IDE Aman Suparman memproduksi kaos kaki wudhu muncul dari keluhan konsumennya yang baru kembali dari menunaikan ibadah haji. Selama di sana, jamaah haji tersebut kesulitan pada saat wudhu. Menurut tata cara ritual haji, jamaah harus selalu berada dalam kondisi suci. Artinya, setiap kali wudhunya batal, ia wajib segera ber-wudhu lagi. Artinya, jamaah harus melepas kaos kaki, agar kakinya bisa terbasuh air. Ini cukup merepotkan. Kondisi tersebut memunculkan ide di benak Aman untuk membuat kaos kaki yang bisa memudahkan orang saat harus melakukan wudhu. Tak sulit bagi Aman mewujudkan ide tersebut. Maklum, sejak 2004, ia sudah memproduksi kaos kaki bermerek Soka, di bawah bendera PT Mitra Niaga Internasional. Singkat kisah, pada 2007 Aman mulai membuat kaos kaki khusus wudhu. Konsep produknya sederhana, yakni kaos kaki yang bisa dilipat dari bagian bawah ke atas. Dengan cara ini, orang yang ingin membasuh kaki, sebagai salah satu rukun wudhu, tak perlu repot-repot melepas dan memasang kembali kaos kakinya. Awalnya, segmen pasar produk ini hanya sebatas mereka yang akan berangkat haji, dan kaum perempuan saja. Tapi belakangan, ternyata kaos kaki buatan Aman itu juga dipakai orang untuk sehari-hari. Bahkan sejak 8 bulan lalu, pria 27 tahun ini mulai memproduksi kaos kaki yang sama bagi kaum laki-laki. Kata Aman, tidak ada perbedaan yang mendasar antara kaos kaki wudhu perempuan dengan laki-laki. Perbedaannya hanya pada bahan. Kaos kaki perempuan memakai bahan nilon karena lebih halus. Sedangkan kaos kaki pria memakai bahan katun, dan warnanya pun gelap seperti hitam, coklat, dan abu-abu. Aman mendatangkan semua bahan bakunya dari Bandung. Selain di pasar lokal, Aman memasarkan produknya hingga ke Singapura dan Malaysia. Tapi, Aman bilang, untuk produk yang dipasarkan ke Singapura memakai bahan dan teknik jahit yang berbeda, yaitu memakai mesin komputer. Harga kaos kaki buatan tergantung jenis dan pasarnya. Untuk pasar lokal, Aman membanderol sepasang kaos kaki dengan harga Rp 10.000- Rp 15.000. Sedangkan untuk pasar Singapura harganya sekitar Rp 40.000 per pasang, dan untuk Malaysia Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per pasang. Dalam sebulan, Aman memproduksi 10.000 lusin kaos kaki untuk pasar lokal. "Kalau ada pesanan ekspor ke Singapura, produksi bisa naik sampai 3 kali lipatnya," katanya. Di bantu 30 karyawan, Aman memusatkan kegiatan produksinya di Bandung, Jawa Barat. Produksi kaos kaki mencapai puncak saat musim haji. Saking tingginya permintaan, Aman harus outsourcing ke pabrik lain. Sejauh ini, menurut Aman, di pasar baru ada dua atau tiga merek kaos kaki wudhu. Melihat pemainnya yang masih sedikit, peluang di bisnis ini masih cukup besar. Apalagi, jika menghitung jumlah jamaah haji setiap tahun yang sampai 200.000 orang. Menurut hitungan Aman, kalau satu jamaah haji saja membawa enam pasang kaos kaki, maka ada kebutuhan sekitar 120.000 pasang kaos kaki. "Sekarang kami baru bisa memenuhi sekitar 10%-nya saja," ujarnya. Dalam sebulan, dari jualan kaos kaki ini, Aman bisa meraup omzet hingga Rp 2 miliar. Ia mengaku, dari omzet sebanyak itu, ia mengantongi keuntungan bersih sekitar 10%. Aman berharap ke depan bisa memaksimalkan produksinya, sehingga tak perlu lagi melakukan outsourcing kala pesanan melonjak. Dia juga berharap pemasarannya lebih luas lewat promosi yang sekarang gencar dia lakukan lewat iklan dan media online.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Meraup Miliaran Rupiah dari Kaos Kaki Khusus Wudhu
