Merger KAI-INKA Makin Dekat, Akuisisi Ditargetkan Tuntas November 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana integrasi PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI dengan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA memasuki tahap yang lebih konkret. 

KAI menargetkan proses akuisisi INKA dapat dituntaskan pada November 2026 sebagai bagian dari konsolidasi BUMN yang didorong oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan integrasi kedua perusahaan merupakan arahan pemegang saham untuk memperkuat industri perkeretaapian nasional sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.


"Itu arahan Danantara. Pokoknya tahun ini," kata Bobby usai rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (3/6/2026).

Baca Juga: 2025, Kesepakatan Merger Akuisisi Sektor Keuangan Indonesia Capai Rp 9,21 triliun

Menurut Bobby, setelah proses integrasi rampung, KAI akan berperan sebagai perusahaan induk (holding), sementara INKA menjadi subholding yang fokus pada bisnis manufaktur sarana perkeretaapian.

Senada, Direktur Portofolio Management dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, pun mengungkapkan pemegang saham telah memberikan mandat kepada KAI dan INKA pada 18 Mei 2026 untuk melakukan uji tuntas (due diligence) dan kajian komprehensif terkait integrasi kedua perusahaan.

Kajian tersebut mencakup penguatan kepastian pasokan sarana kereta, peningkatan efisiensi operasional, penciptaan sinergi jangka panjang, hingga penyehatan fundamental bisnis INKA.

Gede menjelaskan, KAI telah memiliki peta kebutuhan sarana yang cukup besar dalam lima tahun mendatang. Perseroan memperkirakan membutuhkan sekitar 2.000 gerbong gondola, 1.200 gerbong datar, 652 kereta penumpang, serta 30 rangkaian kereta rel listrik (KRL) untuk Jabodetabek.

Baca Juga: KAI Commuter Bersama INKA Operasikan Dua Rangkaian KRL Baru di Lintas Bogor

Eko menilai dengan kebutuhan tersebut, diperlukan kerja sama yang lebih terintegrasi antara operator dan manufaktur agar pengadaan sarana dapat direncanakan dalam jangka panjang.

"Kami berharap KAI dan INKA bisa membuat roadmap kerja sama pengadaan sarana jangka panjang, bukan hanya tahunan atau jangka pendek," ujar Gede.

Ia mengungkapkan KAI telah mengamankan potensi pesanan untuk INKA senilai sekitar Rp 18,9 triliun dalam lima tahun ke depan.

Selain itu, bisnis maintenance, repair and overhaul (MRO) atau perawatan sarana kereta diperkirakan mampu menghasilkan pendapatan berulang sekitar Rp3 triliun per tahun atau setara Rp15 triliun dalam lima tahun.

Menurut Gede, kepastian pesanan dan pendapatan berulang tersebut dapat menjadi fondasi untuk memperbaiki kondisi keuangan INKA sekaligus memperkuat industri kereta api nasional.

Sementara itu, anggota Komisi VI DPR RI, Rizal Bawazier, menyatakan mendukung rencana integrasi KAI dan INKA. 

Baca Juga: Nilai Kesepakatan Merger dan Akuisisi di Indonesia Merosot 72,1% di 2025

"Saya secara pribadi dan fraksi pun mungkin setuju. Di sini ada surat dari BP BUMN mengenai rencana integrasi KAI dengan INKA, ini sangat bagus. Dan rencananya akan ada tanda tangan akuisisi INKA pada November," ujar Rizal.

Ia menilai langkah tersebut dapat mengurangi ketergantungan impor sarana kereta dan meningkatkan pemanfaatan kapasitas produksi dalam negeri.

Rizal berharap kebutuhan armada dan komponen perkeretaapian yang selama ini dipenuhi dari luar negeri dapat secara bertahap diproduksi oleh INKA. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News