KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meta Platforms, perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp, berencana menghimpun dana ekuitas hingga US$ 95 miliar untuk membiayai ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan investasi besar. Reuters melaporkan pada Senin (26/10), Meta telah meluncurkan penawaran saham biasa dan saham preferen konversi dengan nilai sekitar US$ 35 miliar. Selain itu, perusahaan berencana menjalankan program penjualan saham secara bertahap di pasar dengan nilai hingga US$ 60 miliar. Program penjualan saham tersebut akan dimulai setelah saham Kelas C baru Meta yang tidak memiliki hak suara mulai diperdagangkan. Pencatatan saham tersebut diperkirakan berlangsung pada kuartal I-2027.
Langkah penggalangan dana ini dilakukan ketika Meta meningkatkan belanja untuk pembangunan pusat data, kapasitas komputasi, serta pengembangan produk AI. Perusahaan tersebut berupaya memperkuat persaingan dengan pemain besar di industri AI, termasuk OpenAI dan Anthropic.
Baca Juga: Belanda Targetkan Pangkas 20% Pegawai Negeri dalam 10 Tahun ke Depan Berdasarkan laporan keuangan kuartalan yang dirilis pekan lalu, Meta memiliki kas, setara kas, dan surat berharga yang dapat dipasarkan senilai US$ 82,45 miliar per 30 September 2026. Nilai tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan utang jangka panjang perusahaan yang mencapai US$ 80,92 miliar. Di sisi lain, Meta telah berkomitmen mengeluarkan belanja sekitar US$ 825 miliar pada masa mendatang. Sebagian besar kebutuhan tersebut didorong oleh peningkatan investasi pada pusat data, infrastruktur terkait AI, dan kapasitas komputasi awan.
Nvidia, AMD, dan Broadcom Minati Saham Meta
Dalam penawaran saham tersebut, Meta menyebut tiga perusahaan semikonduktor, yakni Nvidia, Advanced Micro Devices (AMD), dan Broadcom, telah menyatakan minat untuk membeli saham biasa Meta Kelas A senilai hingga US$ 5 miliar. Ketertarikan ketiga perusahaan itu muncul di tengah meningkatnya kebutuhan infrastruktur komputasi untuk mendukung pengembangan dan operasional teknologi AI. Peningkatan kapasitas pusat data dan komputasi menjadi bagian penting dari strategi Meta untuk memperluas layanan berbasis AI. Namun, ekspansi tersebut juga meningkatkan kebutuhan pendanaan dan tekanan terhadap arus kas perusahaan. Pekan lalu, Meta menaikkan batas bawah proyeksi belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk tahun ini. Perusahaan kini memperkirakan capex berada di kisaran US$ 135 miliar hingga US$ 145 miliar, dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar US$ 130 miliar hingga US$ 145 miliar.
Baca Juga: Industri Otomotif China Hadapi Tahun Sulit, Penjualan Diproyeksi Pulih pada 2027 Arus Kas Meta Tertekan akibat Belanja AI
Besarnya investasi infrastruktur mulai tercermin pada kinerja arus kas Meta. Pada kuartal III-2026, perusahaan mencatat arus kas bebas negatif atau negative free cash flow sebesar US$ 2,12 miliar. Kondisi tersebut menjadi arus kas bebas negatif pertama Meta dalam lebih dari satu dekade. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun sebelumnya, Meta masih membukukan arus kas bebas positif sebesar US$ 10,63 miliar. Meski demikian, kinerja pendapatan perusahaan masih melampaui ekspektasi pasar. Meta mencatat pendapatan sebesar US$ 64,60 miliar pada kuartal III-2026, lebih tinggi daripada estimasi analis Wall Street sebesar US$ 63,37 miliar. Untuk kuartal IV-2026, Meta memproyeksikan pendapatan berada di kisaran US$ 73 miliar hingga US$ 76 miliar.