Menyulap Akar Bambu Jadi Topeng



h090318_15_bambu4_cutoutBUAT sebagian orang, akar bambu hanyalah limbah yang tak berguna. Namun, di tangan orang yang kreatif, limbah ini bisa menjelma menjadi kerajinan nan unik yang laku dijual. Tak percaya? Simak saja bisnis Ery Murdianto. Pria asal Klaten, Jawa Tengah, ini sukses  menyulap akar bambu menjadi aneka kerajinan topeng.  Ery mulai memproduksi topeng akar bambu ini sejak 2004. Di mata Ery, akar bambu memiliki daya tarik tersendiri. Selain bentuknya yang unik, akar bamu juga memiliki serabut-serabut kecil yang menyerupai rambut. "Itulah keunikan akar bambu. Serabut itu bisa membuat wajah topeng yang kita bentuk semakin khas. Berbeda dengan bahan kayu yang tidak memiliki serabut," ujarnya. Penilaian Ery tak salah. Buktinya, topeng akar bambu buatannya juga memikat banyak pembeli. Selain dari dalam negeri, pembeli topeng nan unik ini juga datang dari Prancis dan Jerman. Proses pembuatan topeng akar bambu ini lumayan panjang. Pertama-tama Ery mesti mendatangkan bahan baku akar bambu dari daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Harganya Rp 1.500 hingga Rp 10.000 per buah. Dari satu akar, ia bisa menghasilkan dua topeng. Karena proses pembuatannya lumayan rumit, biasanya, satu pekerja hanya bisa menghasilkan maksimal tiga topeng dalam sehari. "Tak semua bisa memahat dengan bahan akar bambu, sebab pemahat harus tahu seluk beluk akar ini," jelas Ery. h090318_15_bambu_cutoutSebelum dipahat, akar bambu itu mesti direbus untuk mematikan rayap-rayap di dalamnya. Setelah dikeringkan, akar itu kemudian dipahat sesuai model yang diinginkan. Setelah jadi, topeng tinggal diamplas dan divernis. Tapi, Ery bilang, sebagian besar pembeli lebih menyukai warna asli akar bambu. Ery memproduksi topeng sesuai pesanan. Tapi, dia tetap membuat contoh model topeng untuk ditawarkan kepada calon pembeli. Sudah ada lebih dari 100 model topeng yang pernah dia buat. Selain hasil kreasi sendiri, model topeng juga bisa ditentukan oleh pemesan. Dari dalam negri, pesanan biasanya datang dari Bali, Yogyakarta, dan Jakarta. "Sekali order biasanya berkisar 50 unit sampai 100 unit," ujar pria 27 tahun ini. Tapi, sebagian besar pembeli topeng ini adalah pelancong asing, seperti dari Perancis dan Jerman. Ery rata-rata bisa memproduksi hingga 100 topeng sebulan. Ada tiga karyawan yang membantunya. Dengan harga berkisar Rp 30.000 sampai Rp 70.000 per buah,  dia mengaku bisa menjual semua topeng buatannya. Sehingga, dalam sebulan, ia bisa meraup omzet sekitar Rp 3 juta-Rp 7 juta. Dari penjualan ini, Ery bisa mengantongi laba bersih sekitar 35%. Menurut Ery, prospek bisnis ini di masa mendatang masih cerah. Sebab, banyak orang menyukai barang yang unik dan eksotis. Apalagi, pembeli bisa memesan model topeng yang mereka inginkan. Selain itu,  Ery juga belum memiliki pesaing. "Bahkan, permintaan melebihi dari kapasitas produksi kami, mencapai ribuan topeng sebulan," katanya. Bahkan, dia mengaku pernah mendapat pesanan seribu topeng dari pembeli asal Perancis. Tapi, dia terpaksa menolaknya. Alasannya, Ery memang telah bertekad tidak akan memproduksi topeng akar bambu secara massal. Tujuannya untuk mempertahankan eksklusivitas dan keberlangsungan bisnisnya. "Produksi dalam jumlah massal bisa membuat pasar cepat jenuh," kata Ery, berkilah. Selain mengatur strategi produksinya, dia juga  selalu berusaha menghadirkan model terbaru. Untuk itu,  rajin mencari referensi model wajah dari internet dan tayangan film.            nCek Berita dan Artikel yang lain di Google News