PAYUNG keberuntungan menggelayuti PT Mada Wikri Tunggal ketika awal pertama berdiri. Pada 1985, sebuah pabrik lampu merek Philips yang berlokasi di Bandung bangkrut. Aset-aset perusahaan pun dilego. Melihat peluang ini, seorang insinyur bernama Achmad Sarbini tak tinggal diam. Dia melihat masih ada peluang di pabrik yang tutup itu. Achmad Sarbini pun menyiapkan modal sebesar Rp 75 juta untuk mengakuisisi pabrik itu dan mengubahnya menjadi pabrik suku cadang. Selanjutnya, Achmad Sarbini memberi nama tempat usahanya ini Mada Wikri. Kenekatan Achmad Sarbini membeli pabrik itu bukannya tanpa perhitungan. Dia sudah mempunyai rencana ketika memutuskan memproduksi suku cadang. Terbukti, begitu usahanya berbadan hukum, Mada Wikri langsung mengajukan diri untuk menjadi binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra. Seperti namanya, yayasan ini memang milik PT Astra International Tbk, pabrikan otomotif paling utama di negeri ini. Menjadi binaan Yayasan Astra jelas strategi yang jitu. Karena, selain mengajarkan cara membuat suku cadang yang berkualitas, yayasan tersebut juga bersedia menjadi pembeli. Dengan status binaan Astra, Mada Wikri pun mantap memfokuskan bisnisnya pada produksi cetakan komponen (moulds dan dies), serta aneka komponen plastik dan komponen metal. "Ketika awal berdiri, karyawannya cuma lima orang," tutur Krishna Bharata, anak Achmad Sarbini yang sejak 2005 menjadi pemimpin di Mada Wikri. Krishna mengungkapkan, ketika itu sedikit sekali industri yang memproduksi besi cetak-an untuk komponen motor dan mobil. Karena itu pula Khrisna optimistis bisa bermain di ceruk pasar yang masih menganga lebar tersebut. Optimisme itu tak berlebihan. Kebutuhan suku cadang yang makin membesar membuat usaha Mada Wikri terus berkembang. Apalagi, sebagai mi-tra Astra, Mada Wikri sudah memiliki pasar tetap. Namun, mengembangkan usaha macam ini bukan berarti tidak ada tantangan. Krishna menjadi saksi ketika Mada Wikri terkena dampak krisis pada tahun 1997. Ketika itu, perusahaan terjerat utang sebesar Rp 200 juta. "Padahal pelaku industri optimistis tahun itu bisnis bisa bagus, ternyata meleset," kisah ayah dua anak ini. Beruntung, bank yang menyalurkan kredit tersebut menjadi pasien di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Dengan begitu, Mada Wikri yang ingin melunasi utangnya ke BPPN mendapat intensif berupa pemangkasan suku bunga dari pemerintah. "Alhamdulillah, kami bisa bertahan karena ada fasilitas itu," cerita pria 43 tahun ini. Lepas dari utang bukan berarti masalah hilang. Pada 2005 ayahanda Krishna tiba-tiba mangkat. Krishna pun menggantikan ayahnya. Meski dia alumni Fakultas Teknik Mesin Universitas Trisakti, awalnya Khrisna sempat bimbang menjadi nakhoda di Mada Wikri. Beruntung hal itu tak berlangsung lama. Krishna mengerahkan segala strategi untuk tetap mengibarkan layar perusahaan. Mada Wikri terus melakukan inovasi dalam mengembangkan produk baru. Hasilnya, Mada Wikri sudah sanggup memproduksi 150 jenis komponen otomotif, termasuk di dalamnya 76 item komponen logam dan 70 item komponen plastik. Sebagai catatan, tahun lalu produksi Mada Wiki menguasai 7%-8% komponen PT Astra Honda Motor (AHM). Selain AHM, Mada Wikri juga jadi