KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Di tengah melemahnya nilai tukar rupiah, harga emas terpantau turun seiring lemahnya daya beli masyarakat. Namun begitu, perbankan masih optimistis kinerja pembiayaan emas tetap mampu mempertahankan tren positif sejak awal tahun. Hari ini, Rabu (10/6/2026), harga emas Antam terpantau turun Rp 20.000 dari hari sebelumnya menjadi Rp 2.713.000 per gram. Dalam sebulan terakhir, harga emas sudah turun Rp 126.000. Dalam periode yang sama, rupiah juga turun 3,04% menjadi Rp 17.944 per dolar AS. Di tengah tren penurunan harga, Bank Syariah Nasional (BSN) mengaku permintaan pembiayaan emas mulai melandai. Direktur Consumer Banking BSN Mochamad Yut Penta bilang trennya melandai sejak awal kuartal II-2026.
Baca Juga: Akseleran Masih Terjerat Gagal Bayar, OJK Sebut Dana Lender Mulai Dikembalikan Kendati begitu, sejatinya pertumbuhan sejak awal tahun masih positif. Hingga Mei 2026, pembiayaan BSN Cicil Emas mencapai Rp 140 miliar, melonjak dari posisi Rp 3,5 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pun untuk menjaga kinerja tetap positif, Yut bilang pihaknya terus melakukan berbagai inisiatif dan terobosan melalui berbagai program menarik. Toh, BSN Cicil Emas masih menjadi salah satu produk unggulan bank. BSN bakal memprioritaskan pengembangan ekosistem sebagai pendorong utama pertumbuhan pembiayaan ini. Namun begitu, ia mengaku tetap mencermati berbagai katalis yang dapat memengaruhi tren ke depan. “Di antaranya adalah tren pergerakan harga emas, nilai tukar rupiah, kenaikan suku bunga, daya beli masyarakat, serta kompetisi dari pesaing,” ujar Yut kepada Kontan, Rabu (10/6/2026). Hingga akhir tahun, BSN menargetkan pertumbuhan emas mencapai sekitar Rp 500-600 miliar. BJB Syariah juga mencermati potensi melandainya permintaan pembiayaan emas di tengah lesunya rupiah. Sekretaris Perusahaan BJB Syariah Yusuf Abadi bilang laju pertumbuhan pembiayaan emas bank juga mulai melambat, meski masih tetap tumbuh positif. Hingga Mei 2026, pembiayaan emas BJB Syariah tumbuh 13,4% sejak awal tahun (
year-to-date/ytd) dan 19,25% yoy.
Baca Juga: AASI Sebut Peta Bisnis Asuransi Syariah Kian Dinamis Setelah Spin Off UUS Yusuf melihat fluktuasi harga emas saat ini lebih dipengaruhi ketidakpastian kondisi ekonomi global yang berdampak pada pergerakan harga komoditas dan nilai tukar. Ia tak menampik bahwa hal ini turut memengaruhi pola minat masyarakat terhadap investasi emas. Apalagi, perilaku masyarakat dalam berinvestasi juga cenderung dipengaruhi sentimen pasar dan pergerakan harga. “Ketika harga emas mengalami koreksi, sebagian masyarakat memilih untuk
wait and see sambil memantau arah pergerakan harga ke depan,” katanya. Namun begitu, BJB Syariah melihat koreksi harga emas saat ini hanya sementara, dengan peluang penguatan kembali seiring ketidakpastian global yang masih berlangsung. Kondisi seperti inilah yang justru menjadi momentum bagi masyarakat untuk mulai berinvestasi emas. BJB Syariah mengaku sudah mengindikasi perlambatan daya beli masyarakat terhadap pembelian emas. Namun begitu, Yusuf bilang pihaknya optimistis prospek pembiayaan emas masih positif seiring tingginya minat masyarakat terhadap instrumen investasi yang relatif aman. “Untuk tahun 2026, BJB Syariah menargetkan pertumbuhan pembiayaan emas sekitar 33% dibandingkan posisi Desember 2025,” tuturnya. BCA Syariah juga berupaya untuk menjaga laju pertumbuhan pembiayaan emas. Direktur BCA Syariah Pranata mengatakan, pihaknya terus meningkatkan fitur pembiayaan emas melalui aplikasi digital, sembari mengoptimalkan sinergi dengan induk usaha.
“Cabang BCA turut memasarkan produk pembiayaan emas BCA Syariah. Kami juga mengikuti berbagai pameran untuk meningkatkan literasi mengenai pembiayaan emas syariah, serta memberikan sejumlah program promo kepada nasabah,” papar Pranata. Hingga Mei 2026, pembiayaan emas BCA Syariah tumbuh 136% yoy menjadi Rp 717 miliar. Di tengah kondisi yang kurang kondusif, Pranata juga optimistis pembiayaan emas masih memiliki peluang untuk terus tumbuh di tengah meningkatnya kesadaran investasi masyarakat.
Baca Juga: Banyak Asuransi Spin Off UUS, JMA Syariah Prediksi Persaingan Makin Ketat Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News