Merdeka Battery (MBMA) Rogoh Rp 58,18 Miliar Eksplorasi Tambang Nikel, Ini Prospeknya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) memperkirakan biaya eksplorasi Tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) di Konawe, Sulawesi Tenggara telah mencapai Rp 58,18 miliar atau setara dengan US$ 3,26 juta di sepanjang kuartal III-2026.

Dalam laporan eksplorasi kuartal III-2026, dana tersebut digunakan manajemen MBMA untuk pengeboran guna mendefinisikan sumber daya mineral sepanjang umur tambang beserta pekerjaan pengujian terkait.

Adapun MBMA telah menyelesaikan 1.607 lubang pengeboran inti dengan total kedalaman 41.289 meter. Pengeboran infill dilakukan untuk meningkatkan keyakinan terhadap sumber daya mineral.


Baca Juga: Rupiah Kian Dekati Rp 18.000, Ini Deretan Mata Uang Alternatif Selain Dolar AS

Sekretaris Perusahaan Merdeka Battery Materials Teddy Nuryanto Oetomo menyatakan, eksplorasi regional masih berada pada tahap awal. Meski hasil sementara menunjukkan indikasi positif, kontribusinya terhadap cadangan mineral belum dapat dipastikan.

“Meskipun hasil yang diperoleh sejauh ini menunjukkan indikasi positif, diperlukan evaluasi lebih lanjut untuk menilai potensi kontribusinya terhadap cadangan mineral dan keberlanjutan operasional,” tulisnya dalam keterbukaan informasi, Kamis (15/10/2026).

Di sisi lain, Analis Ciptadana Sekuritas Asia Ryan Santoso menyebut prospek bisnis MBMA ke depan masih akan ditopang peningkatan volume produksi dan penjualan bijih nikel, bukan semata kenaikan harga bijih nikel.

Sebagai gambaran, di kuartal II-2026, produksi bijih nikel MBMA mencapai 7,6 juta wet metric tonnes (wmt), naik 105% secara tahunan. Dengan demikian, produksi semester I-2026 mencapai 15,2 juta wmt, meningkat 120% YoY.

“Infrastruktur yang baru diselesaikan mendukung peningkatan volume bijih. Kapasitas pengangkutan saprolit mencapai sekitar 15 juta wmt per tahun, sementara pipa slurry limonit memiliki kapasitas 45 juta wmt per tahun,” tulisnya Ryan dalam riset. 

Dengan demikian, total kapasitas penanganan bijih terpasang mencapai sekitar 60 juta wmt per tahun. Ryan memperkirakan produksi pertambangan pada semester II-2026 setara atau sedikit lebih tinggi daripada semester I-2026.

Sementara itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Indra Setyad memperkirakan pendapatan MBMA pada 2026 mencapai US$ 2,60 miliar, tumbuh 81,3% secara tahunan. EBITDA diproyeksikan sebesar US$ 356 juta, sedangkan laba bersih diperkirakan mencapai US$ 80 juta.

Baca Juga: Rupiah Mendekati Rp 18.000 per Dolar AS, Efek Domino ke Sektor Riil Patut Diwaspadai

Di mana, Phintraco Sekuritas menyematkan rekomendasi beli MBMA dengan target harga di Rp 790 per saham. Pada akhir perdagangan Kamis (15/10), saham emiten usaha Grup Merdeka ini parkir di level Rp 438. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News