pemasok original equipment manufacturer (OEM) pada sejumlah perusahaan otomotif, seperti PT Yasunli Abadi Plastik, PT Dharma Polimetal, PT Astra Otoparts Tbk, PT Yutaka Mfg Indonesia, PT Hilex Indonesia, PT Cipta Nugerah Karya, dan PT Eska Cahyadi Bersaudara. Selain memasok ke perusahaan otomotif, Mada Wikri juga memasok komponen elektronik ke PT Philips Ralin Electronics dan PT Banyu Biru, memasok komponen telekomunikasi ke PT Inti dan komponen kontraktor ke PT Pilar Prasarana Uta-ma. Kalau ditotal, Mada Wikri sudah memasok produknya ke 19 perusahaan. Mada Wikri memproduksi semua komponen itu di Soreang, Bandung. Pabrik seluas 9.000 meter persegi ini mempunyai 150 pekerja. Di pabrik inilah Mada Wikri mengelola 26 mesin produksi komponen metal, 22 mesin produksi komponen cetakan, dan 12 mesin produksi komponen plastik. Meski sudah mempunyai pabrik dan beragam mesin produksi, bukan berarti kerja Mada Wikri jadi mudah. Menurut Krishna, justru menjadi pemasok itu mempunyai tantangan sendiri. Misalnya, menjaga kualitas yang sesuai dengan kualifikasi. Ini syarat mutlak. Belum lagi soal ketatnya jadwal pengiriman serta komitmen kuantitas produksi yang teratur. Jika order sudah didapat, Krishna kudu memikirkan bagaimana cara memperoleh bahan baku. Pasalnya, saat kondisi krisis, segala hal yang berkaitan dengan impor pasti agak tersendat. Mau tidak mau, Krishna harus cari jalan untuk mencari pasokan bahan baku. Biasanya ia memilih bahan ba-ku di dalam negeri. Khusus untuk tender, biasanya Krishna langsung terjun ke lapangan. Maklum, biasanya tender menyangkut produk baru. "Bila ada tender, saya me-ngajukan produk-produk yang sesuai dengan kemampuan kami," ujar Krishna. Biasanya mitra akan membandingkan produk yang ditawarkan Mada Wikri dengan peserta tender lainnya. Untuk proses tender, Krishna memang harus lebih sabar. Karena, mulai waktu pengajuan hingga menjadi pemenang bisa memakan waktu setahun. Krishna menegaskan, situasi ekonomi yang tidak menguntungkan tetap harus dihadapi. Pelbagai strategi telah ia terapkan agar roda bisnis Mada Wikri berjalan. Salah satunya dengan mencari pasar baru ke perusahaan-perusahaan yang belum menjadi mitra bisnis. "Peluang ke situ masih tetap ada," tutur Krishna, mantap. Selain itu, ia juga terus menciptakan inovasi produk yang disukai pasar. Tak cuma memeras otak sendiri, Krisna pun ingin membagi dan mendengar pengalaman dari Forum Pengusaha yang dibentuk YDBA. Dalam forum ini, ada sekitar 30 pengusaha yang rutin bertemu setiap bulan. Masing-masing pengusaha saling berbagi pengalaman dan kendala yang dihadapi bisnisnya masing-masing. Tempat pertemuan pun dipilih yang representatif, yakni masing-masing pabrik secara bergantian. Dari berbagi cerita dan kunjungan pabrik tersebut, selanjutnya anggota forum bisa saling melongok dapur masing-masing. "Bila ada perkembangan di pabrik teman, saya pun jadi termotivasi untuk mengembangkan pabrik saya," ujar Krishna. Lewat forum ini pulalah Krishna mendapat peluang memperluas pasar. Dengan strategi ini, Krishna yakin pendapatan tahun ini bisa tumbuh 15% hingga 20% dari pendapatan tahun lalu yang sebesar Rp 24 miliar.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Meski Pasar Lagi Ulit, Ekspansi Tetap Gesit
