Michael Riady bangun imperium bisnis sendiri



LOMBOK. Sembilan tahun sepertinya menjadi waktu yang cukup bagi Michael Riady untuk mencoba peruntungan bisnis sendiri. Pasca melepas jabatan sebagai Chief Executive Officer (CEO) Lippo Malls pada September 2013, generasi ketiga konglomerasi bisnis Grup Lippo ini memilih mengembangkan The Blacksteel Group di bisnis properti.

Kini, Michael Riady memiliki lebih dari 50% saham Blacksteel Group. Pria berusia 34 tahun itu kini menjabat CEO Blacksteel Group. Kiprah anak Andrew Taufan Riady sekaligus cucu Mochtar Riady di Blacksteel itu terlepas dari Grup Lippo.

"Blacksteel adalah total independen dari Lippo dan Michael fokus 100% di Blacksteel," kata Elsye Tanihaha, Public Relation and Marketing Director The BlackSteel Group, kepada KONTAN (25/5). Blacksteel sejatinya bukan pemain baru. Perusahaan yang semula bernama PT Bliss Property Indonesia (Bliss Group) ini berganti nama tahun 2013, sejak Michael dan konsorsium bisnisnya turut bergabung di sini.


Blacksteel juga bukan perusahaan asing bagi Michael. Pasalnya, Michael adalah kakak ipar Isaac Bliss Tanihaha, yang menjabat sebagai Chief Operating Officer The BlackSteel Group, sekaligus pendiri Bliss Group. Nah, Blacksteel siap tancap gas. Perusahaan ini fokus di bisnis pusat perbelanjaan. Blacksteel lebih mengincar kawasan Indonesia Timur dan wilayah lain yang belum dilirik investor lain.

Misalnya, Blacksteel membangun mal di Ambon, Maluku, serta membangun pusat perbelanjaan di Ponorogo, Jawa Timur. Blacksteel juga menggarap superblok di Lombok, Nusa Tenggara Barat senilai Rp 1 triliun mulai tahun ini. Sebanyak 70% pendanaan proyek ini berasal dari kucuran kredit Bank Sinar Mas dan sisanya dari kas internalnya.

Di atas lahan 8,8 hektare (ha) bakal berdiri pusat perbelanjaan seluas 80.000 meter persegi (m²), ruang pertemuan berkapasitas 500 orang dan hotel 200 unit kamar. Blacksteel menargetkan proyek terbesar bagi perusahaan ini bisa tuntas tahun 2017.

Secara umum, target perusahaan ini dalam lima tahun ke depan atau hingga 2019 adalah memiliki 17 pusat perbelanjaan dan memiliki aset US$ 300 juta. "Dalam lima tahun ke depan, juga, kami akan IPO (initial public offering) di Indonesia atau Singapura," beber Isaac.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie