Merdeka Gold (EMAS) Raih Fasilitas Pinjaman US$ 435 Juta, Simak Prospek Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) memperoleh fasilitas pinjaman dengan nilai pokok hingga US$ 435 juta. Dana tersebut akan digunakan untuk melunasi utang perusahaan serta memenuhi berbagai kebutuhan korporasi, mulai dari belanja modal, biaya transaksi, pendanaan, hingga modal kerja.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, langkah EMAS mengamankan fasilitas pinjaman sindikasi tersebut merupakan strategi refinancing dan optimalisasi struktur permodalan yang bernilai strategis bagi perusahaan.

Menurut Nafan, sebagian besar alokasi dana untuk melunasi utang lama dapat memperbaiki profil utang perusahaan secara signifikan. Dengan mengalihkan kewajiban jangka pendek atau fasilitas berbiaya tinggi ke struktur pinjaman dengan tenor lebih memadai dan suku bunga lebih bersaing, EMAS dapat memperkuat posisi likuiditas serta fleksibilitas keuangannya.


Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga di 4%, Harga Bitcoin dan Ethereum Bergerak Melemah

Penambahan likuiditas tersebut juga memperkokoh modal kerja dan ketersediaan kas untuk mendukung berbagai transaksi korporasi harian secara efisien.

Bagi kelangsungan usaha EMAS pada masa mendatang, fasilitas pendanaan ini memberikan kepastian operasional dan memitigasi risiko likuiditas atau refinancing risk di tengah dinamika kondisi makroekonomi pasar global.

Fleksibilitas penggunaan dana, termasuk untuk pendanaan intragrup, juga memungkinkan EMAS menyalurkan modal kerja kepada anak-anak usaha operasional yang sedang bertumbuh.Hal ini memastikan ekosistem bisnis Merdeka Gold Resources tetap solid dan resilient, sekaligus menjaga kelancaran operasional di seluruh rantai nilai bisnis perusahaan.

Terkait dengan Proyek Emas Pani, masuknya fasilitas pinjaman ini menjadi katalis positif yang sangat krusial untuk mempercepat progres pengembangannya. Sebagai salah satu aset tambang emas primer berprospek raksasa di Indonesia yang membutuhkan belanja modal (capital expenditure) berkesinambungan, kepastian alokasi capex dari pinjaman ini menekan risiko keterlambatan (delay) akibat kendala arus kas.

"Ketersediaan modal kerja yang terjamin ini memungkinkan akselerasi pekerjaan teknis dan konstruksi di lapangan, sehingga perseroan dapat menjaga ritme untuk mencapai target pengecoran emas pertama (first gold pour) dan tahap produksi komersial secara tepat waktu,” ujar Nafan kepada Kontan, Kamis (29/10/2026).

Baca Juga: IHSG Anjlok 3,49% ke 5.098, Waspadai Jika Sentuh Support di Level 4.980 Jumat (30/10)

Meskipun demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko finansial dan operasional dari aksi korporasi ini. Penambahan pokok pinjaman hingga US$ 435 juta secara otomatis meningkatkan rasio leverage (DER) serta beban bunga perusahaan. Hal ini berpotensi menekan laba bersih jika tidak diimbangi peningkatan kinerja operasional.

Selain itu, Nafan menilai penggunaan denominasi Dolar AS membuat EMAS terpapar risiko fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan dinamika suku bunga acuan global. Karena itu, efektivitas instrumen lindung nilai (hedging) menjadi sangat vital.

Investor juga perlu mengawasi risiko eksekusi proyek, seperti pembengkakan biaya (cost overrun) atau kendala teknis, agar percepatan Proyek Pani dapat merealisasikan imbal hasil investasi secara optimal. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, Nafan merekomendasikan saham EMAS dengan status wait and see.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News