KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Multi Harapan Utama (MHU) memperkuat pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional melalui empat program yang diarahkan untuk menciptakan manfaat berkelanjutan. Empat program tersebut mencakup penyediaan Air Bersih Pascatambang melalui Pompa Hydram, penguatan BUMDes Payang Sejahtera, pengembangan KUBE Koetai Harapan Utama, serta Rumah Cokelat Lung Anai. Presiden Direktur MHU Kemal Djamil Siregar menegaskan, keberhasilan program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) tidak berhenti pada besarnya investasi perusahaan. Lebih dari itu, program harus mampu mendorong masyarakat tumbuh dan mandiri.
“Keberhasilan program pemberdayaan masyarakat bukan hanya dilihat dari berapa besar dukungan yang diberikan perusahaan, tetapi dari perubahan yang dapat terus berjalan setelah dilaksanakan. Karena itu, kami ingin memastikan masyarakat memiliki akses, kemampuan, dan kelembagaan yang dapat tumbuh secara mandiri,” ujar Kemal dalam keterangannya, Selasa (1/9/2026).
Baca Juga: Aksesmu Perkuat Ekosistem UMKM Lewat Produk Lokal dan Pemberdayaan Warung Program Air Bersih Pascatambang–Pompa Hydram dijalankan di Desa Sungai Payang, Kutai Kartanegara. Program ini memanfaatkan void pascatambang sebagai sumber air bersih dengan teknologi Pompa Hydram yang bekerja tanpa listrik maupun bahan bakar. Fasilitas tersebut terdiri dari tiga Pompa Hydram, dua hydropur, dan Water Treatment Plant (WTP) berkapasitas 126 meter kubik. Jaringan distribusi sepanjang lebih dari 3,6 kilometer melayani tiga dusun dan telah menyediakan akses air bersih bagi 582 kepala keluarga. Pengelolaannya melibatkan BUMDes Payang Sejahtera agar masyarakat turut berperan menjaga keberlanjutan program. “Kami tidak hanya melihat void sebagai bagian dari proses pascatambang, tetapi sebagai aset yang dapat dikembalikan manfaatnya kepada masyarakat,” kata Kemal Adapun Program Penguatan BUMDes Payang Sejahtera yang berjalan sejak 2017 mendorong pengembangan berbagai usaha, mulai dari katering, laundry, housekeeping, pabrik kompos, hingga layanan air bersih. Hasilnya, omzet BUMDes meningkat dari Rp4,6 miliar pada 2019 menjadi Rp27,6 miliar pada 2023, dengan nilai Social Return on Investment (SROI) 4,27. “Target kami bukan membuat masyarakat bergantung pada perusahaan, tetapi membangun institusi ekonomi desa yang mampu berdiri dan berkembang secara mandiri,” ujar Kemal.
Baca Juga: Mou Hilirisasi Indonesia-Swiss: Pemberdayaan SDA, Teknologi dan Pendanaan Program KUBE Koetai Harapan Utama di Desa Loa Kulu Kota mendorong kelompok pertukangan kayu meningkatkan kapasitas produksi melalui pelatihan, pendampingan, dan bantuan peralatan. Hasilnya, kelompok tersebut dipercaya memasok meja dan kursi untuk sekolah di Kutai Kartanegara. Program ini mencatat SROI 5,23. Sementara itu, Rumah Cokelat Lung Anai mengembangkan komoditas kakao masyarakat adat Dayak Kenyah melalui hilirisasi. Lebih dari 100 petani mencatat kenaikan pendapatan hingga lima kali lipat setelah kakao diolah dan dipasarkan dalam bentuk produk bernilai tambah.
Program ini juga membuka peluang ekonomi bagi perempuan. Sebanyak 12 perempuan lokal kini terlibat dalam pengolahan kakao. Rumah Cokelat Lung Anai berkembang sebagai pusat pengolahan dan pelatihan kakao sekaligus destinasi agrowisata. Atas kontribusinya dalam mendorong pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional, MHU meraih penghargaan Impactful Program Awards. Kemal mengatakan , penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas pendekatan PPM yang tidak sekadar memberikan bantuan, tetapi menciptakan dampak ekonomi dan sosial yang terukur serta mendorong kemandirian masyarakat. Keempat program MHU menunjukkan upaya perusahaan mengembangkan beragam potensi lokal, mulai dari pemanfaatan aset pascatambang, penguatan ekonomi desa, peningkatan keterampilan, hingga hilirisasi komoditas. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News