Mi Lezat Berbahan Dasar Tepung Sagu



Berawal dari keinginan menyediakan makanan sehat bagi anak-anaknya pada 2016, Dyah Puspita mulai membuat mi berbahan dasar sagu. Usaha yang awalnya hanya untuk konsumsi keluarga dan teman itu ternyata berkembang menjadi Mie Sehat Cempaka, sekaligus menjadi mi alternatif yang tidak pakai terigu.

DYAH pada awalnya membuat mi sagu hanya untuk keluarga dan teman dekat di Kota Ambon, Maluku. Seiring waktu, banyak teman mulai memesan produk tersebut untuk berbagai acara.

Permintaan kian berkembang saat pandemi Covid-19. Adanya kelangkaan tepung terigu di Ambon membuat masyarakat mencari alternatif pangan lain, termasuk mi berbahan dasar sagu.


"Pas Covid tiba-tiba di Ambon stok terigu kosong. Akhirnya mau tidak mau mereka harus makan mi sagu," ujar Dyah kepada KONTAN belum lama ini. Karena ada permintaan, Dyah memutuskan untuk fokus menggarap usaha mi sagu itu.

Ia menawarkan sampel mi sagu ke sejumlah supermarket, tentu dengan melengkapi persyaratan perizinan dan sertifikasi agar produknya dapat dipasarkan lebih luas.

Untuk menjamin produksi, Dyah bermitra dengan petani sagu di Maluku, termasuk petani dari Kabupaten Seram Bagian Barat dan Seram Bagian Timur. Sagu dari para petani itulah yang diolah menjadi produk pangan bernilai tambah. "Saya gembira. Sagu yang ditelantarkan, tidak punya nilai ekonomi, sekarang sudah kayak berlian," kata Dyah.

Agar tetap eksis, Dyah rutin melakukan inovasi dengan mengembangkan produk berbahan dasar tepung sagu. Kini Mie Sehat Cempaka memiliki ragam pilihan kuliner lainnya seperti cakalang asap, menu ikan julung, tom yam, jamur, dan jagung. Agar bisa menjangkau pasar yang jauh, Dyah mengembangkan mi beku dan mi kering dalam kemasan agar produk lebih tahan lama dan praktis didistribusikan.

Selain mi, Dyah mengembangkan aneka makanan ringan berbahan sagu, seperti kukis, stik sagu dengan beragam rasa, dan brownies sagu. Dalam hal distribusi, Mie Sehat Cempaka memasarkan produknya lewat toko oleh-oleh di Maluku dan Ternate. Produk ini juga tersedia di lokapasar seperti Shopee dan PaDi UMKM.

Meski bisnisnya berkembang, Dyah kerap terkendala dalam hal pengiriman atau logistik. Usahanya ada di kawasan kepulauan membuat biaya kirim bisa mengurangi nilai keekonomian, meskipun permintaan dari daerah tujuan tersedia.

Contoh, permintaan dari Jakarta, Bali, dan sejumlah daerah dilayani langsung dari Ambon. Ini karena Dyah belum memiliki gudang atau distribusi di luar Ambon.

Di luar pasar domestik, produk Mie Sehat Cempaka telah dikirim ke Belanda, Australia, dan Amerika Serikat (AS). Dyah juga pernah menerima pesanan dari Singapura. Namun, Dyah menyebut, ekspor itu masih berskala kecil.

Setidaknya, geliat bisnis Mie Sehat Cempaka tercermin dari omzet bulanan. Dyah bilang, pada awal usaha omzetnya hanya sekitar Rp 2 juta - Rp 3 juta per bulan. Kini, omzet tersebut melampaui Rp 100 juta per bulan.

Seiring bisnisnya yang mekar, Dyah juga menambah tenaga kerja. Kini, usaha yang dikelola bersama sang suami itu telah mempekerjakan 12 karyawan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News