Meski Yield Berpotensi Turun di 2026, Obligasi Korporasi Tetap Menarik



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan imbal hasil (yield) obligasi korporasi berpeluang melanjutkan tren penurunan pada 2026 seiring dengan potensi pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Pefindo mencatat yield surat utang korporasi tercatat menurun sepanjang 2025. Pemangkasan suku bunga sebanyak lima kali sepanjang 2025 telah cepat tertransmisi ke pasar keuangan dan mendorong penurunan yield acuan.

Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun sebagai benchmark turun dari 7,00% pada akhir 2024 menjadi 6,07% pada akhir 2025. Penurunan ini turut diikuti oleh yield surat utang korporasi di berbagai kategori peringkat.


Chief Economist Pefindo Suhindarto memproyeksikan BI masih memiliki ruang satu hingga dua kali pemangkasan suku bunga, atau sekitar 25 hingga 50 basis poin tahun ini.

Baca Juga: Kuota Nikel Dipangkas 30%, Saham Aneka Tambang (ANTM) Direkomendasikan Trading Buy

“Yang mana kalau skenario itu terjadi maka tren yield di pasar juga relatif akan mengalami terus penurunan dibandingkan dengan tahun lalu. Dan kalau ditanya kisaran berapanya, mungkin kami bisa sebutkan angkanya di kisaran 5,7% hingga 6,2% (yield SUN 10Y) pada 2026,” ujar Suhindarto dalam konferensi pers Pefindo, Rabu (11/2/2026).

Selain faktor suku bunga, Suhindarto menyoroti potensi peningkatan penerbitan surat utang pemerintah sebagai faktor risiko. Kebutuhan pendanaan pemerintah yang masih tinggi, termasuk untuk membiayai berbagai program prioritas dan defisit fiskal, berpotensi meningkatkan suplai obligasi negara di pasar.

“Kalau akhirnya pasokannya (SBN) relatif menanjak dan berlebih, bisa jadi yield-nya cenderung untuk kaku untuk turun, meskipun suku bunga acuan diturunkan sesuai dengan ekspektasi yang kami sebutkan tadi,” jelasnya.

Asal tahu saja, Pefindo mencatat yield obligasi korporasi berperingkat AAA untuk tenor tiga tahun bergerak turun ke kisaran di bawah 6% pada akhir 2025, setelah sempat berada di atas 7% pada periode sebelumnya. Tren serupa juga terlihat pada kategori AA yang turun ke kisaran sekitar 6%.

Sementara itu, yield obligasi korporasi berperingkat A turun ke kisaran 7,5%-8% pada akhir 2025. Adapun kategori BBB yang memiliki risiko lebih tinggi juga mengalami penurunan yield, meskipun tetap berada pada level lebih tinggi dibandingkan peringkat di atasnya, yakni di kisaran sekitar 9%-10%.

Di tengah tren pemangkasan suku bunga, Suhindarto menilai obligasi korporasi masih memiliki daya tarik yang kuat bagi investor. Dari sisi imbal hasil, obligasi korporasi umumnya menawarkan return lebih tinggi dibandingkan surat utang pemerintah.

Hal ini menjadi keunggulan tersendiri bagi investor yang memburu imbal hasil lebih optimal di tengah tren penurunan suku bunga, terutama sebelum yield bergerak lebih rendah ke depan.

Baca Juga: Hashim Djojohadikusumo: Gejolak di Pasar Saham Bikin Prabowo Geram

Dibandingkan pasar saham, obligasi korporasi juga dinilai lebih stabil. Meski pasar saham berpotensi menguat dalam lingkungan suku bunga rendah, volatilitasnya dinilai masih cukup tinggi.

Dengan kombinasi imbal hasil yang lebih menarik dibandingkan obligasi pemerintah dan risiko yang relatif lebih terukur dibandingkan saham, Pefindo menilai daya tarik obligasi korporasi pada 2026 masih terjaga, melanjutkan tren positif yang sudah terbentuk sepanjang tahun lalu.

Ada pun Pefindo mencatat penerbitan obligasi korporasi sepanjang 2025 telah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all-time high. Pefindo melaporkan total penerbitan surat utang korporasi sepanjang Januari - Desember 2025 mencapai Rp 284,3 triliun, tumbuh 89,87% dibandingkan realisasi 2024 yang sebesar Rp 149,7 triliun.

Lonjakan penerbitan ini sendiri didorong oleh tingginya kebutuhan refinancing, biaya dana yang lebih murah, pendanaan perbankan yang cenderung relatif lebih mahal, serta peningkatan modal kerja dan investasi, dan juga strategi mengamankan pendanaan jangka panjang. Selain itu, one-off factor dari Patriot Bond Danantara juga turut menjadi faktor.

Selanjutnya: PoD Sumur Tangkulo-1 Blok South Andaman Ditargetkan Rampung Juni 2026

Menarik Dibaca: 6 Jenis Buah yang Bantu Bikin Panjang Umur jika Dikonsumsi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News