KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 semakin memperlihatkan kuatnya ekspansi merek asal China di pasar otomotif Indonesia. Kehadiran merek China tidak hanya bertambah dari sisi jumlah, tetapi juga semakin luas menyasar segmen pasar massal melalui peluncuran kendaraan listrik dengan harga yang lebih terjangkau. Analis Indo Premier Sekuritas Aurelia Barus dalam riset 12 Agustus 2026 mengatakan, GIIAS 2026 diikuti 43 merek mobil penumpang, meningkat dibandingkan 38 merek pada 2025. Dari jumlah tersebut, 20 merupakan merek China, naik dari 15 merek pada tahun sebelumnya. Sementara itu, terdapat 10 merek Jepang, dua merek Korea, serta 11 merek lainnya dari Eropa, Amerika Serikat, dan Vietnam. “GIIAS 2026 kembali menunjukkan dominasi merek China, dengan peluncuran kendaraan elektrifikasi atau xEV tetap menjadi sorotan utama,” ujar Aurelia dalam riset.
Baca Juga: Harga Minyak Kembali Menguat, Brent Berpeluang Tembus US$ 100 Menurut Aurelia, total terdapat 21 model xEV baru yang diperkenalkan pada GIIAS tahun ini, naik dari 20 model pada 2025. Tren tersebut menunjukkan bahwa persaingan di pasar kendaraan listrik Indonesia semakin intensif, terutama dengan semakin beragamnya pilihan model dan rentang harga. Aurelia menilai produsen otomotif China terus memperluas portofolio mereka ke segmen pasar massal. Salah satu pendatang baru adalah BAW yang melakukan debutnya di Indonesia dengan memperkenalkan empat model, yakni M8, D5, T01, dan X03. BAW M8 merupakan MPV premium yang diposisikan sebagai pesaing Denza D9 dengan estimasi harga Rp 700 juta-Rp 750 juta. Model ini direncanakan diproduksi secara lokal, sementara pemesanan dan pengiriman dijadwalkan mulai September 2026. Namun, jaringan diler BAW masih dalam tahap pengembangan. Sementara itu, BAW D5 merupakan mobil listrik kompak yang diperkirakan dibanderol Rp 200 juta-Rp 300 juta dan akan bersaing dengan BYD Atto 1. Adapun T01 dan X03 merupakan SUV bermesin diesel dengan perkiraan harga sekitar Rp 1 miliar. Merek China lainnya juga agresif meluncurkan model baru. Chery memperkenalkan Chery Q, mobil listrik berbasis baterai (BEV) berukuran kompak dengan harga Rp 250 juta-Rp 270 juta dan jarak tempuh hingga 400 kilometer. Model tersebut akan berhadapan dengan BYD Atto 1, Geely EX2, dan Wuling Air EV. Wuling turut menghadirkan Aira EV yang dibanderol sekitar Rp 155 juta-Rp 175 juta dengan jarak tempuh 205-301 kilometer. Sementara itu, Changan memperkenalkan Nevo Q05, SUV BEV dengan harga Rp 309 juta-Rp 359 juta dan jarak tempuh hingga 462 kilometer. Model tersebut akan bersaing dengan Chery Omoda E5 dan Aion Y Plus. Berbeda dengan merek China yang semakin agresif masuk ke segmen mass market, produsen Jepang dan Korea cenderung mengarahkan peluncuran xEV mereka ke segmen premium. Honda memperkenalkan Super-ONE, BEV kompak seharga Rp 438 juta dengan jarak tempuh 252 kilometer. Harga tersebut menempatkannya pada posisi premium dibandingkan mobil listrik kompak lainnya.
Baca Juga: Ekspansi JIIPE dan LNG Jadi Mesin Kinerja AKRA, Analis Kompak Rekomendasi Buy Toyota meluncurkan Land Cruiser Hybrid dengan harga sekitar Rp 2,7 miliar-Rp 2,8 miliar, sedikit lebih tinggi dibandingkan varian dieselnya yang dibanderol Rp 2,6 miliar-Rp 2,7 miliar. Mazda turut memperkenalkan Mazda 6E, sedan BEV dengan harga Rp850 juta dan jarak tempuh hingga 560 kilometer. Sementara Hyundai membawa Ioniq 9, SUV tujuh penumpang yang dipasarkan dengan harga sekitar Rp 1,5 miliar. Di tengah semakin luasnya pilihan xEV, terutama dari merek China, Aurelia menilai Astra International (ASII) masih berpeluang mempertahankan pangsa pasarnya di Indonesia. Laporan mengenai GIIAS 2026 menunjukkan jumlah pengunjung meningkat sekitar 5%-10% secara tahunan. Meski demikian, total transaksi selama pameran hingga kini belum diumumkan. Aurelia memperkirakan permintaan wholesale kendaraan roda empat sepanjang 2026 akan melampaui target Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) sebesar 850.000 unit. Optimisme tersebut ditopang oleh semakin beragamnya pilihan kendaraan dengan harga terjangkau serta kinerja wholesale yang lebih kuat hingga Juli 2026. Kendati produsen Jepang masih tertinggal dari merek China dalam penetrasi pasar xEV di Indonesia, ASII diperkirakan mampu mempertahankan pangsa pasar sekitar 50% pada 2026. “ASII diperkirakan tetap mampu mempertahankan pangsa pasar 50% pada FY26F dan memenuhi target volume yang sebelumnya telah kami tingkatkan,” kata Aurelia.
Menurutnya, kinerja tersebut akan didukung oleh pengiriman Toyota Veloz Hybrid yang telah diluncurkan sejak November 2025 serta permintaan kendaraan komersial yang tetap solid. Permintaan kendaraan komersial khususnya diperkirakan terbantu oleh proyek-proyek pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KopDes).
Baca Juga: Laba Pengembang Properti Tertekan, BSDE, PWON, SMRA Meleset dari Ekspektasi Dengan mempertimbangkan prospek tersebut, Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi
overweight untuk sektor otomotif. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News