Meski Kredit Macet KPR Membaik, Kredit Tanpa Agunan Masih Tekan NPL



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski ada tanda-tanda pemulihan daya beli di segmen rumah tangga, kondisi kredit macet di segmen tersebut tampaknya belum membaik. Ini tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) untuk beberapa kredit rumah tangga yang tercatat naik.

Mengutip data Bank Indonesia (BI), rasio NPL untuk kredit rumah tangga berada di level 2,5% per November 2025. Angka tersebut mengalami kenaikan jika dibandingkan periode sama di tahun sebelumnya yang hanya sekitar 2,04%. 

Secara rinci, NPL tertinggi dimiliki untuk kredit rumah tangga di sektor Kredit Pemilikan Rumah (KPR) karena mencapai 3,25% per November 2025. Selanjutnya, NPL tertinggi terjadi di sektor Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) yang mencapai 2,41% pada periode yang sama.


Baca Juga: Kredit UMKM Masih Lesu, Bank Hati-hati Bidik Kredit Baru di 2026

Hanya saja, jika dibandingkan dengan tiga bulan terakhir, NPL untuk segmen-segmen tersebut memang mulai menunjukkan penurunan. Misal per Agustus 2025, NPL untuk KPR rumah tangga berada di level 3,31% dan untuk KKB ada di sekitar 2,64%.

Hal sebaliknya terjadi pada NPL kredit rumah tangga untuk segmen kartu kredit karena mengalami kenaikan menjadi 2,31% per November 2025. Padahal, di Agustus 2025 masih berada di level 2.19%.

Di sisi lain, komposisi pengeluaran rumah tangga saat ini memang paling banyak untuk kebutuhan konsumsi mencapai 74,57%. Sementara, komposisi pengeluaran yang untuk cicilan hanya mencapai 10,98%.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M Rizal Taufikurahman menjelaskan pergerakan NPL rumah tangga saat ini menunjukkan masalahnya bukan sekadar mau belanja atau tidak, tetapi soal kualitas arus kas rumah tangga. 

Rizal bilang NPL KPR dan KKB yang mulai ada perbaikan memberi sinyal kewajiban jangka panjang yang berbasis aset masih dijaga. Rumah dan kendaraan tetap menjadi prioritas pembayaran, apalagi tenor panjang membuat cicilannya relatif lebih terprediksi.

Di sisi lain, perbankan juga cenderung lebih selektif di segmen ini, sehingga kualitas debitur relatif lebih terjaga sejak awal.

Berbeda dengan yang terjadi di segmen kartu kredit. Rizal menilai kenaikan NPL di segmen ini justru menjadi indikator tekanan yang paling jujur terhadap kondisi rumah tangga. Kredit kartu kredit umumnya dipakai untuk menopang konsumsi harian atau menutup gap pendapatan bulanan, dengan bunga yang tinggi dan tanpa agunan. 

Baca Juga: Aturan Pajak Baru Berlaku, Agen Asuransi Kirimkan Surat ke Purbaya

“Ketika NPL-nya naik, itu menandakan sebagian rumah tangga mulai kehilangan ruang napas likuiditas, bukan karena tidak mau membayar, tetapi karena kemampuan membayar memang tertekan. Ini mengindikasikan bahwa konsumsi yang mulai bergerak tidak sepenuhnya berasal dari penguatan pendapatan riil,” ujar Rizal.

Setali tiga uang, Direktur Kepatuhan Oke Bank Efdinal Alamsyah bilang  NPL kartu kredit masih meningkat bisa jadi disebabkan kelompok debitur middle-lower menghadapi tekanan cashflow. Menurut Efdinal, hal ini akibat kenaikan biaya hidup, suku bunga yang masih tinggi, serta fenomena multiple borrowing yang membuat sebagian nasabah hanya mampu melakukan pembayaran minimum. 

Ia pun menjelaskan bahwa saat ini pendapatan yang dimiliki oleh masyarakat kelas menengah bawah hanya mampu digunakan untuk konsumsi. Alhasil,  kemampuan mencicil segmen rumah tangga belum sepenuhnya pulih, terutama untuk kredit tanpa agunan.

“Pendapatan rumah tangga golongan tertentu saat ini cenderung habis untuk konsumsi sehingga ruang untuk mencicil terbatas,” jelas Efdinal.

Direktur Community Financial Services Maybank Indonesia Bianto Surodjo menjelaskan pada tahun 2025, tantangan daya beli masyarakat memang relatif lebih besar dibandingkan dengan 2024. Alhasil, hal tersebut mempengaruhi kemampuan bayar nasabah.

Meski demikian, Bianto bilang pihaknya cukup beruntung karena KPR di Maybank Indonesia tak banyak berdampak. Meskipun, untuk KKB mengalami sedikit kenaikan walaupun totalnya masih relatif baik dibandingkan industri.

“Kami akan monitor di tahun 2026. Kami berharap usaha pemerintah untuk meningkatkan ekonomi masyarakat bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

Selanjutnya: Cara Orangtua Menghadapi Anak Terluka Tanpa Harus ada Drama

Menarik Dibaca: 5 Efek Negatif Makanan Tinggi Gula untuk Kulit, Bikin Cepat Tua dan Jerawatan!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News