PAYUNG keberuntungan menggelayuti PT Mada Wikri Tunggal ketika awal pertama berdiri. Pada 1985, sebuah pabrik lampu merek Philips yang berlokasi di Bandung bangkrut. Aset-aset perusahaan pun dilego. Melihat peluang ini, seorang insinyur bernama Achmad Sarbini tak tinggal diam. Dia melihat masih ada peluang di pabrik yang tutup itu. Achmad Sarbini pun menyiapkan modal sebesar Rp 75 juta untuk mengakuisisi pabrik itu dan mengubahnya menjadi pabrik suku cadang. Selanjutnya, Achmad Sarbini memberi nama tempat usahanya ini Mada Wikri. Kenekatan Achmad Sarbini membeli pabrik itu bukannya tanpa perhitungan. Dia sudah mempunyai rencana ketika memutuskan memproduksi suku cadang. Terbukti, begitu usahanya berbadan hukum, Mada Wikri langsung mengajukan diri untuk menjadi binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra. Seperti namanya, yayasan ini memang milik PT Astra International Tbk, pabrikan otomotif paling utama di negeri ini. Menjadi binaan Yayasan Astra jelas strategi yang jitu. Karena, selain mengajarkan cara membuat suku cadang yang berkualitas, yayasan tersebut juga bersedia menjadi pembeli. Dengan status binaan Astra, Mada Wikri pun mantap memfokuskan bisnisnya pada produksi cetakan komponen (moulds dan dies), serta aneka komponen plastik dan komponen metal. "Ketika awal berdiri, karyawannya cuma lima orang," tutur Krishna Bharata, anak Achmad Sarbini yang sejak 2005 menjadi pemimpin di Mada Wikri. Krishna mengungkapkan, ketika itu sedikit sekali industri yang memproduksi besi cetak-an untuk komponen motor dan mobil. Karena itu pula Khrisna optimistis bisa bermain di ceruk pasar yang masih menganga lebar tersebut. Optimisme itu tak berlebihan. Kebutuhan suku cadang yang makin membesar membuat usaha Mada Wikri terus berkembang. Apalagi, sebagai mi-tra Astra, Mada Wikri sudah memiliki pasar tetap. Namun, mengembangkan usaha macam ini bukan berarti tidak ada tantangan. Krishna menjadi saksi ketika Mada Wikri terkena dampak krisis pada tahun 1997. Ketika itu, perusahaan terjerat utang sebesar Rp 200 juta. "Padahal pelaku industri optimistis tahun itu bisnis bisa bagus, ternyata meleset," kisah ayah dua anak ini. Beruntung, bank yang menyalurkan kredit tersebut menjadi pasien di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Dengan begitu, Mada Wikri yang ingin melunasi utangnya ke BPPN mendapat intensif berupa pemangkasan suku bunga dari pemerintah. "Alhamdulillah, kami bisa bertahan karena ada fasilitas itu," cerita pria 43 tahun ini. Lepas dari utang bukan berarti masalah hilang. Pada 2005 ayahanda Krishna tiba-tiba mangkat. Krishna pun menggantikan ayahnya. Meski dia alumni Fakultas Teknik Mesin Universitas Trisakti, awalnya Khrisna sempat bimbang menjadi nakhoda di Mada Wikri. Beruntung hal itu tak berlangsung lama. Krishna mengerahkan segala strategi untuk tetap mengibarkan layar perusahaan. Mada Wikri terus melakukan inovasi dalam mengembangkan produk baru. Hasilnya, Mada Wikri sudah sanggup memproduksi 150 jenis komponen otomotif, termasuk di dalamnya 76 item komponen logam dan 70 item komponen plastik. Sebagai catatan, tahun lalu produksi Mada Wiki menguasai 7%-8% komponen PT Astra Honda Motor (AHM). Selain AHM, Mada