IDE Aman Suparman memproduksi kaos kaki wudhu muncul dari keluhan konsumennya yang baru kembali dari menunaikan ibadah haji. Selama di sana, jamaah haji tersebut kesulitan pada saat wudhu. Menurut tata cara ritual haji, jamaah harus selalu berada dalam kondisi suci. Artinya, setiap kali wudhunya batal, ia wajib segera ber-wudhu lagi. Artinya, jamaah harus melepas kaos kaki, agar kakinya bisa terbasuh air. Ini cukup merepotkan. Kondisi tersebut memunculkan ide di benak Aman untuk membuat kaos kaki yang bisa memudahkan orang saat harus melakukan wudhu. Tak sulit bagi Aman mewujudkan ide tersebut. Maklum, sejak 2004, ia sudah memproduksi kaos kaki bermerek Soka, di bawah bendera PT Mitra Niaga Internasional. Singkat kisah, pada 2007 Aman mulai membuat kaos kaki khusus wudhu. Konsep produknya sederhana, yakni kaos kaki yang bisa dilipat dari bagian bawah ke atas. Dengan cara ini, orang yang ingin membasuh kaki, sebagai salah satu rukun wudhu, tak perlu repot-repot melepas dan memasang kembali kaos kakinya. Awalnya, segmen pasar produk ini hanya sebatas mereka yang akan berangkat haji, dan kaum perempuan saja. Tapi belakangan, ternyata kaos kaki buatan Aman itu juga dipakai orang untuk sehari-hari. Bahkan sejak 8 bulan lalu, pria 27 tahun ini mulai memproduksi kaos kaki yang sama bagi kaum laki-laki. Kata Aman, tidak ada perbedaan yang mendasar antara kaos kaki wudhu perempuan dengan laki-laki. Perbedaannya hanya pada bahan. Kaos kaki perempuan memakai bahan nilon karena lebih halus. Sedangkan kaos kaki pria memakai bahan katun, dan warnanya pun gelap seperti hitam, coklat, dan abu-abu. Aman mendatangkan semua bahan bakunya dari Bandung. Selain di pasar lokal, Aman memasarkan produknya hingga ke Singapura dan Malaysia. Tapi, Aman bilang, untuk produk yang dipasarkan ke Singapura memakai bahan dan teknik jahit yang berbeda, yaitu memakai mesin komputer. Harga kaos kaki buatan tergantung jenis dan pasarnya. Untuk pasar lokal, Aman membanderol sepasang kaos kaki dengan harga Rp 10.000- Rp 15.000. Sedangkan untuk pasar Singapura harganya sekitar Rp 40.000 per pasang, dan untuk Malaysia Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per pasang. Dalam sebulan, Aman memproduksi 10.000 lusin kaos kaki untuk pasar lokal. "Kalau ada pesanan ekspor ke Singapura, produksi bisa naik sampai 3 kali lipatnya," katanya. Di bantu 30 karyawan, Aman memusatkan kegiatan produksinya di Bandung, Jawa Barat. Produksi kaos kaki mencapai puncak saat musim haji. Saking tingginya permintaan, Aman harus outsourcing ke pabrik lain. Sejauh ini, menurut Aman, di pasar baru ada dua atau tiga merek kaos kaki wudhu. Melihat pemainnya yang masih sedikit, peluang di bisnis ini masih cukup besar. Apalagi, jika menghitung jumlah jamaah haji setiap tahun yang sampai 200.000 orang. Menurut hitungan Aman, kalau satu jamaah haji saja membawa enam pasang kaos kaki, maka ada kebutuhan sekitar 120.000 pasang kaos kaki. "Sekarang kami baru bisa memenuhi sekitar 10%-nya saja," ujarnya. Dalam sebulan, dari jualan kaos kaki ini, Aman bisa meraup omzet hingga Rp 2 miliar. Ia mengaku, dari omzet sebanyak itu, ia mengantongi keuntungan bersih sekitar 10%. Aman berharap ke depan bisa memaksimalkan produksinya, sehingga tak perlu lagi melakukan outsourcing kala pesanan melonjak. Dia juga berharap pemasarannya lebih luas lewat promosi yang sekarang gencar dia lakukan lewat iklan dan media online.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News