Merger Tesla dan SpaceX Terancam Terganjal China, Ini Penyebabnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana merger raksasa antara Tesla dan SpaceX yang digagas Elon Musk berpotensi menghadapi hambatan besar dari China dan Amerika Serikat (AS). Persoalan keamanan nasional, perlindungan data pengguna, serta pembatasan transfer teknologi menjadi tantangan utama bagi rencana penggabungan dua perusahaan tersebut.

Reuters melaporkan pada 22 Oktober, Musk pada Selasa menyatakan bahwa Tesla dan SpaceX telah membentuk komite khusus untuk membahas kemungkinan penggabungan bisnis. Ia menyebut merger tersebut sebagai “ide yang bagus”.

Namun, merealisasikan rencana itu tidak akan mudah. Tesla sangat bergantung pada China untuk kegiatan manufaktur, sedangkan SpaceX memiliki bisnis pertahanan yang berkaitan erat dengan pemerintah AS.


SpaceX semakin bergantung pada kontrak sensitif dari pemerintah dan sektor pertahanan AS. Kondisi ini berpotensi membuat merger yang melibatkan bisnis Tesla di China mendapat pemeriksaan ketat terkait keamanan nasional.

Di sisi lain, regulator China mewajibkan Tesla menjaga kerahasiaan data pengguna yang dikumpulkan melalui sistem berkendara otomatisnya. Data tersebut harus tetap berada di China, sehingga diperlukan mekanisme pembatasan yang mencegah pertukaran informasi maupun teknologi antara kedua perusahaan.

Berikut sejumlah opsi yang dapat ditempuh Elon Musk dan kedua perusahaan untuk mengatasi hambatan dari Washington maupun Beijing.

Bisakah Tesla Mempertahankan Bisnisnya di China?

Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan adalah membentuk pemisahan akses atau firewall di dalam perusahaan hasil merger. Mekanisme ini bertujuan mencegah SpaceX maupun unit bisnis lainnya mengakses data sensitif dari operasional Tesla di China.

Kepala praktik otomotif dan mobilitas di perusahaan konsultan Intralink Group, Daniel Kollar, mengatakan skema tersebut bukan hal baru. Menurut dia, sejumlah perusahaan mampu menjalankan bisnis pertahanan berskala besar di luar China sambil tetap mempertahankan operasional di negara tersebut.

Baca Juga: Kerugian Ekonomi China akibat Bencana Mencapai US$ 29,9 Miliar hingga September 2026

Ia mencontohkan Airbus dan Honeywell yang memiliki kegiatan bisnis di berbagai negara dengan karakteristik dan kebutuhan regulasi berbeda.

Bisnis SpaceX yang berkaitan dengan pertahanan antara lain Starshield, yang mengembangkan sistem satelit militer dan intelijen untuk Pentagon.

Analis menilai pemisahan akses dua arah juga kemungkinan menjadi persyaratan minimum untuk memastikan data pengemudi Tesla di China tidak keluar dari negara tersebut. Sejak 2021, Tesla telah mematuhi ketentuan Beijing yang mewajibkan seluruh data pengemudi disimpan di China.

Michael Dunne, CEO perusahaan konsultan otomotif Dunne Insights yang mengikuti perkembangan industri otomotif China, mengatakan Tesla berpotensi terus beroperasi di negara tersebut selama bertahun-tahun sebagai unit mandiri.

Unit tersebut dapat memiliki kegiatan penelitian dan pengembangan (R&D) sendiri, disertai perjanjian ketat yang memastikan seluruh data tetap berada di China.

Meski demikian, menjaga agar Beijing dan Washington sama-sama menerima skema pemisahan tersebut bukan perkara mudah.

Christopher Tang, profesor di UCLA Anderson School of Management yang mengkhususkan diri pada rantai pasok global, menilai pemerintah China kemungkinan akan memanfaatkan rencana merger tersebut untuk menegosiasikan sejumlah persyaratan sebelum memberikan persetujuan.

"China akan menggunakannya sebagai daya tawar," kata Tang.

"Saat ini, mereka memiliki kekuatan tawar," lanjutnya.

Sementara itu, Ioannis Kokkoris, profesor hukum persaingan dan ekonomi di Queen Mary University of London, mengidentifikasi dua konsesi yang berpotensi diminta China. Pertama, akses bagi perusahaan China terhadap teknologi yang memiliki arti strategis. Kedua, komitmen untuk mempertahankan kapasitas manufaktur dan investasi di China.

Namun, tuntutan untuk membagikan teknologi sensitif yang berkaitan dengan SpaceX berpotensi berbenturan langsung dengan pembatasan keamanan yang berlaku di AS.

Divestasi Bisnis Tesla di China Jadi Alternatif?

