Meski Dollar AS Naik, Emas Tetap Rajin Mencetak Rekor



JAKARTA. Emas sepertinya masih belum bosan memecahkan rekor-rekor baru. Reli harga si kuning kemilau ini terus terjadi, meski mata uang dollar Amerika Serikat (AS) berhasil menguat pada perdagangan kemarin. Bahkan, kemungkinan, level baru harga emas sebesar US$ 1.150 per ons troy (setara 31,1 gram) bakal segera tercapai.


Berdasarkan data Bloomberg pukul 17.00 WIB kemarin (18/11), harga emas untuk kontrak pengiriman Desember 2009 di Divisi Comex NYMEX Amerika Serikat melonjak ke level US$ 1.148,1 per ons troy. Angka ini naik 0,75% dari hari sebelumnya di level US$ 1.139,4 per ons troy.

Pada akhir 2008 lalu, harga emas baru US$ 890,2 per ons troy. Artinya, selama tahun ini, harga emas sudah meningkat 28,97%. Rekor harga emas dalam empat hari perdagangan berturut-turut sejalan dengan kondisi dollar AS yang terus melemah.

Lazimnya, pergerakan harga emas memang berbanding terbalik dengan mata uang Uwak Sam tersebut. Melemahnya dollar AS menjadi pemicu banyak pihak memborong emas.

Toh, aksi borong emas terus berlanjut dan tidak terpengaruh oleh penguatan dollar kemarin. Kemarin, indeks dollar AS sempat menguat ke level 75,33, atau rebound dari level terendahnya tahun ini di 74,89. Pemicunya adalah pernyataan Gubernur Bank Sentral Eropa Jean-Claude Trichet. Dia mendukung pernyataan Gubernur Bank Sentral AS Ben S. Bernanke yang menyatakan, bank sentral akan mengawasi pasar uang lebih ketat. Tujuannya agar nilai tukar dollar AS tidak terus tertekan.

Tapi, James Moore, Analis dari TheBullionDesk.com mengatakan, pelaku pasar memperkirakan kenaikan dollar AS hanya akan berlangsung sekejap. Tren dollar AS masih turun dan nilainya masih berpotensi untuk terkoreksi kembali. Alhasil, investor terus memburu emas. "Harga emas akan menembus level US$ 1.150 per ons troy tidak lama lagi," ujarnya, seperti dikutip Bloomberg, kemarin.

Pemburu emas saat ini bukan cuma investor ritel. Bank sentral di sejumlah negara ikut memburunya untuk mengamankan cadangan devisa dari kerapuhan dollar AS. Bahkan, dana pensiun pun saat ini ikut-ikutan membeli emas, demi memperkokoh portofolio investasinya.

Apalagi, pemerintah di seluruh dunia masih terus mempertahankan kebijakan suku bunga rendah. Mereka juga telah menggelontorkan duit US$ 2 triliun untuk memacu ekonomi. "Itu indikasi bahwa banyak pihak belum yakin ekonomi dunia bakal cepat pulih," ujar Analis Harumdana Berjangka Alwi Assegaf di Jakarta, kemarin.

Menurut Alwi, selama dollar AS terus melemah, potensi kenaikan harga emas bakal terus berlanjut. Memang dalam perjalanannya menuju target US$ 1.200 per ons troy tahun ini, bakal terjadi beberapa kali koreksi. Tapi, sifatnya hanya aksi ambil untung alias profit taking investor untuk merealisasikan keuntungan jangka pendek.

Secara teknikal, kenaikan harga emas berturut-turut memang membuat harga logam mulia ini berada dalam kondisi jenuh beli atau overbought. Kalau pasar menilai harga sudah terlalu tinggi, emas bakal terkoreksi dulu. Tapi, setelah itu, emas akan melanjutkan penguatannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News