Eni Saputra memanfaatkan bahan limbah dari alam seperti hasil serutan pensil, pelepah pisang, daun hamada, dan daun lontar menjadi kerajinan rangkaian bunga yang cantik dan bernilai jual. Lewat usaha Cendani Dried Flower, produknya banyak dipesan konsumen di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Berbagai limbah lingkungan yang sering kali menjadi sampah dan terbengkalai bisa menjadi pundi-pundi uang. Lewat ide kreatif dan tangan terampi, sampah-sampah tidak berguna tersebut bisa menjadi produk yang bernilai jual. Inilah yang dilakukan Eni Saputra. Lewat usaha Cendani Dried Flower, dia membuat kerajinan hiasan bunga dari bahan-bahan limbah, seperti pelepah pusang, daun lontar, kulit jagung hingga kayu hasil serutan pensil. Dia juga menggunakan rumput hamada yang biasa dijadikan bahan baku pembuatan sapu. Usaha ini berdiri pada tahun 2004 lalu di Yogyakarta karena kecintaannya terhadap bunga. Dia mengaku awal memulai membuat kerajinan bunga ini dari hasil belajar otodidak dari buku yang ia beli dari toko buku. Dari situ, dia memutuskan untuk membuat karya bunga kering hasil kreativitasnya sendiri. Berbagai bahan limbah tersebut dia sulap menjadi karya seni yang cukup diminati oleh masyarakat.
Merangkai laba dari limbah bunga kering
Eni Saputra memanfaatkan bahan limbah dari alam seperti hasil serutan pensil, pelepah pisang, daun hamada, dan daun lontar menjadi kerajinan rangkaian bunga yang cantik dan bernilai jual. Lewat usaha Cendani Dried Flower, produknya banyak dipesan konsumen di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Berbagai limbah lingkungan yang sering kali menjadi sampah dan terbengkalai bisa menjadi pundi-pundi uang. Lewat ide kreatif dan tangan terampi, sampah-sampah tidak berguna tersebut bisa menjadi produk yang bernilai jual. Inilah yang dilakukan Eni Saputra. Lewat usaha Cendani Dried Flower, dia membuat kerajinan hiasan bunga dari bahan-bahan limbah, seperti pelepah pusang, daun lontar, kulit jagung hingga kayu hasil serutan pensil. Dia juga menggunakan rumput hamada yang biasa dijadikan bahan baku pembuatan sapu. Usaha ini berdiri pada tahun 2004 lalu di Yogyakarta karena kecintaannya terhadap bunga. Dia mengaku awal memulai membuat kerajinan bunga ini dari hasil belajar otodidak dari buku yang ia beli dari toko buku. Dari situ, dia memutuskan untuk membuat karya bunga kering hasil kreativitasnya sendiri. Berbagai bahan limbah tersebut dia sulap menjadi karya seni yang cukup diminati oleh masyarakat.