi mau tak mau harus kami impor agar tidak merusak rasa kopinya,” tutur dia.

Meski kopi yang jadi bahan baku merupakan produk lokal, tapi peralatan untuk membuat cold brew coffee harus diimpor. Riska dan Reza bilang, alat seduh kopi, seperti cold press dan grinder didatangkan dari luar negeri. Dus, investasi untuk usaha ini pun tergolong tinggi.

Riska dan teman-teman merogoh kocek Rp 70 juta untuk modal awal. Modal itu digunakan untuk membeli peralatan, bahan baku, dan kemasan botol kaca. Adapun dapur produksi dilakukan di dapur pribadi sehingga mereka tak perlu menyewa tempat.

Sementara itu, Reza merintis usaha Ray’s Bottle of Joe dengan  modal tak sampai Rp 50 juta. “Dulu kami tak perlu menyewa tempat untuk produksi,” ucapnya. Namun, seiring perkembangan usaha, Reza menyewa tempat di kawasan Kalibata sebagai lokasi produksi. Bila ditotal, nilai investasi Reza mencapai Rp 140 juta.

Reza melanjutkan, cold brew coffee jadi peluang usaha yang menjanjikan. Pasalnya, saat ini, produk kopi seduh dingin yang dijual secara ritel sangat terbatas. Dibandingkan dengan banyaknya penggemar kopi, jumlah produk yang beredar masih sedikit. “Peluang untuk pemain baru masih terbuka lebar,” ujar Reza.

Demikian pula Riska mengatakan bahwa potensi bisnis untuk produk ini sangat bagus. Di masa mendatang, Riska berencana bekerjasama dengan jaringan supermarket seperti Ranch Market atau Kemchick untuk meluaskan pemasaran No Sleep Coffee. “Tahun ini kami juga akan menambah produk, yaitu biji kopi yang bisa diseduh sendiri karena ada penggemar kopi yang puas jika menyeduh sendiri kopinya sebelum diminum,” tutur dia.    

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tri Adi