Microsoft Kembangkan AI Diagnosis Penyakit, Akurasinya Diklaim Dua Kali Lipat Dokter



KONTAN.CO.ID - Microsoft mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang mampu mendiagnosis penyakit secara bertahap, menyerupai proses pemeriksaan yang dilakukan dokter.

Dalam sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Science pada Kamis (22/10/2026), model AI tersebut dilaporkan memiliki akurasi lebih dari dua kali lipat dibandingkan dokter umum dalam menangani kasus medis kompleks.

Baca Juga: AS Larang Mobil Listrik BYD Masuk Pangkalan Udara di Jepang, Ini Alasannya


Berbeda dengan sistem AI medis yang umumnya menganalisis seluruh gejala, hasil laboratorium, dan pencitraan pasien sekaligus untuk menghasilkan diagnosis, teknologi Microsoft menggunakan pendekatan bertahap.

Sistem ini menentukan informasi apa yang perlu ditanyakan kepada pasien, pemeriksaan fisik yang relevan, serta tes lanjutan yang dibutuhkan berdasarkan hasil pemeriksaan sebelumnya.

Menurut laporan Reuters, pendekatan tersebut mengandalkan komponen yang disebut orchestrator untuk mengatur proses penalaran diagnostik. Komponen ini mengoordinasikan panel pakar klinis yang disimulasikan oleh AI untuk memecahkan kasus medis.

Dalam prosesnya, AI terlebih dahulu mengidentifikasi informasi penting dari riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik pasien.

Baca Juga: Bursa Australia Melemah Jumat (23/10), Saham Tambang Tertekan Harga Komoditas

Setelah memperoleh informasi awal, sistem menentukan tes yang perlu dilakukan, mengevaluasi hasilnya, lalu memutuskan apakah pemeriksaan tambahan diperlukan. Hipotesis diagnosis dan rencana pemeriksaan diperbarui sepanjang proses tersebut.

Para peneliti menguji model ini pada lebih dari 300 kasus medis yang sangat tidak biasa dan sulit didiagnosis.

Hasilnya, AI dengan diagnostic orchestrator tersebut memiliki akurasi lebih dari dua kali lipat dibandingkan dokter umum yang menggunakan buku referensi dan internet untuk menelusuri kasus.

Model tersebut juga mengungguli dokter dalam pengujian menggunakan skenario yang diambil dari basis data besar pasien yang masuk ke instalasi gawat darurat (IGD).

Dominic King, wakil presiden korporat unit kesehatan Microsoft AI mengatakan kemampuan AI dalam menjawab soal medis berbentuk pilihan ganda tidak selalu mencerminkan kinerja di dunia nyata. Menurut dia, pasien tidak datang ke dokter dengan rangkuman gejala yang sudah tersusun rapi.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Bertahan di Level Tinggi Jumat (23/10), Brent ke US$ 112,96

Peneliti Microsoft juga menemukan bahwa proses diagnosis yang dirancang oleh orchestrator membutuhkan biaya lebih rendah dibandingkan proses pemeriksaan yang dilakukan dokter manusia dalam pengujian tersebut.

Harsha Nori, kepala AI di Microsoft AI Health mengatakan, evaluasi teknologi ini tidak hanya berfokus pada akurasi diagnosis, tetapi juga pada ketepatan dan kehati-hatian sistem dalam menentukan rangkaian pemeriksaan yang diperlukan.

Meski demikian, teknologi tersebut masih memerlukan pengujian lebih lanjut sebelum penerapannya dalam layanan kesehatan sehari-hari.

Microsoft bersama Beth Israel Deaconess Medical Center di Boston selanjutnya akan menguji kemampuan sistem untuk melakukan triase pasien di ruang tunggu IGD.

Pengujian berikutnya akan menjadi tahap penting untuk menilai apakah teknologi tersebut dapat membantu tenaga medis menentukan prioritas penanganan pasien dalam situasi pelayanan darurat.

Baca Juga: Pre-Order iPhone Duo Meledak, Apple Naikkan Produksi hingga 44%