Merger MI Danantara Jadi Momentum Peningkatan GCG dan Manajemen Risiko



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konsolidasi empat manajer investasi (MI) di bawah Danantara menjadi langkah strategis untuk memperkuat daya saing sekaligus membangun kepercayaan investor. Namun, keberhasilan aksi korporasi ini dinilai tak cukup diukur dari potensi imbal hasil. Investor juga menuntut tata kelola perusahaan yang baik, transparansi, disiplin manajemen risiko, dan akuntabilitas dalam setiap keputusan investasi.

Empat MI yang dilebur melalui PT Danantara Asset Management (DAM) adalah PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI), PT BRI Manajemen Investasi (BRIMI), PT BNI Asset Management (BNIAM), dan PT PNM Investment Management (PNMIM). Efektif sejak 1 Oktober 2026, konsolidasi ini ditargetkan memperkuat kapabilitas serta daya saing di pasar regional dan global.

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, mengingatkan pentingnya uji tuntas (due diligence) sebelum integrasi dilakukan. Menurut dia, langkah tersebut krusial untuk memastikan konsolidasi berjalan sehat dan memberikan nilai tambah bagi bisnis.


Baca Juga: Danantara Targetkan Konsolidasi Perusahaan Asuransi BUMN Rampung di Akhir 2026

“Mengapa mergers and acquisitions ini dilakukan? Jelas alasan teknisnya adalah perampingan/efisiensi, perbaikan kualitas manajemen, perbaikan produk investasi, perbaikan layanan, pengurangan kompetisi antarperusahaan investasi pemerintah, dan lain-lain,” ujar Eddy dalam keterangannya dikutip Kamis (5/11/2026).

Eddy menambahkan, penguatan manajemen risiko harus menjadi prioritas agar tujuan konsolidasi tercapai. Sebab, bagi investor, kepercayaan terhadap MI bukan hanya soal imbal hasil, melainkan juga kemampuan menjaga risiko dan memastikan setiap keputusan investasi dijalankan secara akuntabel.

Seiring membesarnya dana kelolaan, Eddy menekankan pentingnya penguatan pengawasan internal agar perusahaan tetap inovatif tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian. Ia juga mendorong pembentukan kultur organisasi yang kritis dan meritokratis, serta memastikan talenta terbaik mendapat ruang untuk berkembang. Menurutnya, kualitas SDM dan manajemen risiko menjadi kunci mewujudkan ambisi Danantara menembus pasar global.

Baca Juga: Merger 4 MI Danantara Diikuti Pembenahan SDM dan Teknologi

Senada, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai konsolidasi empat MI masuk akal secara bisnis karena berpotensi menciptakan entitas yang lebih besar dan efisien. Namun, skala usaha yang membesar harus diimbangi penerapan GCG yang transparan untuk menjamin independensi pengelolaan investasi.

Wafi mengingatkan adanya risiko konflik kepentingan karena Danantara menjadi pemilik MI sekaligus pemilik emiten BUMN yang berpotensi menjadi sasaran investasi perusahaan tersebut. Karena itu, investor membutuhkan kepastian bahwa dana nasabah dikelola secara independen, bukan untuk menopang saham BUMN.

Menurut Wafi, transparansi batas eksposur terhadap grup BUMN, independensi keputusan investasi dari pemegang saham, keterbukaan pelaporan, serta perlindungan investor ritel dari praktik salah jual (mis-selling) melalui jaringan cabang bank menjadi kunci menjaga kepercayaan pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News