Meski Net Sell, Investor Asing Tetap Beli Saham Blue Chip, Apakah Punya Prospek Cuan?
Jumat, 13 Maret 2026 05:30 WIB
Oleh: Pulina Nityakanti | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Sejumlah saham blue chip di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus dibeli investor asing di tengah aksi jual bersih atau net sell pada Maret 2026. Apakah saham blue chip tersebut memiliki prospek cuan di masa akan datang? Berdasarkan data perdagangan 12 Maret 2026, investor asing mencatat net sell sebesar Rp 2,51 triliun di pasar reguler dan Rp 2,93 triliun di seluruh pasar dalam sepekan terakhir. Sementara dalam sebulan terakhir, dana asing yang keluar dari pasar reguler mencapai sekitar Rp 8 triliun. Meski demikian, secara keseluruhan pasar masih mencatat net buy sekitar Rp 2 triliun.
Di tengah aksi jual tersebut, sejumlah saham justru mengalami akumulasi oleh investor asing. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat net buy terbesar dengan nilai Rp 1,7 triliun dalam sebulan terakhir. Selain BMRI, beberapa saham lain yang juga banyak dibeli investor asing antara lain: Saham dengan Net Buy Asing Terbesar (1 Bulan) - PT United Tractors Tbk (UNTR): Rp 955,2 miliar - PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM): Rp 670,5 miliar - PT Astra International Tbk (ASII): Rp 578,4 miliar - PT Bukit Asam Tbk (PTBA): Rp 422,1 miliar - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Rp 403 miliar - PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA): Rp 359,3 miliar - PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI): Rp 320,1 miliar - PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO): Rp 291,4 miliar - PT Indosat Tbk (ISAT): Rp 282,3 miliar Tonton: Pinjaman Konsumen GOTO Tembus Rp 8,8 Triliun di Tahun 2025, Melejit 68% Investor Asing Lakukan Akumulasi Selektif Equity Analyst Indo Premier Sekuritas Imam Gunadi menilai, akumulasi pada saham-saham tersebut menunjukkan pola selective accumulation oleh investor institusi global. Menurut dia, investor asing cenderung mengonsolidasikan portofolio pada saham berkapitalisasi besar yang memiliki fundamental kuat dan visibilitas pertumbuhan laba yang baik. “Investor global cenderung melakukan konsolidasi portofolio pada saham berkapitalisasi besar dengan fundamental earnings visibility yang relatif kuat,” ujar Imam kepada Kontan.co.id, Kamis (12/3). Saham-saham tersebut juga memiliki kombinasi likuiditas tinggi, struktur neraca yang solid, serta eksposur pada sektor inti ekonomi seperti perbankan, energi, dan infrastruktur digital. Selain itu, koreksi pasar yang terjadi belakangan ini membuat valuasi sejumlah saham menjadi lebih menarik sehingga membuka peluang bagi investor asing untuk melakukan reentry secara bertahap. Valuasi Atraktif Jadi Daya Tarik Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai, ada beberapa katalis yang mendorong akumulasi asing pada saham-saham tersebut. Pertama, valuasi saham blue chip saat ini dinilai lebih atraktif secara historis sehingga menawarkan dividend yield yang menarik. Kedua, saham-saham tersebut memiliki likuiditas tinggi sehingga tetap menjadi tujuan utama aliran dana investor asing. Di sektor energi, eskalasi konflik di Timur Tengah juga memicu ekspektasi peningkatan permintaan komoditas seperti batubara dan logam. “Secara keseluruhan, koreksi harga pada berbagai sektor telah menciptakan titik masuk yang strategis bagi investor jangka panjang,” kata Liza. Baca Juga: IHSG Turun 0,36% ke 7.362, Cermati Saham Net Sell Terbesar Asing, Kamis (12/3) Prospek Arus Dana Asing Masih Fluktuatif Fundamental Analyst BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai, saham-saham tersebut tetap menarik karena didukung kapitalisasi pasar besar, likuiditas tinggi, serta fundamental yang solid. Meski begitu, arus dana asing ke pasar saham Indonesia dalam jangka pendek masih berpotensi bergerak fluktuatif seiring ketidakpastian global dan arah kebijakan suku bunga internasional. Menurut Imam, arah arus dana global masih sangat dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga global, pergerakan dolar AS, serta premi risiko emerging markets. Jika ekspektasi penurunan suku bunga global semakin kuat dan tekanan terhadap mata uang emerging markets mereda, maka arus dana asing berpotensi kembali masuk ke pasar Indonesia. “Potensi kembalinya arus dana asing biasanya terlihat ketika visibilitas siklus pelonggaran moneter global semakin jelas,” ujarnya. Tonton: Harga BBM Di 85 Negara Naik Efek Perang AS-Irak, Sampai Kapan Harga BBM RI Bertahan? Rekomendasi Saham Analis Abida merekomendasikan beli untuk beberapa saham berikut: - TLKM dengan target harga Rp 4.000 - BMRI dengan target harga Rp 6.200 - ASII dengan target harga Rp 7.450 - ADRO dengan target harga Rp 2.630 - UNTR dengan target harga Rp 33.000
Sementara itu, Imam juga merekomendasikan beli saham TLKM dengan target harga Rp 3.260 per saham. Pada perdagangan Kamis (12/3/2026), harga saham TLKM ditutup di level Rp 3.020 atau naik 20 poin (0,67%) dibandingkan sehari sebelumnya. Meski demikian, dalam 30 hari terakhir saham TLKM masih terkoreksi sekitar 540 poin atau turun 15,17%.
Prabowo Minta Danantara Setor Rp 800 Triliun per Tahun ke Negara