Meski ada perang bunga, bank kecil akui likuiditas masih aman



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah bank kecil mengatakan perebutan dana masyarakat di pasar semakin ketat. Hal tersebut terjadi seiring pesatnya pertumbuhan kredit yang tidak diikuti dengan kenaikan dana pihak ketiga (DPK). 

Kendati demikian, PT Bank Sahabat Sampoerna (BSS) mengaku tidak terlalu terdampak dengan persaingan tersebut. Direktur Keuangan BSS Henky Suryaputra mengatakan BSS tidak mengikuti alur bank-bank lain yang dengan cepat menaikkan suku bunga. "BSS tidak terlalu terdampak dikarenakan kita memang tidak mau ikutan dengan bank-bank lain dengan cepat menaikkan suku bunga sehingga terjadi pricing war (perang bunga)," tuturnya kepada Kontan.co.id, Jumat (26/10).

Belum lagi, ada beberapa bank besar terutama di BUKU III yang gencar mencari dana nasabah bahkan sampai melangkahi aturan mengenai batas maksimal bunga yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Salah satunya dengan memberikan voucher maupun cashback.


"Banyak bank-bank BUKU III yang seharusnya sudah ada aturan OJK dan tidak mengikuti aturan tersebut sehingga bank-bank BUKU III ini mengambil porsi bank BUKU I dan II dengan interest rate yang hampir sama atau lebih tinggi dari bank BUKU I dan II," terang Henky.

Bukan hanya bersaing dengan bank besar, bank kecil juga harus adu kuat dengan surat berharga negara seperti Obligasi Ritel Indonesia (ORI) seri 015 yang memberikan kupon sebesar 8,25%.

"Benar, ada dana-dana sebagian pindah (ke ORI015 dan kompetitor)," tuturnya. 

Saat ini kondisi loan to deposit ratio (LDR) bank milik taipan ini terbilang cukup tinggi yakni di kisaran 92%-94%.

Menurut Henky, kondisi likuiditas Bank Sahabat Sampoerna masih akan stabil dan memang akan dijaga di posisi saat ini.

Sementara itu, PT Bank Mayora justru mencatatkan DPK tetap tumbuh tinggi. Direktur Utama Bank Mayora Irfanto Oeij menyebut sampai kuartal III-2018 DPK Bank Mayora naik 10,12% secara year on year (yoy) dari Rp 4,23 triliun menjadi Rp 4,65 triliun.

Jumlah DPK tersebut diprediksi akan tetap tumbuh dengan target capaian dana sebesar Rp 4,73 triliun. Beberapa strategi yang disiapkan Bank Mayora yakni dengan mendorong peningkatan dana murah lewat pembuatan program-program menarik.

Antara lain dengan top up dana yang bertujuan agar dana di Bank Mayora tidak keluar. Serta meningkatkan hubungan baik dengan para nasabah existing.

"Posisi DPK Bank Mayora kuartal III secara year on year tumbuh 10,12% dari Rp 4,23 triliun menjadi Rp 4,65 triliun," ujarnya.

Berbeda dengan bank milik konglomerat, PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (Bank Banten) mengatakan tren DPK untuk BPD tergolong unik. Sebabnya, pada penghujung tahun bank daerah harus tetap berburu dana ritel.

"Hal tersebut lantaran posisi giro Pemda pada akhir tahun mengalami penurunan, dikarenakan pembayaran realisasi anggaran APBD yang jatuh tempo di akhir tahun," ujar Direktur Utama Bank Banten Fahmi Bagus Mahesa.

Oleh karena itu, strategi pendanaan Bank Banten pada akhir tahun yakni dengan melakukan penguatan dengan meningkatkan program untuk pemasaran deposito dengan deposan inti. Sementara untuk meningkatkan dana ritel, bank bersandi emiten BEKS ini melakukan pendekatan dengan lembaga pemerintahan atau institusi untuk meningkatkan jumlah rekening giro dan tabungan.

Dus, hingga akhir tahun Bank Banten berencana untuk menjaga LDR di kisaran 90%-92%. "Jadi strategi pendanaan Bank Banten harus memperhatikan penyaluran kredit juga hingga akhir tahun," sambungnya.

Saat ini posisi LDR Bank Banten masih dalam batas aman yakni di level 83%. Beberapa bentuk pemenuhan likuiditas yang bisa dilakukan bank kecil terutama Bank Banten menurut Fahmi yakni melalui kerjasama repurchase agreement (repo) ataupun global master repurchase agreement (GMRA).

"Kami tetap harus meningkatkan likuiditas di akhir tahun untuk menutup dana-dana Pemda yang banyak digunakan untuk pembayaran proyek. Hampir semua BPD pasti mengalami siklus yang sama," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi