KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Merck Tbk (MERK) menyiapkan strategi bisnis baru untuk menghadapi berakhirnya kontrak manufaktur dengan
Procter & Gamble (P&G) pada 31 Desember 2027. Perseroan akan mengurangi ketergantungan terhadap bisnis
Consumer Health dan memperkuat bisnis obat resep sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang. Direktur PT Merck Tbk Arryo Aritrixso Wachjuwidajat mengatakan, perseroan akan tetap berfokus pada bisnis obat resep setelah kontrak dengan P&G berakhir. Strategi tersebut akan didukung oleh optimalisasi Pabrik Pasar Rebo, Jakarta. “Merck berkomitmen untuk memperkuat produksi dan pemasaran obat-obat resep sebagai bagian penting dari kontribusi kami bagi kesehatan masyarakat Indonesia,” ujar Arryo dalam Public Expose 2026, Kamis (8/10/2026).
Baca Juga: Perpres Ojol Terbit, ADO Soroti Pembagian Pendapatan dan Perlindungan Driver Menurut dia, Pabrik Pasar Rebo akan memiliki peran penting dalam strategi bisnis Merck ke depan. Selain memenuhi kebutuhan pasar domestik, fasilitas tersebut akan diarahkan untuk mendukung produksi obat resep untuk pasar Asia. Strategi tersebut menjadi penting seiring perubahan struktur bisnis Merck setelah perseroan tidak lagi memproduksi produk Consumer Health. Saat ini, sekitar 60% penjualan
Healthcare Merck berasal dari produk bioteknologi impor, sementara sekitar 40% berasal dari produksi sendiri. Di sisi lain, berakhirnya kontrak P&G tidak serta-merta membuat prospek bisnis Merck melemah. Pada semester I 2026, laba bersih perseroan tercatat melonjak sekitar 396% secara tahunan atau hampir empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja tersebut terjadi meski volume produk P&G mengalami penurunan 0,7%. Penurunan volume tersebut disebabkan Merck tidak lagi memasok produk dalam bentuk liquid. Namun, harga pasokan meningkat 98% seiring penyesuaian harga berdasarkan
Manufacturing Supply Agreement (MSA) terbaru. Merck juga memiliki ruang keuangan yang relatif kuat untuk menjalankan transformasi bisnis. Hingga semester I 2026,
debt-to-equity ratio berada di kisaran 0,27 kali, sedangkan current ratio mencapai 5 kali. Meski demikian, perseroan tetap menghadapi tantangan terkait aset Pabrik Pasar Rebo. Merck sebelumnya telah mencatatkan penurunan nilai aset pabrik sebesar Rp 87 miliar pada September 2026. Penurunan nilai tersebut terutama dipengaruhi perubahan material terhadap prospek volume produksi, tingkat utilisasi kapasitas, serta arus kas masa depan menjelang berakhirnya MSA dengan P&G. Direktur PT Merck Tbk Bambang Nurcahyo mengatakan, pencatatan tersebut dilakukan setelah perseroan mengevaluasi nilai aset bersama penilai independen. “Kami mengevaluasi nilai aset Pabrik Pasar Rebo secara cermat bersama penilai independen dan mencatat penurunan nilai tersebut sesuai dengan hasil evaluasi serta ketentuan akuntansi yang berlaku,” katanya. Berdasarkan penilaian KJPP Suwendho Rinaldy dan Rekan (KJPP SRR), nilai pasar aset Pabrik Pasar Rebo ditetapkan sebesar Rp93 miliar per 31 Agustus 2026. Dengan pendekatan konservatif sesuai panduan Merck Group Accounting dan ketentuan PSAK, perseroan mengakui beban penurunan nilai sebesar Rp 87 miliar. Setelah penyesuaian tersebut, nilai buku neto aset Pabrik Pasar Rebo menjadi Rp 75 miliar. Pencatatan dilakukan pada September 2026 agar masuk dalam pembukuan kuartal III 2026. Di tengah proses transformasi tersebut, Merck akan memperkuat portofolio obat resep di sejumlah area terapi. Produk perseroan saat ini memiliki posisi kuat di antaranya pada terapi tiroid, kardiovaskular, diabetes,
multiple sclerosis, fertility, growth hormone, dan onkologi. Merck mencatat pertumbuhan 7,7%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pasar total sebesar 6,2% dan pasar ethical sebesar 6,5%. Perseroan juga berada di posisi kedelapan dalam peringkat perusahaan farmasi asing atau multinational corporation (MNC) di Indonesia.
Selain mempertahankan produk yang telah memiliki posisi kuat, Merck juga mengakselerasi Bavencio dan Mavenclad serta meluncurkan TEPMETKO (tepotinib) untuk kanker paru-paru. Perseroan juga membuka peluang untuk menambah portofolio melalui produk dari akuisisi SpringWorks, dengan mempertimbangkan kelayakan bisnis untuk pasar Indonesia. Dengan demikian, berakhirnya kontrak P&G pada akhir 2027 menjadi titik perubahan bagi Merck untuk mengalihkan fokus bisnis dari manufaktur Consumer Health menuju penguatan bisnis obat resep. Perusahaan berharap strategi tersebut dapat membangun sumber pertumbuhan yang lebih berkelanjutan dalam jangka panjang.
Baca Juga: Patra Jasa Perkuat Layanan Hospitality, Dukung Event Internasional Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News