JAKARTA. PT Bank Danamon Tbk. membantah spekulasi pasar tentang kerugian Danamon tahun lalu. Pengelola bank tersebut menyatakan, sepanjang 2008 Danamon masih mampu mengail laba bersih sebesar Rp 1,5 triliun. Memang, laba ini lebih rendah 29% dibandingkan laba bersih mereka tahun 2007. Dalam pernyataan tertulis, Direktur Utama Bank Danamon Sebastian Paredes menyatakan, Bank Danamon juga tak memiliki masalah dalam modal, likuiditas, dan kualitas kredit. "Rasio kecukupan modal kami hingga akhir Desember 2008 sebesar 13,4%, masih di atas angka CAR minimum yaitu 8%," kata Paredes. Dalam hitungan manajemen, rasio kredit bermasalah atawa non performing loan Danamon sebesar 2,3%. Paredes menyebut, krisis yang melanda industri keuangan dunia di awal triwulan keempat 2008 juga menyeret harga komoditi di pasar global. Imbasnya ke Danamon adalah nasabah yang yang mengandalkan pasar ekspor mengalami kesulitan memenuhi kewajiban kontrak forward valuta asing (valas). Namun Paredes memastikan Bank Danamon telah mencari jalan keluar. "Kami secara aktif bernegosiasi dengan nasabah," imbuhnya. Ia juga mengklaim, Bank Danamon telah melakukan antisipasi dalam transaksi valas. Caranya adalah melakukan pencadangan kerugian untuk kontrak derivatif yang bermasalah. Direktur dan Chief Financial Officer Danamon Vera Eve Liem menyatakan, per 21 Januari 2009 eksposur nasabah Danamon di kontrak foward valas di bawah US$ 93 juta. "Sebagian besar telah kami provisi dan kebanyakan nasabah menghormati kewajiban mereka," kata Vera. Sayang Vera tak merinci berapa besar provisi yang mereka alokasikan, maupun berapa besar total posisi nilai kontrak sebelum nilainya turun. Namun laporan keuangan Bank Danamon per akhir November yang diserahkan ke Bank Indonesia memperlihatkan, nilai tagihan derivatif sebesar Rp 4,87 triliun. Danamon beralasan, nilai tagihan tinggi karena rupiah melemah terhadap dolar Amerika.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Meski Tagihan Derivatif Gemuk, Danamon Tak Merugi
JAKARTA. PT Bank Danamon Tbk. membantah spekulasi pasar tentang kerugian Danamon tahun lalu. Pengelola bank tersebut menyatakan, sepanjang 2008 Danamon masih mampu mengail laba bersih sebesar Rp 1,5 triliun. Memang, laba ini lebih rendah 29% dibandingkan laba bersih mereka tahun 2007. Dalam pernyataan tertulis, Direktur Utama Bank Danamon Sebastian Paredes menyatakan, Bank Danamon juga tak memiliki masalah dalam modal, likuiditas, dan kualitas kredit. "Rasio kecukupan modal kami hingga akhir Desember 2008 sebesar 13,4%, masih di atas angka CAR minimum yaitu 8%," kata Paredes. Dalam hitungan manajemen, rasio kredit bermasalah atawa non performing loan Danamon sebesar 2,3%. Paredes menyebut, krisis yang melanda industri keuangan dunia di awal triwulan keempat 2008 juga menyeret harga komoditi di pasar global. Imbasnya ke Danamon adalah nasabah yang yang mengandalkan pasar ekspor mengalami kesulitan memenuhi kewajiban kontrak forward valuta asing (valas). Namun Paredes memastikan Bank Danamon telah mencari jalan keluar. "Kami secara aktif bernegosiasi dengan nasabah," imbuhnya. Ia juga mengklaim, Bank Danamon telah melakukan antisipasi dalam transaksi valas. Caranya adalah melakukan pencadangan kerugian untuk kontrak derivatif yang bermasalah. Direktur dan Chief Financial Officer Danamon Vera Eve Liem menyatakan, per 21 Januari 2009 eksposur nasabah Danamon di kontrak foward valas di bawah US$ 93 juta. "Sebagian besar telah kami provisi dan kebanyakan nasabah menghormati kewajiban mereka," kata Vera. Sayang Vera tak merinci berapa besar provisi yang mereka alokasikan, maupun berapa besar total posisi nilai kontrak sebelum nilainya turun. Namun laporan keuangan Bank Danamon per akhir November yang diserahkan ke Bank Indonesia memperlihatkan, nilai tagihan derivatif sebesar Rp 4,87 triliun. Danamon beralasan, nilai tagihan tinggi karena rupiah melemah terhadap dolar Amerika.Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News