Wikri juga jadi pemasok original equipment manufacturer (OEM) pada sejumlah perusahaan otomotif, seperti PT Yasunli Abadi Plastik, PT Dharma Polimetal, PT Astra Otoparts Tbk, PT Yutaka Mfg Indonesia, PT Hilex Indonesia, PT Cipta Nugerah Karya, dan PT Eska Cahyadi Bersaudara. Selain memasok ke perusahaan otomotif, Mada Wikri juga memasok komponen elektronik ke PT Philips Ralin Electronics dan PT Banyu Biru, memasok komponen telekomunikasi ke PT Inti dan komponen kontraktor ke PT Pilar Prasarana Uta-ma. Kalau ditotal, Mada Wikri sudah memasok produknya ke 19 perusahaan. Mada Wikri memproduksi semua komponen itu di Soreang, Bandung. Pabrik seluas 9.000 meter persegi ini mempunyai 150 pekerja. Di pabrik inilah Mada Wikri mengelola 26 mesin produksi komponen metal, 22 mesin produksi komponen cetakan, dan 12 mesin produksi komponen plastik. Meski sudah mempunyai pabrik dan beragam mesin produksi, bukan berarti kerja Mada Wikri jadi mudah. Menurut Krishna, justru menjadi pemasok itu mempunyai tantangan sendiri. Misalnya, menjaga kualitas yang sesuai dengan kualifikasi. Ini syarat mutlak. Belum lagi soal ketatnya jadwal pengiriman serta komitmen kuantitas produksi yang teratur. Jika order sudah didapat, Krishna kudu memikirkan bagaimana cara memperoleh bahan baku. Pasalnya, saat kondisi krisis, segala hal yang berkaitan dengan impor pasti agak tersendat. Mau tidak mau, Krishna harus cari jalan untuk mencari pasokan bahan baku. Biasanya ia memilih bahan ba-ku di dalam negeri. Khusus untuk tender, biasanya Krishna langsung terjun ke lapangan. Maklum, biasanya tender menyangkut produk baru. "Bila ada tender, saya me-ngajukan produk-produk yang sesuai dengan kemampuan kami," ujar Krishna. Biasanya mitra akan membandingkan produk yang ditawarkan Mada Wikri dengan peserta tender lainnya. Untuk proses tender, Krishna memang harus lebih sabar. Karena, mulai waktu pengajuan hingga menjadi pemenang bisa memakan waktu setahun. Krishna menegaskan, situasi ekonomi yang tidak menguntungkan tetap harus dihadapi. Pelbagai strategi telah ia terapkan agar roda bisnis Mada Wikri berjalan. Salah satunya dengan mencari pasar baru ke perusahaan-perusahaan yang belum menjadi mitra bisnis. "Peluang ke situ masih tetap ada," tutur Krishna, mantap. Selain itu, ia juga terus menciptakan inovasi produk yang disukai pasar. Tak cuma memeras otak sendiri, Krisna pun ingin membagi dan mendengar pengalaman dari Forum Pengusaha yang dibentuk YDBA. Dalam forum ini, ada sekitar 30 pengusaha yang rutin bertemu setiap bulan. Masing-masing pengusaha saling berbagi pengalaman dan kendala yang dihadapi bisnisnya masing-masing. Tempat pertemuan pun dipilih yang representatif, yakni masing-masing pabrik secara bergantian. Dari berbagi cerita dan kunjungan pabrik tersebut, selanjutnya anggota forum bisa saling melongok dapur masing-masing. "Bila ada perkembangan di pabrik teman, saya pun jadi termotivasi untuk mengembangkan pabrik saya," ujar Krishna. Lewat forum ini pulalah Krishna mendapat peluang memperluas pasar. Dengan strategi ini, Krishna yakin pendapatan tahun ini bisa tumbuh 15% hingga 20% dari pendapatan tahun lalu yang sebesar Rp 24 miliar.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News