JAKARTA. Krisis akan menjadi pembuktian terbesar pamor Association of South East Asia Nation (ASEAN). Maklum, selama ini ASEAN tampak hanya sebatas organisasi persahabatan minim tindakan nyata dalam membantu menghadapi masalah-masalah anggotanya. Kebijakan ASEAN dianggap lunak sebab sejak awal ASEAN menganut prinsip tak ikut campur dalam persoalan internal. Kali ini, tugas berat menanti ASEAN. Sejak pertemuan Bali II yang membuahkan Piagam Jakarta (ASEAN Charter), ASEAN berjanji akan menjadi komunitas ekonomi, politik, dan budaya. "Kami akan lebih aktif. Komunitas ala Uni Eropa akan menjadi inspirasi ASEAN ke depan. Tapi, tentu kami takkan mencontoh persis," ujar Sekretaris Jenderal ASEAN,Surin Pitsuwan. Dalam hal ini, tentu saja impian membentuk mata uang bersama Asia seperti euro di Uni Eropa, masih jauh dari kenyataan. Namun, ASEAN berani berjanji mengintegrasikan ekonomi kawasan Asia Tenggara pada 2015 nanti. Salah satu rencananya adalah mewujudkan kawasan perdagangan bebas ASEAN alias ASEAN Free Trade Area (AFTA). Surin menganggap langkah ini strategis lantaran ASEAN menguasai 25% transaksi perdagangan dunia yang nilainya sekitar US$ 2 triliun. Persiapan menuju AFTA ini sejatinya sudah berlangsung sejak 2002. Upaya yang telah dilakukan antara lain menurunkan secara bertahap bea masuk antara negara ASEAN ke bawah 5%. "Saat ini sudah 96%-97% yang bea masuknya di bawah 5%," jelas Surin, Selasa lalu (7/4). Asal tahu saja, sesuai kesepakatan, bea masuk semua produk pada 6 negara ASEAN sudah harus 0% di tahun depan. Apakah para anggota ASEAN sudah siap? Surin tak menjelaskan dengan rinci sejauh mana kesiapan Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Brunei. Ia hanya mengatakan bahwa dirinya optimistis target itu akan tercapai. "Kami punya score card untuk mengukurnya. Dari situ, saya yakin kami bisa memenuhinya, jika tidak semua, paling tidak mendekati target," ujarnya. Salah satu negara yang sudah siap menurutnya adalah Singapura. Ia juga menjelaskan salah satu infrastruktur AFTA, ASEAN Single Window (ASW), sudah mulai berjalan baik. ASW adalah sistem elektronik satu pintu yang akan melayani arus barang atawa informasi ekspor impor di kawasan ASEAN. "Sistem ini sudah berjalan di Indonesia, Filipina, Thailand, dan SIngapura," imbuhnya.
Meski Krisis, AFTA Tetap Berlangsung Pada 2010
JAKARTA. Krisis akan menjadi pembuktian terbesar pamor Association of South East Asia Nation (ASEAN). Maklum, selama ini ASEAN tampak hanya sebatas organisasi persahabatan minim tindakan nyata dalam membantu menghadapi masalah-masalah anggotanya. Kebijakan ASEAN dianggap lunak sebab sejak awal ASEAN menganut prinsip tak ikut campur dalam persoalan internal. Kali ini, tugas berat menanti ASEAN. Sejak pertemuan Bali II yang membuahkan Piagam Jakarta (ASEAN Charter), ASEAN berjanji akan menjadi komunitas ekonomi, politik, dan budaya. "Kami akan lebih aktif. Komunitas ala Uni Eropa akan menjadi inspirasi ASEAN ke depan. Tapi, tentu kami takkan mencontoh persis," ujar Sekretaris Jenderal ASEAN,Surin Pitsuwan. Dalam hal ini, tentu saja impian membentuk mata uang bersama Asia seperti euro di Uni Eropa, masih jauh dari kenyataan. Namun, ASEAN berani berjanji mengintegrasikan ekonomi kawasan Asia Tenggara pada 2015 nanti. Salah satu rencananya adalah mewujudkan kawasan perdagangan bebas ASEAN alias ASEAN Free Trade Area (AFTA). Surin menganggap langkah ini strategis lantaran ASEAN menguasai 25% transaksi perdagangan dunia yang nilainya sekitar US$ 2 triliun. Persiapan menuju AFTA ini sejatinya sudah berlangsung sejak 2002. Upaya yang telah dilakukan antara lain menurunkan secara bertahap bea masuk antara negara ASEAN ke bawah 5%. "Saat ini sudah 96%-97% yang bea masuknya di bawah 5%," jelas Surin, Selasa lalu (7/4). Asal tahu saja, sesuai kesepakatan, bea masuk semua produk pada 6 negara ASEAN sudah harus 0% di tahun depan. Apakah para anggota ASEAN sudah siap? Surin tak menjelaskan dengan rinci sejauh mana kesiapan Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Brunei. Ia hanya mengatakan bahwa dirinya optimistis target itu akan tercapai. "Kami punya score card untuk mengukurnya. Dari situ, saya yakin kami bisa memenuhinya, jika tidak semua, paling tidak mendekati target," ujarnya. Salah satu negara yang sudah siap menurutnya adalah Singapura. Ia juga menjelaskan salah satu infrastruktur AFTA, ASEAN Single Window (ASW), sudah mulai berjalan baik. ASW adalah sistem elektronik satu pintu yang akan melayani arus barang atawa informasi ekspor impor di kawasan ASEAN. "Sistem ini sudah berjalan di Indonesia, Filipina, Thailand, dan SIngapura," imbuhnya.