KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di sebuah sudut bengkel kerja di Bandung, aroma kulit samak menyeruak di antara deru mesin amplas dan ketukan palu. Di sinilah Tegep Boots, merek sepatu legendaris asal Kota Kembang, tetap tegak berdiri sejak 1996 silam. Bagi pemiliknya, Etnawati Melani, Tegep Boots bukan sekadar alas kaki, tapi sebuah karya seni yang punya "nyawa." Lahir dari tangan dingin almarhum Tegep Oktaviansyah, bisnis ini bermula saat sang pendiri masih menyandang status mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.
Berawal dari tugas akhir membuat tas golf berbahan kulit, kecintaan Tegep pada dunia otomotif khususnya motor Inggris, mendorongnya menciptakan perlengkapan berkendara yang mumpuni. "Dulu almarhum hobi motoran dan koleksi sepatu bot luar negeri. Lalu terpikir, kenapa tidak bikin sendiri? Awalnya pakai label Clubman, hingga akhirnya mentor dosennya menyarankan memakai namanya sendiri, Tegep," ujar Etnawati mengenang sang suami di Program Insthink Kementerian UMKM, Jumat (23/1).
Baca Juga: Mencecap Fulus dari Produk Mentega Ala Eropa Tegep Boots, kata Etnawati, memilih jalan sunyi sebagai produk artisan. Mereka mengincar pasar yang spesifik namun memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Maklum, kekuatan Tegep Boots terletak pada sentuhan tangan. Setiap lembar kulit dipotong, diamplas, hingga diwarnai secara manual. Tak jarang, kulit tersebut diberi perlakuan khusus, seperti tato, lukis, hingga embos. Inilah, yang menurut Etnawati, memberi "nyawa" pada setiap produknya.
Baca Juga: Cuan Sengatan Casion Terus Menyebar Bukan cuma setia pada desain
long-lasting seperti gaya
punk atau
riding, Tegep Boots juga rajin melakukan diversifikasi. Dari sepatu, bisnis berkembang ke jaket kulit, rompi, hingga jok motor custom. Bahkan, mereka pernah masuk ke ranah modifikasi sasis dan tangki motor melalui lini
sub-brand Kamraj, yang kini mulai dihidupkan kembali oleh anak kedua Tegep. Inovasi bahan baku juga menjadi kunci ketahanan bisnis ini. Selain kulit sapi premium, Tegep Boots mulai merambah kulit eksotis, seperti ular, buaya, ikan pari, hingga ikan arapaima.
Baca Juga: Fulus dari Gaya Batik Peranakan Kekinian Menyadari tren global yang mulai melirik produk ramah lingkungan, Etnawati kini tengah mengeksplorasi material vegan, seperti kulit kayu dan limbah denim. "Di Eropa sekarang lebih senang ke vegan," katanya. Hasilnya, Tegep Boots telah menembus mancanegara. Etnawati bilang, produknya telah diekspor ke Prancis, Inggris, Rusia, juga Amerika Serikat. Setelah bisa menembus pasar Eropa dan Amerika, Etnawati kini tengah membidik pasar Timur Tengah, seperti Qatar dan Riyadh di Arab Saudi. Potensi pasar di kawasan ini, sebutnya, potensial lantaran sudah melalui riset pasar mendalam yang menyukai produk-produk bling-bling.
Selain itu, dia kerap dapat order dari Kepolisian untuk polisi lalu lintas dan Sabhara. Bisnis ini kelak ia wariskan ke kedua anaknya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News