KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia masih melanjutkan tren koreksi hingga pekan ini. Setelah sempat melonjak akibat memanasnya konflik di Timur Tengah, harga minyak kini kembali tertekan seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global. Melansir
Trading Economics pada Kamis (25/6/2026) pukul 17.50 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 69,6 per barel atau melemah 8,45% sepekan dan 26,04% dalam sebulan terakhir.
Senada, harga minyak Brent juga mengalami koreksi 8,99% sepekan dan 24,83% sebulan menjadi US$ 72,8 per barel. Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, mengatakan koreksi harga minyak saat ini terutama dipicu oleh melemahnya prospek permintaan global.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Turun, Rupiah Menguat ke Rp 17.943 per Dolar AS Menurutnya, tekanan dari sisi permintaan terlihat dari menurunnya impor minyak mentah China yang merupakan konsumen sekaligus importir minyak terbesar di dunia. Wahyu mencatat pada Mei 2026, impor minyak China turun ke sekitar 7,8 juta barel per hari, level terendah dalam delapan tahun terakhir. “Koreksi serentak pada WTI dan Brent terutama dipicu oleh fenomena demand destruction atau penurunan konsumsi akibat harga yang terlalu mahal,” ujar Wahyu kepada Kontan, Kamis (25/6/2026). Selain faktor permintaan, pasar juga merespons positif perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Meredanya ketegangan antara Iran dan Israel membuat premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak mulai menghilang. Wahyu menjelaskan, optimisme terhadap tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran turut meningkatkan keyakinan pasar bahwa pasokan minyak global akan tetap terjaga. Apalagi, Selat Hormuz yang sebelumnya menjadi perhatian utama pelaku pasar kini kembali terbuka sehingga mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan distribusi minyak dunia.
Baca Juga: Harga Minyak Melanjutkan Pelemahan Kamis (25/6) Pagi, Ada Sinyal Peningkatan Pasokan Menurut dia, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam beberapa waktu terakhir juga terus menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan dengan Iran semakin dekat. Bahkan, Trump disebut mendorong Israel untuk menahan eskalasi konflik demi membuka ruang bagi proses perdamaian. "Intinya, tercapainya kesepakatan damai dan dibukanya Selat Hormuz memicu sentimen positif yang menekan harga minyak dunia," kata Wahyu. Dari sisi makroekonomi, tekanan terhadap harga minyak juga datang dari penguatan indeks dolar AS dan ekspektasi suku bunga tinggi yang masih bertahan di Amerika Serikat. Penguatan dolar membuat minyak menjadi lebih mahal bagi negara-negara dengan mata uang lain sehingga berpotensi menekan permintaan global. Sementara itu, kebijakan moneter ketat bank sentral AS juga berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia. Jika aktivitas ekonomi melambat, konsumsi energi global turut berpotensi menurun. Wahyu menilai penurunan harga minyak kali ini lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap fundamental permintaan dibandingkan faktor spekulatif jangka pendek.
Baca Juga: Harga Minyak Terkoreksi Rabu (24/6) Pagi, Seiring Kemajuan Mengakhiri Perang Iran Bahkan, Energy Information Administration (EIA) dilaporkan telah memangkas proyeksi permintaan minyak global untuk tahun 2026. Meski demikian, Wahyu masih mempertahankan proyeksi harga minyak hingga akhir kuartal III 2026 dalam rentang yang relatif lebar mengingat volatilitas pasar energi masih tinggi. Untuk minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), ia memperkirakan harga akan bergerak di kisaran US$ 60-US$ 90 per barel hingga akhir September 2026. Ada pun minyak Brent diproyeksikan bergerak pada rentang US$ 65-US$ 95 per barel. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News