KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menilai prospek industri mebel dan kerajinan nasional hingga akhir 2026 masih terbuka, meski dibayangi ketidakpastian ekonomi global dan perlambatan permintaan di sejumlah pasar ekspor. Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur mengatakan, secara makro kinerja ekspor Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan pada lima bulan pertama tahun ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia periode Januari–Mei 2026 mencapai US$ 115,36 miliar atau tumbuh 3,02% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara ekspor nonmigas meningkat 3,89% menjadi US$ 110,19 miliar. Namun, pada Mei 2026 ekspor nasional mulai menunjukkan pelemahan dengan penurunan 5,73% secara tahunan. Adapun ekspor nonmigas terkoreksi 4,50%. Baca Juga: Temuan Skrining Perkuat Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Secara Berkala Abdul mengatakan kondisi tersebut juga dirasakan industri mebel dan kerajinan. Menurutnya, kinerja pelaku usaha belum merata karena sebagian eksportir masih memperoleh pesanan yang cukup baik, sedangkan sebagian lainnya mulai menghadapi perlambatan. “Sebagian perusahaan masih memperoleh pesanan yang relatif baik, terutama yang memiliki buyer tetap, produk berdesain kuat, sertifikasi lengkap, serta jaringan distribusi langsung. Namun sebagian lainnya menghadapi perlambatan pesanan, penundaan pengiriman, tekanan harga, dan meningkatnya kehati-hatian buyer,” ujar Abdul kepada KONTAN, Rabu (22/7/2026). Ia menilai industri saat ini berada pada fase bertahan sambil melakukan konsolidasi dan mencari sumber pertumbuhan baru. Karena itu, pelaku usaha perlu mempercepat diversifikasi pasar ekspor agar tidak terlalu bergantung pada negara tujuan tradisional. Menurut HIMKI, Amerika Serikat, Jepang, Belanda, Belgia, dan Australia masih menjadi pasar utama furnitur Indonesia. Di sisi lain, peluang juga mulai terbuka di kawasan Timur Tengah, Kanada, Eropa nontradisional, India, Asia Selatan, Asia Tengah, Afrika, hingga negara-negara ASEAN yang didorong pertumbuhan sektor properti dan hospitality. Selain memperluas pasar, Abdul menilai peluang ekspor juga datang dari meningkatnya permintaan produk home décor, lighting, outdoor furniture, hospitality furniture, project furniture, hingga produk lifestyle bernilai tambah tinggi. HIMKI menargetkan ekspor furnitur dan kerajinan Indonesia dapat meningkat hingga mencapai US$ 6 miliar dalam lima tahun mendatang. “Untuk mencapainya, Indonesia tidak dapat hanya mengandalkan ekspor berbasis pabrik atau menunggu order, tetapi harus membangun merek, desain, distribusi, gudang konsolidasi, showroom bersama, serta hub bisnis di pasar utama,” tutup Abdul.
Meski Order Melambat, HIMKI Optimistis Ekspor Mebel Tembus US$ 6 Miliar
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menilai prospek industri mebel dan kerajinan nasional hingga akhir 2026 masih terbuka, meski dibayangi ketidakpastian ekonomi global dan perlambatan permintaan di sejumlah pasar ekspor. Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur mengatakan, secara makro kinerja ekspor Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan pada lima bulan pertama tahun ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia periode Januari–Mei 2026 mencapai US$ 115,36 miliar atau tumbuh 3,02% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara ekspor nonmigas meningkat 3,89% menjadi US$ 110,19 miliar. Namun, pada Mei 2026 ekspor nasional mulai menunjukkan pelemahan dengan penurunan 5,73% secara tahunan. Adapun ekspor nonmigas terkoreksi 4,50%. Baca Juga: Temuan Skrining Perkuat Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Secara Berkala Abdul mengatakan kondisi tersebut juga dirasakan industri mebel dan kerajinan. Menurutnya, kinerja pelaku usaha belum merata karena sebagian eksportir masih memperoleh pesanan yang cukup baik, sedangkan sebagian lainnya mulai menghadapi perlambatan. “Sebagian perusahaan masih memperoleh pesanan yang relatif baik, terutama yang memiliki buyer tetap, produk berdesain kuat, sertifikasi lengkap, serta jaringan distribusi langsung. Namun sebagian lainnya menghadapi perlambatan pesanan, penundaan pengiriman, tekanan harga, dan meningkatnya kehati-hatian buyer,” ujar Abdul kepada KONTAN, Rabu (22/7/2026). Ia menilai industri saat ini berada pada fase bertahan sambil melakukan konsolidasi dan mencari sumber pertumbuhan baru. Karena itu, pelaku usaha perlu mempercepat diversifikasi pasar ekspor agar tidak terlalu bergantung pada negara tujuan tradisional. Menurut HIMKI, Amerika Serikat, Jepang, Belanda, Belgia, dan Australia masih menjadi pasar utama furnitur Indonesia. Di sisi lain, peluang juga mulai terbuka di kawasan Timur Tengah, Kanada, Eropa nontradisional, India, Asia Selatan, Asia Tengah, Afrika, hingga negara-negara ASEAN yang didorong pertumbuhan sektor properti dan hospitality. Selain memperluas pasar, Abdul menilai peluang ekspor juga datang dari meningkatnya permintaan produk home décor, lighting, outdoor furniture, hospitality furniture, project furniture, hingga produk lifestyle bernilai tambah tinggi. HIMKI menargetkan ekspor furnitur dan kerajinan Indonesia dapat meningkat hingga mencapai US$ 6 miliar dalam lima tahun mendatang. “Untuk mencapainya, Indonesia tidak dapat hanya mengandalkan ekspor berbasis pabrik atau menunggu order, tetapi harus membangun merek, desain, distribusi, gudang konsolidasi, showroom bersama, serta hub bisnis di pasar utama,” tutup Abdul.