KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) diproyeksikan masih prospektif pada tahun 2026, meskipun tak akan mengalami pertumbuhan yang signifikan. MTLA mengantongi pendapatan prapenjualan alias marketing sales sebesar Rp 401 miliar hingga kuartal I 2026. Direktur MTLA Olivia Surodjo mengatakan, raihan marketing sales itu merupakan kombinasi yang terdiri dari presales dan
recurring revenue, “Kontribusi sebesar 67% berasal dari penjualan residensial. Sementara, sisanya berasal dari
recurring revenue, khususnya dari segmen mal dan hotel,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (22/4). Ditahannya suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) di level 4,75% diakui menjadi stimulus positif untuk MTLA, karena menjaga suku bunga KPR tetap kompetitif bagi konsumen.
Baca Juga: INCO Dapat Fasilitas Kredit Berkelanjutan hingga US$ 750 Juta, Cek Rekomendasinya “Dampaknya memang tidak langsung. Namun, lebih terlihat dari kecenderungan konsumen yang mempercepat keputusan pembelian dengan memanfaatkan suku bunga yang relatif rendah serta insentif PPN DTP,” katanya. Di sisi lain, MTLA juga mencermati tantangan berupa potensi pelemahan daya beli akibat kenaikan harga BBM dan kecenderungan konsumen menunda pembelian di tengah ketidakpastian prospek ekonomi global. Menyikapi outlook suku bunga 2026, Metland tetap fokus pada produk
end-user atau
first home buyer dan strategi harga yang kompetitif. Kami juga punya program pembiayaan yang fleksibel melalui kerja sama dengan perbankan, sekaligus memperkuat
recurring income (mal & hotel) sebagai penopang kinerja,” katanya.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata menilai, kinerja keuangan MTLA pada kuartal I 2026 akan cenderung menunjukkan fase stabilisasi setelah tekanan di 2025, dengan laba yang sebelumnya turun mulai menemukan titik dasar. Sebagai gambaran, pendapatan MTLA tercatat Rp 1,78 triliun pada akhir 2025, turun 11,89% dari Rp 2,02 triliun pada tahun 2024. MTLA pun mengantongi laba bersih Rp 412,93 miliar di 2025, turun 12% YoY dari Rp 469,25 miliar di 2024. Menurut Liza, ini bukan fase pemulihan agresif, melainkan “
bottoming phase”. Artinya, kinerja tidak lagi memburuk lantaran didukung oleh permintaan segmen rumah pertama (
middle–low) yang masih cukup resilien. “Namun, sentimen global seperti suku bunga tinggi dan ketidakpastian ekonomi masih membatasi pemulihan, terutama untuk segmen menengah atas yang cenderung lebih sensitif terhadap kondisi makro,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (24/4). Untuk sepanjang tahun 2026, prospek MTLA lebih mencerminkan karakter sebagai
defensive compounder dibanding
growth story. Liza bilang, kinerja Metland akan ditopang oleh proyek township eksisting di area Bekasi dan sekitarnya, serta kontribusi pendapatan berulang (
recurring income) dari aset komersial seperti mall dan hotel. Kombinasi ini membuat pendapatan sepanjang 2026 jadi relatif lebih stabil dibanding developer properti murni. “Struktur neraca yang konservatif dengan leverage rendah juga menjadi keunggulan, terutama di tengah tekanan suku bunga tinggi yang membebani sektor properti secara umum,” paparnya. Dibandingkan peers emiten properti lainnya, seperti PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), posisi MTLA jelas berada di sisi defensif dengan pertumbuhan lebih terbatas. Namun, risiko MTLA juga lebih terjaga. Menurut Liza, MTLA tidak memiliki ekspansi landbank agresif seperti BSDE atau CTRA, maupun kekuatan
recurring income sebesar PWON. Sehingga, secara valuasi memang terlihat murah tetapi dengan katalis rerating yang relatif terbatas. Dari sisi investasi, saham MTLA masih layak dipertimbangkan untuk profil defensif dengan ekspektasi capital gain yang terbatas dan dividen yang stabil namun tidak tinggi. Dengan tidak adanya katalis besar dalam jangka pendek, pergerakan saham kemungkinan akan cenderung
sideways dengan bias perbaikan bertahap. “Saham MTLA lebih cocok sebagai aset “penjaga stabilitas portofolio” investor dibandingkan sumber pertumbuhan agresif,” katanya.. Praktisi Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto melihat, pergerakan saham MTLA ada di level support Rp 525 per saham dan resistance Rp 660 per saham.
“Tren sideways dan indikator Stochastic menunjukkan indikasi penguatan dengan membentuk golden cross,” katanya kepada Kontan, Jumat. William pun merekomendasikan beli untuk MTLA dengan target harga Rp 660 - Rp 700 per saham.
Baca Juga: Dana Haji Disarankan Tambah Investasi di Emas 5%–15%, WGC Ungkap Manfaatnya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News