Meski Tumbuh, Krakatau Steel (KRAS) Sebut Ada Pergeseran Tren Permintaan Baja Global



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) menyebut industri baja global memiliki tantangan tersendiri seiring datangnya era dekarbonisasi. Kondisi ini diyakini bisa mempengaruhi aktivitas bisnis KRAS pada masa mendatang.

Direktur Utama Krakatau Steel Purwono Widodo mengatakan, setelah pandemi Covid-19 berakhir, permintaan baja global diperkirakan akan tumbuh sampai 2,1 miliar ton pada 2035. Walau begitu, pertumbuhan permintaan baja global bakal bersifat moderat seiring menurunnya intensitas baja akibat tren dekarbonisasi.

Sebagai contoh, di sektor otomotif terjadi peningkatan permintaan baja. Namun, intensitas baja di sektor otomotif menurun karena material mobil kini lebih ringan dan kuat demi tuntutan pemangkasan emisi karbon. Dalam 10 tahun terakhir pun, berat mobil telah berkurang sekitar 4%-7%.


“Ini menjadi tantangan bagi produsen baja, termasuk kami, untuk menyediakan baja yang kuat tetapi juga ringan,” ungkap Purwono dalam paparan publik, Rabu (22/11).

Baca Juga: Kinerja Keuangan Krakatau Steel (KRAS) Diproyeksikan Sulit Samai Capaian Tahun Lalu

Pergeseran tren juga terjadi di sektor perkapalan. Akibat perlambatan perdagangan global, permintaan baja untuk kapal kontainer, kapal curah batubara, dan kapal tanker minyak mengalami penurunan. Sebaliknya, permintaan baja untuk kapal pengangkut gas alam (natural gas) dan smart ship mengalami lonjakan dan berpotensi mendominasi pasar.

Lebih lanjut, permintaan baja global untuk sektor konstruksi bakal tetap solid dengan pertumbuhan compounded annual growth rate (CAGR) 2,5%. Namun, kembali lagi, intensitas baja di sektor konstruksi menurun dan banyak proyek konstruksi yang mementingkan penggunaan baja bertipe high-strength.

Tidak hanya itu, permintaan baja yang besar juga bakal datang dari sektor energi terbarukan sejalan dengan peningkatan investasi di sektor tersebut secara global. KRAS pun mesti menyediakan baja yang sesuai spesifikasi proyek-proyek energi terbarukan yang tentu ramah lingkungan.

Mengutip materi paparan publik, pendapatan KRAS berkurang 31% year on year (YoY) menjadi US$ 1,26 miliar per kuartal III-2023. Bersamaan dengan itu, KRAS menderita rugi bersih tahun berjalan senilai US$ 59 juta, padahal sebelumnya perusahaan ini meraih laba bersih US$ 82 juta per kuartal III-2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi