Mesir Ukir Sejarah di Piala Dunia, Singkirkan Australia dan Lolos ke Babak 16 Besar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tim nasional Mesir menorehkan salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah sepak bola mereka setelah memastikan tiket ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Kemenangan dramatis atas Australia melalui adu penalti menjadi tonggak baru bagi tim berjuluk Pharaohs yang selama ini dikenal sebagai kekuatan besar di Afrika, namun belum mampu berbicara banyak di pentas dunia.

Pada pertandingan yang berlangsung di Arlington, Texas, Jumat (3/7/2026), Mesir bermain imbang 1-1 melawan Australia hingga waktu normal dan perpanjangan waktu selama 120 menit berakhir. Pemenang akhirnya ditentukan lewat adu penalti, di mana Mesir keluar sebagai pemenang dengan skor 4-2.


Hasil tersebut menjadi kemenangan pertama Mesir pada laga fase gugur Piala Dunia. Catatan itu kontras dengan reputasi mereka sebagai pemegang rekor tujuh gelar Piala Afrika serta salah satu pelopor perkembangan sepak bola di Benua Afrika.

Baca Juga: FIFA: Jadwal Meksiko vs Inggris Tetap Sesuai Rencana Meski Ada Ancaman Cuaca Buruk

Mesir pertama kali tampil di Piala Dunia pada edisi 1934, menjadikannya negara Afrika pertama yang lolos ke turnamen tersebut. Setelah itu, mereka hanya mampu kembali tampil di putaran final sebanyak tiga kali. Bahkan, kemenangan pertama Mesir di ajang Piala Dunia baru diraih dua pekan lalu saat mengalahkan Selandia Baru dengan skor 3-1 di Vancouver.

Kini, keberhasilan melangkah ke babak 16 besar menjadi pencapaian bersejarah yang disambut penuh kebanggaan oleh para pemain.

Kapten Mesir, Mohamed Salah, menyebut keberhasilan ini sebagai momen penting bagi negaranya.

"Saya senang kami berhasil menorehkan sejarah hari ini," ujar Salah.

Laga Berjalan Ketat

Besarnya tekanan untuk menghindari kekalahan membuat kedua tim tampil hati-hati sepanjang pertandingan. Meski demikian, baik Mesir maupun Australia tetap mampu menciptakan sejumlah peluang berbahaya di depan gawang lawan.

Pelatih Hossam Hassan kembali menerapkan pendekatan yang mengutamakan pertahanan. Strategi tersebut cukup kontras dengan karakter sang pelatih saat masih aktif bermain sebagai penyerang yang dikenal produktif mencetak gol.

Di lini depan, Mohamed Salah dan Omar Marmoush beberapa kali menjadi andalan dalam melancarkan serangan balik cepat. Namun, sepanjang turnamen, termasuk saat menghadapi Australia, Mesir dinilai terlalu banyak menempatkan pemain di area pertahanan sehingga kurang optimal dalam menambah daya gedor ketika menyerang.

Baca Juga: Messi Pimpin Top Skor! Mbappe & Haaland Berapa Gol di Piala Dunia 2026?

Ironisnya, upaya meminimalkan risiko justru berbuah petaka ketika bek sayap Mohamed Hany kembali mencetak gol bunuh diri dari situasi bola mati. Itu menjadi gol bunuh diri keduanya sepanjang turnamen dan menunjukkan masih adanya kelemahan Mesir dalam mengantisipasi skema bola mati lawan.

Kondisi Mohamed Salah Jadi Sorotan

Salah juga sempat menjadi perhatian karena datang ke pertandingan dengan masalah pada otot hamstring. Meski mampu menyelesaikan pertandingan hingga 120 menit, beberapa kali ia terlihat menahan diri untuk tidak melakukan sprint maksimal demi menghindari risiko cedera yang lebih parah.

Apabila Mesir ingin terus melanjutkan langkah bersejarah mereka di Piala Dunia 2026, kondisi kebugaran Salah diperkirakan akan menjadi faktor krusial pada laga-laga berikutnya.

Terlepas dari hasil yang akan diraih pada fase selanjutnya, keberhasilan menembus babak 16 besar untuk pertama kalinya sudah memastikan skuad Mesir saat ini akan dikenang sebagai generasi yang berhasil membawa sepak bola negara tersebut mencapai level tertinggi dalam sejarah Piala Dunia.