Opsi lain yang dapat ditempuh adalah memisahkan bisnis Tesla di China dari perusahaan gabungan. Para analis mengidentifikasi tiga jalur utama untuk melakukan divestasi.

Pertama, memisahkan bisnis tersebut melalui skema perusahaan tersendiri, dengan Tesla tetap mempertahankan kepemilikan mayoritas secara ekonomi.

Kedua, menjual bisnis dengan disertai perjanjian lisensi merek untuk jangka panjang.

Baca Juga: Situs Web Pemerintah Tumbang, Celah Keamanan PHP Terungkap Berkat AI

Ketiga, menjual seluruh bisnis kepada pihak lain, termasuk kemungkinan kepada produsen otomotif lain.

Namun, setiap opsi memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait calon pembeli aset tersebut.

Li Yanwei, analis dari China Automobile Dealers Association, menilai produsen otomotif China kemungkinan tidak tertarik membeli bisnis tersebut karena mereka tidak membutuhkan tambahan kapasitas produksi.

Sementara itu, banyak produsen otomotif asing sedang menghadapi keterbatasan keuangan sehingga berpotensi enggan mengambil alih bisnis Tesla di China.

Kollar memperkirakan Musk lebih mungkin menjual aset operasional Tesla di China secara terpisah berdasarkan komponennya daripada menyerahkan kendali bisnis tersebut kepada pihak lain.

Meski demikian, Kollar menambahkan bahwa selama Musk tidak ingin memberikan sinyal bahwa dirinya mundur dari bisnis otomotif, Tesla kemungkinan akan mencari cara untuk mempertahankan operasionalnya di China dengan struktur kepemilikan yang ada saat ini.

Tesla China dan Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar China belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters.

China Masih Penting bagi Arus Kas Tesla

Melepaskan bisnis Tesla dari China sepenuhnya bukan perkara sederhana. Jaringan pemasok China telah terintegrasi erat dengan berbagai bisnis dalam ekosistem usaha Musk.

Yale Zhang, direktur pelaksana perusahaan konsultan AutoForesight yang berbasis di Shanghai, menyebut produksi Tesla di Shanghai menyumbang lebih dari 50% dari total produksi global perusahaan tersebut.

Meski demikian, sejumlah investor menilai ketergantungan itu belum tentu cukup besar untuk menggagalkan rencana merger.

Brian Mulberry, kepala strategi pasar di Zacks Investment Management yang berinvestasi pada Tesla dan SpaceX, mengatakan basis manufaktur Tesla di China memang signifikan. Namun, produsen kendaraan listrik tersebut telah mengambil langkah untuk memperluas produksi di AS.

Ekspansi itu terutama diarahkan pada produksi robot humanoid dan Cybercab, kendaraan tanpa pengemudi yang dikembangkan Tesla. Menurut Mulberry, banyak investor lebih berfokus pada prospek dan janji Musk mengenai pengembangan kedua produk tersebut.

Mulberry juga menilai Tesla kemungkinan akan meyakinkan regulator AS bahwa kegiatan operasionalnya di China tidak tumpang tindih dengan bisnis SpaceX. Namun, jika upaya tersebut tidak berhasil, ia memperkirakan Tesla dapat menutup atau mengurangi skala produksinya di China.

Baca Juga: Harga Minyak Naik, Dipicu Serangkaian Serangan Houthi di Arab Saudi

"Ini cukup bersifat jangka pendek dan skalanya cukup kecil sehingga masih bisa ditanggung," katanya.

Pandangan berbeda disampaikan Tang dari UCLA. Ia mengatakan prospek masa depan Tesla mungkin akan lebih banyak berkembang di luar China, tetapi bisnis kendaraan listrik perusahaan saat ini masih sangat bergantung pada negara tersebut.

Menurut Tang, sebagian besar arus kas yang dibutuhkan untuk membiayai investasi dan pengembangan bisnis Tesla pada masa mendatang berasal dari produksi kendaraan listrik di China.

"Justru itulah alasan China akan memanfaatkan momentum ini," kata Tang.

"Karena Anda masih membutuhkan mereka," tambahnya.

Dengan demikian, tantangan merger Tesla dan SpaceX tidak hanya berkaitan dengan persetujuan regulator, tetapi juga menyangkut keseimbangan kepentingan bisnis dan keamanan nasional kedua negara. Tesla perlu mempertahankan sumber produksi dan arus kasnya, sementara SpaceX harus melindungi teknologi serta kontrak pertahanan yang sensitif.

Keputusan mengenai struktur kepemilikan, pemisahan data, dan kemungkinan divestasi bisnis Tesla di China akan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah rencana penggabungan dua perusahaan milik Elon Musk tersebut dapat direalisasikan.