Meskipun merugi, Bank Neo Commerce optimistis dorong digitalisasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren penggunaa bank digital meningkat seiring dengan meningkatnya transaksi digital sebesar 40% di 2020 jika dibandingkan dengan 2019 dengan total transaksi Rp 201 triliun di 2020.

Selain itu, transaksi e-commerce di 2019 sebesar Rp 205 triliun, dan di 2020 meningkat 30% menjadi Rp 266 triliun. Di kuartal I 2021, transaksi e-commerce mencapai Rp 88 triliun. Diproyeksikan hingga akhir tahun akan mencapai Rp 352 triliun.

PT Bank Neo Commerce Tbk telah melakukan soft launching aplikasi Neo+ pada Maret 2021, yang saat ini memiliki 6 juta nasabah. Pada September 2021, Bank Neo Commerce sudah mendapatkan izin untuk melakukan aktivitas perbankan dan pembukaan rekening secara online atau Customers Online Onboarding melalui aplikasi Neo+.


“Tahun 2021 merupakan tahun investasi bagi Bank Neo Commerce dengan melakukan proses transformasi digital secara masif. Fokus tahun ini melakukan inovasi pengembangan produk dan layanan perbankan digital yang memberikan manfaat bagi nasabah Bank Neo Commerce,” ujar Direktur Utama Bank Neo Commerce, Tjandra Gunawan dalam public exposure virtual, Senin (6/9).

Baca Juga: Pengamat sebut BI tak perlu atur rasio pembiayaan UMKM perbankan

Produk dan layanan digital yang sedang dan akan dikembangkan oleh Bank Neo Commerce antara lain Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), Payment Point Online Bank (PPOB), lifestyle services, chat-based interaction, phone transfer, direct Loan, dan direct Debit.

Sementara itu, per semester I 2021 Bank Neo Commerce mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 132 miliar. Tjandra mengatakan, hal ini dikarenakan meningkatnya biaya operasional melalui naiknya jumlah pengguna, customer acquisition, promosi dan edukasi, serta investasi di teknologi.

Selain itu, Bank Neo Commerce mencatatkan peningkatan pendapatan bunga bersih sebesar 42% menjadi Rp 136 miliar per Juni 2021. Pada periode yang sama tahun lalu tercatat sebesar Rp 96 miliar.

Total aset yang dimiliki Bank Neo Commerce per Juni 2021 sebesar Rp 6,9 triliun atau meningkat 75% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 3,9 triliun. Selain itu, total dana pihak ketiga (DPK) Bank Neo Commerce per Juni 2021 adalah sebesar Rp 5,1 triliun atau meningkat 72% dari tahun 2020 yang sebesar Rp 2,9 triliun. Sementara itu, untuk penyaluran kredit Bank Neo Commerce di semester I 2021 adalah Rp 3,8 triliun yang meningkat 33% dari tahun 2020 yang sebesar Rp 2,9 triliun.

“Saat ini kami sedang melakukan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) di bulan September 2021, dengan target sebesar Rp 2,5 triliun. Hasil rights issue akan digunakan untuk pemenuhan modal inti, investasi teknologi dan keamanan digital, pengembangan sumber daya manusia, melakukan promosi dan edukasi berkelanjutan tentang bank digital,” urai Tjandra.

Bank Neo Commerce menargetkan modal inti sebesar Rp 3 triliun hingga di akhir tahun ini. “Walaupun ketentuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) target minimal modal inti ini untuk tahun 2022, namun kami menargetkannya pada tahun ini bisa kami capai. Pemenuhan modal ini bukan hanya untuk memenuhi ketentuan OJK tapi menjadi bagian rencana investasi transformasi menjadi bank digital,” tutupnya.

Selanjutnya: Bank Neo Commerce (BBYB) memperluas kerja sama dengan fintech P2P lending

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi