KONTAN.CO.ID - Microsoft dan OpenAI sepakat mengubah ketentuan kerja sama mereka, membuka jalan bagi pengembang ChatGPT tersebut untuk menjalin kemitraan dengan perusahaan lain, termasuk Amazon. Melansir laporan
Reuters Senin (27/4/2026), perubahan ini mengakhiri sebagian eksklusivitas dalam kemitraan yang selama ini memungkinkan Microsoft menjadi satu-satunya pihak yang menjual model kecerdasan buatan OpenAI.
Baca Juga: Taiwan Siaga, Dua Kapal Perang China Terdeteksi di Dekat Penghu Langkah tersebut menandai pergeseran besar dalam salah satu aliansi paling penting di era AI. Saham Microsoft sempat turun 1,3% setelah kabar ini muncul, namun ditutup relatif stabil. Sementara itu, saham Alphabet naik 1,81%, sedangkan Amazon turun 1,1%. Sejak 2019, Microsoft telah menginvestasikan sekitar US$13 miliar ke OpenAI, yang berperan besar dalam mendorong pertumbuhan bisnis komputasi awan Azure sekaligus mempercepat posisi OpenAI sebagai pionir AI. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, muncul ketegangan karena OpenAI ingin memiliki fleksibilitas untuk menjalin kerja sama cloud dengan pesaing Microsoft. Melalui kesepakatan baru ini, OpenAI memperoleh keleluasaan lebih besar untuk mengakses sumber daya komputasi dan mengembangkan bisnis enterprise agar mampu bersaing dengan Anthropic, yang juga tengah bersiap menuju penawaran umum perdana (IPO).
Baca Juga: Akuisisi Warner Bros, Paramount Minta Lampu Hijau FCC untuk Investor Global Di sisi lain, Microsoft tetap menjadi mitra cloud utama OpenAI hingga 2032 dan mempertahankan lisensi atas kekayaan intelektual OpenAI. Microsoft juga akan menerima bagian pendapatan sebesar 20% dari OpenAI hingga 2030, meskipun totalnya kini dibatasi pada angka tertentu yang tidak diungkapkan. Kesepakatan baru ini juga menghapus klausul yang sebelumnya memungkinkan OpenAI menghentikan pembayaran kepada Microsoft jika berhasil mencapai artificial general intelligence (AGI), yakni tingkat kecerdasan AI yang setara atau melampaui manusia. OpenAI sebelumnya mengakui bahwa kemitraan dengan Microsoft sangat penting dalam tahap awal, namun membatasi ekspansi bisnis enterprise. Permintaan terhadap layanan OpenAI pun melonjak sejak tersedia di platform cloud Amazon.
Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Datar Selasa (28/4), Pasar Tunggu Kinerja Big Tech dan Sinyal BOJ CEO Amazon Andy Jassy menyatakan model OpenAI akan segera tersedia bagi pengembang melalui Amazon Web Services dalam beberapa pekan ke depan. Hal ini diyakini akan memberikan lebih banyak pilihan bagi pengguna dalam memilih model AI sesuai kebutuhan. Selain Amazon, OpenAI juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan teknologi lain, termasuk Oracle dan Google Cloud milik Alphabet, serta bermitra dengan Nvidia dalam pengembangan chip. OpenAI juga bekerja sama dengan pemasok Apple, Luxshare, untuk ekspansi perangkat konsumen.
Sementara itu, Microsoft juga mulai mengurangi ketergantungannya pada OpenAI dengan mengembangkan model AI sendiri serta mengintegrasikan teknologi dari pihak lain seperti Anthropic ke dalam produk-produknya, termasuk Microsoft 365 Copilot.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Selasa (28/4) Pagi: Brent ke US$108,68 dan WTI ke US$96,96 Analis menilai, pelonggaran kerja sama ini menguntungkan kedua belah pihak. Microsoft dapat mengurangi kebutuhan investasi besar pada infrastruktur pusat data untuk OpenAI, sementara OpenAI memperoleh fleksibilitas untuk memperluas pasar dan sumber pendanaan. Selain itu, berakhirnya eksklusivitas ini juga berpotensi meredakan tekanan regulator di Amerika Serikat, Inggris, dan Eropa terkait dugaan praktik monopoli dalam pasar cloud dan AI enterprise.