Meski tahun lalu lampaui target, China patok pertumbuhan 6,5% tahun ini



KONTAN.CO.ID - BEIJING. China menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 6,5% tahun ini. Target tersebut sama seperti 2017. Hal itu disampaikan oleh Perdana Menteri China Li Keqiang dalam sambutan yang disiapkan pada acara pembukaan pertemuan parlemen tahunan pada Senin (5/3).

Target ekonomi China tetap tidak berubah meski ekonomi tumbuh 6,9% tahun lalu, yang melebihi target pemerintah.

Sumber Reuters sebelumnya membisikkan, China akan mempertahankan target pertumbuhannya di "kisaran 6,5%" tahun ini karena berusaha mengurangi risiko sistem keuangan sekaligus menjaga stabilitas ekonomi negara mereka.


China juga menargetkan indeks harga konsumennya di "kisaran 3%", sama seperti target 3% tahun lalu.

Meski demikian, negara ini memangkas target defisit anggarannya menjadi 2,6% dari produk domestik bruto dari sebelumnya 3% pada 2017. Sebagian besar analis memperkirakan target 2017 akan dipertahankan atau sedikit lebih rendah.

Li juga mengatakan, dia memprediksi pertumbuhan yang masuk akal dalam hal jumlah uang beredar M2 dan total pembiayaan sosial (TSF) tahun ini, tanpa menyebutkan target. Target yang ditetapkan untuk 2017 adalah untuk TSF dan M2 yang tumbuh sekitar 12%.

Stabilitas akan menjadi semboyan tahun ini karena Presiden Xi Jinping tengah mengejar visinya untuk mengubah China menjadi negara "sederhana yang sejahtera" pada tahun 2020 dan menjadi negara dengan "kekuatan kuat" di panggung dunia pada tahun 2050.

Menjelang pertemuan Kongres Rakyat Nasional (NPC) tahun ini, pihak berwenang telah meningkatkan tindakan keras terhadap konglomerat besar, setelah setahun melakukan deleveraging keuangan yang telah menargetkan pembiayaan yang berisiko dan membatasi utang perusahaan.

NPC, yang akan berakhir pada tanggal 20 Maret, diharapkan dapat menyetujui restrukturisasi berbagai departemen pemerintah dan pengangkatan beberapa pejabat penting termasuk seorang wakil presiden, wakil perdana menteri dan gubernur bank sentral yang baru.

Dalam sebuah laporan kerja pemerintah, Li juga mengatakan bahwa China menentang proteksionisme dan mendukung penyelesaian perselisihan perdagangan melalui perundingan, namun akan "dengan tegas melindungi" hak dan kepentingannya yang sah.

Pada Kamis lalu, Presiden Donald Trump mengumumkan dia akan mengenakan tarif yang lumayan untuk baja impor dan aluminium untuk melindungi produsen AS. Kebijakan ini dikhawatirkan akan mendorong pembalasan dari mitra dagang utama, seperti China, Eropa dan negara tetangga Kanada.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie