KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Jempol yang terus bergerak di layar ponsel kini ikut mengubah cara orang menikmati cerita. Di sela perjalanan, antrean, atau waktu luang beberapa menit, penonton bisa menyelesaikan satu episode drama tanpa harus menyediakan waktu berjam-jam. Format vertikal dengan alur cepat dan cerita yang dibuat menggantung di setiap episode itu dikenal sebagai micro-drama. Tren ini semakin populer di Asia dan perlahan mendorong industri hiburan mengubah bukan hanya cara bercerita, tetapi juga cara memproduksi konten. Perubahan perilaku penonton tersebut membuat kecepatan menjadi semakin penting. Cerita harus mampu menarik perhatian sejak awal, sementara proses produksinya dituntut lebih ringkas dan efisien. Di titik inilah kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai mengambil peran. Tommy Lo, Controller TVB Plus dan First Frame Studio, mengatakan AI membuka ruang bagi kreator untuk mewujudkan ide yang sebelumnya kerap terbentur persoalan produksi. Konsep cerita yang membutuhkan lokasi sulit, biaya besar atau sumber daya berlebihan tidak harus langsung dibatalkan.
Micro-Drama Mengubah Industri Hiburan
KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Jempol yang terus bergerak di layar ponsel kini ikut mengubah cara orang menikmati cerita. Di sela perjalanan, antrean, atau waktu luang beberapa menit, penonton bisa menyelesaikan satu episode drama tanpa harus menyediakan waktu berjam-jam. Format vertikal dengan alur cepat dan cerita yang dibuat menggantung di setiap episode itu dikenal sebagai micro-drama. Tren ini semakin populer di Asia dan perlahan mendorong industri hiburan mengubah bukan hanya cara bercerita, tetapi juga cara memproduksi konten. Perubahan perilaku penonton tersebut membuat kecepatan menjadi semakin penting. Cerita harus mampu menarik perhatian sejak awal, sementara proses produksinya dituntut lebih ringkas dan efisien. Di titik inilah kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai mengambil peran. Tommy Lo, Controller TVB Plus dan First Frame Studio, mengatakan AI membuka ruang bagi kreator untuk mewujudkan ide yang sebelumnya kerap terbentur persoalan produksi. Konsep cerita yang membutuhkan lokasi sulit, biaya besar atau sumber daya berlebihan tidak harus langsung dibatalkan.