Meski Rugi Besar, Pengusaha Edwin Soerjadjaya Borong Hampir Sejuta Saham SRTG
Rabu, 09 September 2026 08:06 WIB
Oleh: Adi Wikanto, Pulina Nityakanti | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Edwin Soeryadjaya memperkuat kepemilikan saham di perusahaan miliknya, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG). Pengusaha nasional ini membeli saham SRTG usai laporan kinerja perusahaan yang merugi pada semester 1 2026. Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Anggota Dewan Komisaris Saratoga Investama, Edwin Soeryadjaya, kembali menunjukkan komitmen investasinya dengan menambah porsi kepemilikan saham di perusahaan. Edwin memborong sebanyak 980.000 lembar saham SRTG dalam rentang waktu 4 hingga 7 September 2026. Transaksi pembelian saham tersebut terbagi ke dalam dua tahap utama:
Tahap Pertama (4 September 2026): Membeli 600.000 saham dengan harga Rp1.806 per lembar.
Tahap Kedua (7 September 2026): Membeli 380.000 saham dengan harga Rp1.805 per lembar.
Baca Juga: Lagi! Investor Asing Raksasa Morgan Stanley Borong Miliaran Saham GOTO Secara keseluruhan, total nilai transaksi penambahan saham tersebut mencapai sekitar Rp1,76 miliar. aksi pembelian ini mendongkrak kepemilikan langsung Edwin Soeryadjaya menjadi 4.870.735.690 lembar saham, atau setara dengan 35,9071% hak suara (meningkat tipis dari posisi sebelumnya di 35,8999%). Pasar merespons positif aksi akumulasi saham oleh pengendali utama tersebut. Pada penutupan perdagangan tanggal 8 September 2026, saham SRTG tercatat menguat 1,39% ke level Rp1.830 per lembar. Kenaikan harga ini mencerminkan sentimen positif pasar yang mempersepsikan aksi beli oleh manajemen utama sebagai bentuk keyakinan tinggi terhadap nilai intrinsik perusahaan. Kinerja harga saham ini juga menunjukkan tren positif lanjutan dari posisi sebulan sebelumnya di kisaran Rp1.800 per lembar. Tonton: 5.000 Awak USS Abraham Lincoln Habiskan Rp53,5 Miliar di Thailand dalam 5 Hari Kinerja Saratoga Langkah strategis ini dilandasi oleh tujuan investasi,. Tampaknya, Edwin menilai prospek fundamental perusahaan sangat menarik untuk dimiliki lebih banyak. Sebagai komisaris, ia memiliki akses informasi yang mendalam untuk mengevaluasi nilai perusahaan tanpa mengindikasikan adanya perubahan pada strategi operasional perseroan. Meskipun kinerja perusahaan Saratoga sejauh ini tak memuaskan. SRTG mencatatkan kerugian neto atas investasi pada saham dan efek lainnya sebesar Rp 4,83 triliun per semester I 2026. Ini memburuk 165,6% dari rugi Rp 1,82 triliun per semester I 2025. Penghasilan dividen dan bunga tercatat Rp 1,69 triliun per Juni 2026, naik 31,51% secara tahunan. Penghasilan lainnya tercatat Rp 2,12 miliar, turun dari Rp 2,50 miliar per Juni 2025. SRTG juga mencatatkan beban usaha Rp 123,05 miliar dan beban lainnya Rp 2,06 miliar. Namun beban bunga berhasil turun dari Rp 99,23 miliar di Juni 2025 menjadi Rp 37,08 miliar di periode ini. Kerugian neto selisih kurs tercatat 5,41 miliar per Juni 2026, naik dari Rp 565 juta per Juni 2025. Rugi periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik perusahaan alias rugi bersih sebesar Rp 3,87 triliun per semester I 2026. Ini berbalik dari laba bersih Rp 102,01 miliar per semester I 2025. Di saham emiten blue chip, SRTG diketahui menggenggam saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Sementara, investasi Saratoga di saham emiten berkembang ada PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPIX), PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), dan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA).
Investor Relations Saratoga Mellisa Holidi mengatakan,sebagai perusahaan investasi, pergerakan nilai portofolio perseroan mengikuti dinamika dan fluktuasi yang terjadi di pasar modal. SRTG tetap konsisten menjalankan strategi investasi jangka panjang. Fokus utamanya berpusat pada penciptaan pertumbuhan nilai yang berkelanjutan melalui optimalisasi portofolio, peningkatan efisiensi operasional, serta penguatan strategi bisnis di seluruh perusahaan portofolio. “Melalui pendekatan ini, kami memastikan portofolio tetap tangguh di tengah berbagai dinamika pasar,” ujarnya kepada Kontan, Senin (31/8/2026).