Meski laba, UNSP dibayangi default



JAKARTA. PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) belum menemukan penyelesaian final atas potensi gagal bayar (default) atas bunga obligasi yang jatuh tempo pada 4 September 2014. Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2014 yang baru dirilis Rabu (1/10), UNSP menyatakan belum menerima surat dari Bank of New York, wali amanat pemegang wesel bayar, yang menyatakan utang telah jatuh tempo dan harus dibayar (due and payable).

Manajemen UNSP juga mengklaim tengah membahas secara proaktif dan intensi dengan pemegang wesel bayar untuk mencapai solusi atas ketidakmampuan membayar bunga obligasi. Sayang, manajemen UNSP enggan membeberkan lebih detail mengenai langkah yang diambil untuk berkelit dari status default.

Andi W Setianto, Direktur Hubungan Investor UNSP, hingga berita ini ditulis, belum merespons pertanyaan yang dikirimkan KONTAN melalui surat elektronik. Utang dalam bentuk wesel bayar ini pertama kali diterbitkan UNSP pada 18 Februari 2010 so;a,. Nilai wesel bayar UNSP waktu itu US$ 77,5 juta dengan tingkat bunga tetap sebesar 8% per tahun.


Bunga tersebut dibayar di muka setiap enam bulan mulai 1 September 2010. Wesel bayar itu semestinya berjangka waktu tiga tahun dengan jatuh tempo pada 1 Maret 2013. Untuk merilis wesel bayar itu UNSP menjaminkan beberapa anak usaha, seperti PT Bakrie Pasaman Plantations, PT Agrowiyana dan PT Agro Mitra Madani.

Namun, pada 4 Februari 2011, UNSP mengamandemen wesel bayar tersebut dengan fasilitas baru US$ 100 juta. Waktu jatuh tempo diperpanjang hingga tahun 2017. Sayang, meski sudah diamandemen, UNSP tetap kesulitan membayar bunga wesel bayar jatuh tempo 4 September 2014. Adanya event of default atas bunga wesel bayar ini mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) mensuspensi saham UNSP sejak 19 September 2014 hingga sekarang.

Laba karena kurs Laporan keuangan UNSP sendiri menujukkan perbaikan. Di semester I 2014, UNSP membukukan penjualan bersih Rp 1,37 triliun, tumbuh 47,15% dibandingkan periode sama tahun lalu yang Rp 929,5 miliar.

Penjualan kelapa sawit dan produk turunannya masih menjadi penopang utama UNSP dengan kontribusi mencapai Rp 1,04 triliun di semester I 2014. Karet menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar kedua yakni senilai Rp 330,17 miliar. Sementara penjualan bersih sisanya berasal dari penjualan tandan buah segar dan jasa titip olah.

UNSP sebenarnya masih menanggung beberapa beban yang lumayan besar, semisal beban keuangan Rp 269,08 miliar di semester I 2014. Untungnya, ini tidak sampai menggerus penjualan bersih sehingga UNSP masih mencetak laba bersih periode berjalan Rp 44,37 miliar, bandingkan dengan periode sama tahun lalu di mana UNSP masih mencetak rugi bersih Rp 208,8 miliar. Ini karena, UNSP mendapat rezeki dari laba kurs Rp 153,09 miliar. UNSP juga menerima selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan tercatat Rp 52,8 miliar.

Meski demikian, perolehan laba ini tak lantas membuat prospek UNSP menanjak. Total liabilitas jangka pendek juga melebihi aset lancar UNSP, yakni sekitar Rp 3,55 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie