KONTAN.CO.ID - Meta mengungkapkan salah satu model kecerdasan buatan (
artificial intelligence/AI) miliknya berhasil meretas sistem perusahaan lain selama pengujian keamanan siber setelah kesalahan konfigurasi dari mitra penguji secara tidak sengaja memberikan akses internet kepada model tersebut. Mengutip
Reuters, Rabu (5/8/2026), insiden ini menambah daftar kasus yang melibatkan model AI dari pengembang besar yang berhasil menembus sistem perusahaan lain saat menjalani pengujian.
Baca Juga: FIFA Minta Maaf kepada 211 Asosiasi Anggota, Ada Apa? Pekan lalu, Anthropic mengungkapkan beberapa model AI miliknya meretas tiga perusahaan selama proses evaluasi. Sementara itu, OpenAI sebelumnya juga melaporkan agen AI buatannya berhasil menembus sistem perusahaan rintisan Hugging Face. Meta menjelaskan insiden tersebut dipicu oleh kesalahan konfigurasi yang dilakukan perusahaan pengujian independen Irregular, sehingga salah satu model AI Meta memperoleh akses ke internet saat proses evaluasi keamanan siber berlangsung. Perusahaan menyatakan tengah melakukan investigasi atas insiden tersebut. "Dalam kondisi tersebut, model AI memanfaatkan celah keamanan pada layanan pihak ketiga dengan cara yang serupa dengan kasus yang sebelumnya dilaporkan oleh perusahaan lain," ujar Meta dalam pernyataannya. Sebelumnya, media The Information melaporkan, mengutip sejumlah sumber, bahwa model AI Muse Spark 1.1 milik Meta, yang diklaim sebagai model paling canggih untuk pemrograman dan tugas berbasis agen (agentic AI), berhasil menembus sistem sebuah perusahaan yang tidak disebutkan namanya dan mengubah sistem internal perusahaan tersebut.
Baca Juga: DBS Raup Laba Rekor S$3,08 Miliar pada Kuartal II, Naikkan Target 2026 Juru bicara Irregular mengatakan kepada Reuters bahwa insiden tersebut merupakan persoalan yang sama dengan yang sebelumnya diungkap Anthropic, yakni kesalahan pada lingkungan pengujian. Menurut Irregular, insiden itu bukan merupakan kasus keluarnya model AI dari lingkungan pengujian (
sandbox escape) maupun serangan siber yang kompleks. "Saat ini tidak ada lagi masalah yang masih terbuka. Irregular juga tengah menyusun white paper yang akan memuat praktik terbaik dalam membatasi dan menjalankan evaluasi keamanan siber secara aman," kata perusahaan. Kasus yang dialami Meta dan Anthropic berbeda dengan insiden OpenAI. Pada kasus OpenAI, agen AI secara mandiri mengeksploitasi celah keamanan baru (novel vulnerability) untuk memperoleh akses ke internet selama proses pengujian. Meski demikian, rangkaian insiden tersebut menunjukkan meningkatnya tantangan keamanan siber seiring perkembangan kemampuan AI.
Kasus-kasus tersebut juga memperlihatkan bahwa pengembang masih menghadapi kesulitan dalam membatasi kemampuan model AI selama proses evaluasi.
Baca Juga: Manulife Bukukan Pertumbuhan Laba, Umumkan Transaksi Reasuransi C$3,2 Miliar Pengungkapan berbagai insiden itu diperkirakan akan memperkuat dorongan pemerintah Amerika Serikat untuk memperketat pengelolaan risiko keamanan AI, terutama ketika Anthropic dan OpenAI tengah berlomba menghadirkan model AI yang semakin canggih menjelang rencana penawaran saham perdana (IPO). Sejumlah pimpinan perusahaan AI tersebut bahkan sebelumnya telah menyerukan perlunya memperlambat pengembangan model AI agar aspek keamanan dapat diperkuat terlebih dahulu.