Merajut Cuan dari Lembaran Kulit Sapi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ide bisnis kerap muncul dari pengalaman menjalankan usaha. Hal itulah yang dialami Sendy Deka Saputra saat membangun Sendyleather, merek tas kulit asal Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur. 

Sebelum terjun sebagai produsen tas kulit, Sendy membantu sang ibu memasok kulit sapi lembaran kepada para perajin di Tanggulangin.

Berawal dari membantu memasarkan produk para perajin, ia kemudian mendirikan Sendyleather yang kini berkembang menjadi usaha dengan belasan tenaga produksi.


Sendyleather berdiri pada 2012, ketika Sendy masih menempuh semester akhir di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

"Saya mengambil beberapa produk dari perajin untuk membantu menjualkannya saat ada pameran," ujar Sendy kepada KONTAN, Rabu (15/7).

Baca Juga: Fulus dari Daur Ulang Limbah Pertanian

Di luar dugaan, respons pasar sangat positif. Melihat peluang tersebut, Sendy mulai serius mengembangkan bisnis kerajinan kulit. Pada 2014, Sendyleather merekrut dua perajin pertama untuk memperkuat kapasitas produksi.

Seiring waktu, bisnis Sendyleather berkembang pesat. Dibandingkan saat awal berdiri, skala usahanya telah meningkat sekitar 500%.

Perluasan pasar juga semakin terbuka berkat kehadiran marketplace yang memungkinkan produk Sendyleather menjangkau konsumen di berbagai daerah.

Baca Juga: Gurih Nian Laba dari Pempek Tahan Lama

Selain memasarkan produk secara daring, Sendyleather aktif mengikuti berbagai pameran di sejumlah kota di Indonesia hingga negara tetangga.

Saat ini, Sendyleather memiliki kapasitas produksi sekitar 600 produk per bulan dengan dukungan 18 karyawan. Produknya dipasarkan dengan harga mulai dari Rp 100.000 hingga Rp 1,5 juta, bergantung pada jenis dan desain.

Menurut Sendy, salah satu kekuatan utama Sendyleather adalah cerita yang dibawa dari sentra industri kulit Tanggulangin.

Kawasan tersebut sempat meredup akibat terdampak citra negatif bencana lumpur Sidoarjo.

Baca Juga: Fulus dari Inovasi dan Pemberian Label

"Kami ingin mengenalkan kembali bahwa Tanggulangin masih ada dan tetap menjadi sentra kerajinan kulit," ungkapnya.

Dari sisi produk, Sendyleather mengembangkan beragam tas berbahan kulit sapi dengan mengedepankan desain yang sederhana, tetapi tetap memiliki nilai estetika. Salah satu produk terlarisnya adalah tas wanita seri Victoria yang telah terjual hingga ratusan unit.

Baca Juga: Ubah Kebutuhan Berpakaian Jadi Cuan

Melihat perkembangan tersebut, Sendy terus menyiapkan langkah ekspansi. Salah satunya dengan menghadirkan submerek baru yang akan fokus pada produk sepatu kulit wanita.

Selain itu, ia juga akan memperkuat persediaan agar konsumen tidak perlu menunggu lama saat membeli produk. Sendyleather juga berencana membuka gudang di Jakarta untuk mengoptimalkan distribusi ke pasar Jabodetabek.

Di tengah kenaikan harga bahan baku, perusahaan juga mulai mengembangkan model tas berdesain minimalis sebagai salah satu strategi menjaga daya saing.

Berkat berbagai langkah tersebut, Sendyleather kini mampu membukukan omzet hingga Rp 280 juta per bulan dan menargetkan pertumbuhan bisnis sekitar 10% hingga akhir tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: