Mesir Naikkan Harga Bahan Bakar Hingga 17% di Tengah Gejolak Energi Global



KONTAN.CO.ID - Pemerintah Mesir menaikkan harga berbagai produk bahan bakar, menyusul kenaikan harga minyak dan gas global serta gangguan pasokan energi di Timur Tengah akibat perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran, menurut pernyataan Kementerian Perminyakan Mesir.

“Kenaikan ini dilakukan karena situasi luar biasa yang muncul akibat perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan dampaknya secara langsung terhadap pasar energi global,” kata kementerian dalam sebuah pernyataan pada Selasa (10/3/2026).

Baca Juga: Pasar Asia Bangkit dan Harga Minyak Jatuh, Trump: Perang Iran Bisa Segera Berakhir


Keputusan ini menyusul pernyataan Perdana Menteri Mesir, Mostafa Madbouly, pada 3 Maret lalu yang menyebut pemerintah bisa mengambil “langkah-langkah luar biasa” jika harga bahan bakar global meningkat tajam akibat perang.

Dampak Perang Terhadap Energi Global

Harga minyak dan gas global meningkat karena perang telah menghentikan ekspor energi dari Timur Tengah.

Serangan Iran terhadap kapal dan fasilitas energi telah menutup jalur pelayaran di Teluk dan memaksa penghentian produksi di negara-negara mulai dari Qatar hingga Irak.

Baca Juga: Emas Spot Stabil US$ 5.131 Selasa (10/3), Trump Prediksi Perang Bisa Segera Berakhir

Kenaikan Harga Bahan Bakar

Kenaikan harga ini berkisar antara 14% hingga 17% untuk berbagai jenis produk minyak, menjadi kenaikan pertama pada 2026.

Kenaikan sebelumnya terjadi pada Oktober 2025 sebesar 10,5% hingga 12,9%, meski pemerintah saat itu berencana membekukan harga domestik setidaknya selama setahun, mengacu pada perkembangan lokal, regional, dan global.

Diesel naik 3 pound Mesir menjadi 20,50 pound per liter dari 17,50 pound, bahan bakar yang paling banyak digunakan di negara ini.

Harga bensin naik hingga 16,9%, tergantung oktan: 80 oktan menjadi 20,75 pound per liter, 92 oktan menjadi 22,25 pound, dan 95 oktan naik ke 24 pound per liter.

Baca Juga: Trump Ancam Eskalasi Perang Iran, tapi Sebut Konflik Bisa Segera Berakhir

Latar Belakang Ekonomi

Mesir telah mengambil beberapa fasilitas pembiayaan dari International Monetary Fund (IMF) sejak 2016, termasuk program pinjaman US$ 12 miliar untuk memulihkan ekonomi setelah bertahun-tahun mengalami gejolak politik pasca-Arab Spring.

Sejak itu, IMF mendorong pemerintah Mesir memangkas subsidi bahan bakar, listrik, dan pangan sambil memperluas jaringan pengaman sosial.

Pada Maret 2024, Mesir menyepakati program pinjaman tambahan senilai US$ 8 miliar dengan lembaga tersebut.

Kenaikan harga bahan bakar ini menunjukkan tekanan global terhadap ekonomi Mesir akibat gejolak energi di Timur Tengah dan meningkatnya harga minyak dunia.